Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #53

Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #53

Menguntai Masa Lalu – 3

Cerita Cinta Dewasa – Kesempatan membeli kado akhirnya datang pada suatu pagi yang agak basah oleh hujan semalam. Kino tidak punya jadwal mengajar kursus, dan tidak punya kegiatan lain.

Seusai mandi dan sarapan, ia memutuskan untuk pergi membeli kado. Berbekal uang secukupnya, ia memutuskan untuk pergi ke pertokoan yang sudah ia kunjungi bersama Indi beberapa waktu yang lalu.

Setelah mengunjungi setengah lusin toko dan kebingungan musti membeli apa, Kino memutuskan untuk kembali ke sebuah toko keramik. Ia berpikir, sebuah vas modern berwarna biru dan ungu mungkin tepat untuk kado perkawinan.

Apalagi ada hiasan sepasang burung kecil di bagian dasar vas itu; mudah-mudahan bisa menggambarkan keserasian suami-istri. Begitulah pikir Kino sambil berbelok.

“Kino!” suara Rima menyentak pemuda itu, membuatnya menghentikan langkah.
“Hei, apa kabar!” seru Kino riang setelah tahu siapa yang berjalan mendekat dengan langkah panjang dan senyum lebar.

“Ngapain kamu di sini?!” sergah Rima sambil tahu-tahu sudah merangkul bahu Kino dan mendaratkan ciuman sekilas di pipi. Kino tak bisa menghindar, tetapi dia juga memang ingin sekali memeluk sobat lamanya ini. Sudah lama sekali rasanya ia tidak berjumpa Rima …

“Kamu semakin gemuk!” sergah Kino sambil mengamati Rima dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rima tertawa, “Menghina, ya!!”

“Tidak!” sahut Kino sungguh-sungguh, “Kamu memang semakin …. semakin … montok!” Tawa Rima tambah keras, “Sialan kamu!”

Mereka berdiri berhadapan, sejenak saling pandang melemparkan segudang rindu. Sekelebatan, hari-hari indah ketika mereka masih melewati hari bersama seperti muncul kembali. Terbayang mereka, bersama Ridwan dan Tigor, duduk di rumput di kampus, bercanda dan saling meledek.

Terbayang mereka kedinginan di puncak gunung, memeluk lutut dan duduk berdempetan memandang senja memerah. Terbayang tawa riang yang memenuhi hari-hari bersama yang penuh kenakalan mahasiswa …

“Kemana saja kamu?” tanya Kino sambil menatap wajah sahabatnya dalam-dalam.
“Sibuk belajar,” ucap Rima pendek, tetapi jelas ia berbohong, karena senyumnya mengembangkan godaan. Kino mencibir, “Sibuk dengan sang dosen!”

“Masih cemburu juga, nih!” kerling Rima sambil merangkul pinggang sahabatnya. Kino mulai melangkah lagi, setengah menyeret Rima bersamanya.

“Kamu jarang ke kampus lagi,” kata Rima. Kino menghela nafas,
“Ya .. aku menunggu semester berikutnya tahun depan, karena sudah ketinggalan jauh.”
“Aku sudah jarang ke kelas, karena sekarang banyak tugas akhir,” kata Rima merendengi langkah Kino.

“Untung ada bantuan dari seorang dosen ..,” ucap Kino tanpa menyembunyikan kesinisannya. Rima tertawa, “Kamu koq cemburu banget kepadanya!” Kino mendengus,
“Dia mencuri sahabatku!” Rima mengeratkan pelukan di pinggang pemuda itu, agak tertatih mengikuti langkah Kino yang lebar.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Jangan begitu, Kino!” katanya sungguh-sungguh, “Kami waktu itu sedang jatuh cinta, menggebu-gebu. Tidak punya waktu untuk orang lain … hahahaha.” Kino tak ikut tertawa,
“Apa maksudmu … ‘waktu itu’ … ?”

“Ya, … waktu itu kami memang sedang getol pacaran!” sahut Rima ringan.
“Sekarang tidak lagi?” tanya Kino.
“Sekarang masih pacaran, dong!” sahut Rima cepat, “Tetapi ngga seperti dulu. Dia sekarang tidak pencemburu lagi.”

“Bagus!” kata Kino, masih sinis. Rima mencubit pinggang pemuda itu pelan,
“Eh .. jangan ngambek terus dong!” Kino tak bergeming. Langkah keduanya kini mulai serasi.
“Kami akan segera menikah!” kata Rima tiba-tiba. Kino menghentikan langkah. Mereka berdiri di depan sebuah kedai kopi.

Kino menatap Rima lekat-lekat. Tidak salahkah yang aku dengar? tanyanya dalam hati. Rima balas menatap dengan mata berbinar. Senyum merebak di seluruh wajahnya yang memang tampak semakin sumringah saja.

“Menikah?” tanya Kino pelan dan penuh ketakpercayaan. Rima mengangguk kuat-kuat. Rambutnya yang kini sebahu tampak begerai ramai.
“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Kino lagi, masih tak percaya.

“Aku, kan, sudah mendekati tahun-tahun terakhir,” jawab Rima, “Gini-gini aku termasuk cermerlang di kelas, lho!” Tentu saja Kino tahu itu. Rima memang tomboy dan urakan. Tetapi ia juga punya otak encer dan bisa belajar penuh konsentrasi.

“Aku mau cerita banyak!” kata Rima lagi, sambil tahu-tahu sudah menyeret Kino masuk ke kedai kopi. Tertatih-tatih dan masih dengan kening berkerut, pemuda itu membiarkan dirinya diajak masuk.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Mas Danu berpendapat, sebaiknya kami segera menikah saja,” kata Rima memulai cerita panjangnya, “Aku sudah diajak bertemu keluarganya kira-kira sebulan yang lalu. Mereka pada dasarnya setuju, dan tinggal mencari waktu untuk berkunjung ke keluargaku.”

Kino diam menyimak sambil mengaduk-aduk kopi susu di hadapannya dengan sendok kecil.

“Sebetulnya aku agak gentar,” lanjut Rima sambil mengangkat muka, menatap sahabatnya sebelum meneruskan,
“Kamu tahu sendiri, kan, keluargaku …”

Kino tak menyahut. Tentu saja ia tahu keluarga Rima yang berantakan, tentang kakaknya yang tewas akibat obat bius, dan ayahnya yang play boy (catatan redaksi: bagi yang belum tahu kisah Rima, silakan menjenguk di sini).

Seperti halnya Andang yang ia kenal saat berkelana sekilas dengan Obenk Sang Troubador, Rima adalah sebuah bukti hidup dari keluarga yang hancur lebur. Keduanya menjadi gadis bebas, bagai burung liar di belantara kehidupan.

Bedanya, Andang menjalani nasibnya dengan kegetiran yang nyaris fatalistis, sementara Rima melawannya dengan ketegaran dan tekad untuk lebih baik. Bedanya lagi, Andang sudah lama kehilangan keperawanannya, sementara Rima -sampai sejauh yang Kino tahu- masih menjaga kegadisannya.

“Aku sudah menguatkan hati,” kata Rima dengan suara pelan, ”
Aku tahu, pasti ayah akan acuh-tak-acuh menanggapi keinginan ku. Paling-paling ia akan berkata ..’terserah’!”

“Lalu, kenapa kamu gentar, kalau memang tahu ayahmu akan setuju saja?” tanya Kino.
“Bukan ayah yang aku kuatirkan, tetapi abangku yang paling tua,” sahut Rima sambil menghirup tehnya. Kino mengernyitkan kening, “Ada apa dengan abangmu?”

“Dia ngga pernah setuju pada apa pun yang aku hendak kerjakan,” jawab Rima dengan kegetiran yang tiba-tiba menyelimutinya, “Dia selalu bersuara minor setiap kali aku hendak melakukan sesuatu yang positif. Bahkan dia sebetulnya menentangku mati-matian ketika aku memutuskan melanjutkan sekolah.”

“Dia ingin kamu juga hancur seperti dia,” kata Kino menyimpulkan sendiri. Rima mengangguk, “Ya .. sepertinya dia tak rela kalau cuma dia sendiri yang hancur tak berguna. Dia bahkan ingin menghancurkan adiknya sendiri. Dia selalu ingin menjerumuskan aku. Mendorongku berbuat yang tidak-tidak.”

Kino menghela nafas, teringat cerita Rima tentang abangnya yang selalu menyediakan kondom dan membawakan film-film biru untuk Rima. Ia tidak bisa menerima dengan akal sehat, mengapa seorang kakak bisa begitu tega ingin menjerumuskan adiknya sendiri.

Semakin lama ia memikirkan hal itu, semakin menjijikkan rasanya. Apalagi jika ia ingat Susi, adiknya sendiri, yang sangat ia sayangi.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Kini aku akan berontak, kalau memang ia ingin menentang,” lanjut Rima kembali dengan ketegasannya, walau wajahnya agak berubah keruh, “Kalau perlu, aku akan lari saja bersama Mas Danu, daripada melibatkan dia dalam urusan keluarga ku yang brengsek!”

“Tidak ada keluarga lain?” sela Kino,
“Misalnya paman atau …. entah siapa …. dari pihak almarhum ibumu?” Rima menggeleng pelan, menunduk dan memainkan sendok di cangkir teh.

“Ayah memutuskan hubungan dengan keluarga ibuku setelah beliau meninggal,” katanya pelan, “Aku bahkan tak pernah tahu, siapa sebenarnya ibu. Pernah ayah keceplosan mengatakan bahwa orangtua ibuku, … kakek dan nenekku … tinggal di Singapura. Tetapi, di mana mereka tepatnya, aku tak pernah tahu.”

“Apakah pacarmu …. Mas Danu … telah tahu semua ini?” tanya Kino hati-hati.

Rima mengangkat mukanya, dan Kino melihat kesedihan di kedua mata sahabatnya yang berucap agak serak, “Sudah … tetapi belum sepenuhnya. Aku justru kuatir kepada keluarga Mas Danu … apakah nanti mereka bisa menerima kenyataan tentang keluargaku.”

Kino mengangkat tangannya dari meja, mengelus pundak Rima untuk menyatakan simpati. Rima tersenyum kecut, “Tidak ada jalan lain bagiku untuk keluar dari kemelut keluarga. Aku harus menempuh risiko ini, Kino … Kalau Mas Danu memang mencintaiku, dia pasti akan menerimaku apa adanya. Tetapi kalau dia tidak mencintai … ya, memang barangkali begitulah nasibku”

Kino mengernyitkan kening, “Mengapa kamu katakan ‘tidak ada jalan lain’?”

Rima menunduk dan menggigit bibirnya. Ia juga menarik nafas berkali-kali, seperti sedang berusaha mengeluarkan gumpalan-gumpalan yang menyumbat dadanya. Kino meremas-remas perlahan bahu sahabatnya, berusa sebisanya memberikan bantuan apa pun yang bisa ia kerjakan.

Ketika Rima mengangkat mukanya, Kino melihat airmata menggenang. Pemuda itu tiba-tiba menyadari, apa yang ingin diucapkan dan diceritakan oleh Rima ternyata bukan hanya kebahagian tentang pernikahan mendatang, tetapi juga kegetiran yang amat sangat.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kalau kamu belum mau bercerita, tak apa-apa ..” bisik Kino,
“Kita bicara tentang yang lain saja ..” Rima menggeleng kuat-kuat. Sebutir air matanya sempat terlempar, menetes keras di lengan Kino.

“Aku memang ingin bercerita. Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa, dan entah memang sudah diatur olehNya .. aku bertemu kamu. Aku ingin bercerita panjang lebar, Kino!” sergah Rima sambil menghapus air matanya dengan saputangan hijau muda.

Kino melihat ke sekeliling. Kedai kopi sudah agak ramai oleh orang-orang yang tampaknya enggan sarapan di rumah. Sebagian besar tampaknya adalah para pegawai dari kantor-kantor yang ada di dekat pertokaan.

“Kamu mau cerita di sini, atau ….,” Kino tak sempat melanjutkan ucapannya.
“Tidak,” sela Rima, “Mau kah kamu menemaniku jalan-jalan sambil ngobrol?”

Kino mengangguk, tetapi lalu ingat bahwa ia harus membeli kado. Sejenak ia menimbang-nimbang, apakah akan membeli kado dulu baru berjalan-jalan dengan Rima. Lalu ia memutuskan, sebaiknya menemani Rima dulu karena itu jauh lebih penting. Toh aku bisa membeli kado sepulang dari jalan-jalan! katanya dalam hati.

Maka mereka pun keluar dari kedai, berjalan berendengan menuju entah kemana saja kaki mereka melangkah.

Rima menunduk seperti sedang mengukur jalan dengan langkahnya yang agak gontai. Di tengah keramaian yang mulai terbentuk pagi itu, Rima berucap pelan ..

“Aku hamil, Kino!”

Kino mendengarnya seperti sebuah gelegar meriam. Langkahnya langsung terhenti, dan tangannya secara reflek mencekal pergelangan sahabat di sebelahnya.

Rima ikut berhenti melangkah, membuang pandangannya dari tatapan Kino. Melihat ke seberang jalan, tetapi tak memandang apa-apa. Wajahnya menampilkan bias kepasrahan sekaligus ketegaran.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Hamil?” bisik Kino seperti tak pernah mendengar kata itu sebelumnya.

Rima tak menjawab dan tetap mengalihkan pandangannya dari tatapan Kino. Ia tahu, pemuda di sebelahnya ini pasti kaget setengah mati. Itulah sebabnya, ia menyampaikan kabar gembira terlebih dahulu, tentang rencana pernikahan mereka.

Kabar buruknya ia sampaikan belakangan agar tak terlalu mengejutkan. Tetapi …. ah, Kino pasti kecewa! sergah Rima dalam hati.

“Itu kah sebabnya kamu ingin menikah?” tanya Kino pelan, dan ia pun segera menyadari betapa bodoh dan konyolnya pertanyaan itu. Rima menengok dan memandang pemuda di sebelahnya.

Ia tersenyum kecut dengan wajah yang tetap keruh, “Apakah aku punya pilihan lain?” ia balik bertanya. Kino menatap mata sahabatnya yang kini bagai sumur tak berdasar. Pemuda itu menggeleng dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Mas Danu tahu aku hamil, dan ia ingin bertanggungjawab. Itu sudah cukup bagiku,” kata Rima sambil mulai melangkah lagi diikuti Kino yang belum melepas pegangannya di pergelangan gadis itu.

“Dia memang sempat terpukul,” lanjut Rima dengan nada kecut, “Semua pria rupanya memang begitu … terkejut jika tahu diri mereka harus bertanggungjawab.” Kino tak bisa menolak kebenaran yang menggetirkan di dalam kalimat Rima. Pemuda itu membisu saja.

“Aku sendiri bingung ketika tahu bahwa aku hamil … Aku terlalu terpikat kepadanya, sehingga selama berpacaran tak sempat berpikir normal,” kata Rima, kali ini sudah dengan agak tenang. Ia memang ingin bercerita sepuasnya, melepaskan semua yang selama ini ia simpan.

“Aku bisa mempertahankan keperawananku dengan pacar-pacarku,” lanjut Rima,
“Tetapi dengan Mas Danu …. aku mabuk kepayang, Kino. Aku serahkan kegadisanku pada sebuah percumbuan yang tergesa-gesa. Aku bahkan tidak memintanya memakai kondom …., padahal aku punya kondom di tasku!” Kino menelan ludah, menghilangkan rasa kering yang tiba-tiba melanda kerongkongannya.

“Kamu ingin tahu di mana aku kehilangan kegadisanku?” tanya Rima. Kino terperangah. Apakah tempat itu kini relevan, setelah sebuah kegadisan sirna dalam percumbuan?
“Di kampus … di kantor Mas Danu, ketika ia kerja lembur!” kata Rima dengan kejelasan yang terasa janggal.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kino semakin terperangah. Betapa ironisnya. Rima yang ia kenal adalah Rima yang hidup bebas di alam lepas, keluar-masuk disko, naik gunung, berenang setengah telanjang di pantai, biasa tidur di kamar kost pacar-pacarnya … tetapi justru kehilangan keperawanannya di kantor seorang dosen!

Betapa kontrasnya hidup ini. Betapa tipisnya ambang benar-salah dan teori-praktek di dunia nyata ini.

“Kamu pasti kecewa sekali …,” kata Rima pelan.
“Tidak!” jawab Kino cepat, dan agak mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. Rima tertawa getir, “Kamu cuma bersikap sopan di depanku,”

“Tidak, Rima!” sergah Kino sambil mempererat cekalan tangannya, “Aku memang kaget … tetapi tidak kecewa!” Rima meringis, dan Kino tersadar telah mencekal terlalu erat. Buru-buru ia melepaskan cekalan tangannya. Tetapi secepat itu pula Rima balik merangkul lengan pemuda itu.

“Tidak kecewa …,” kata Rima mengulang kalimat Kino,
“Apakah itu artinya kamu rela aku menyerahkan kegadisanku kepada Mas Danu?”

“Tidak,” sahut Kino cepat, tetapi ia lalu buru-buru meralat, “Maksudku … ya … eh, bukan begitu. Maksudku, aku tidak mempersoalkan kegadisanmu!”

Rima tertawa kecil dan getir, “Kamu anggap gadis-tidaknya aku bukan persoalan?”

“Eh .. bukan begitu!” sahut Kino tergagap, “Kegadisan tentu saja penting … tetapi, maksudku …. bagaimana, begitu … Aku rasa kamu … Bagaimana pun … maksudku ….”

Rima tertawa, kali ini lebih lepas, mendengar Kino gelagapan menjawab dalam kalimat yang tak beraturan. Menyadari Rima menertawai kegelagapannya, pemuda itu bersungut-sungut,
“Kenapa pertanyaannya susah-susah, sih!”

Rima meraih kepala pemuda yang 10 cm lebih tinggi darinya itu. Sambil tertawa kecil, ia mengacak-acak rambut Kino seperti seorang kakak mempermainkan adiknya. “Dari dulu kamu ngga pernah tegas kalau menjawab pertanyaan tentang aku!” sergahnya.

Kino membiarkan rambutnya diacak-acak, merasakan kehangatan persahabatan di antara dirinya dengan Rima meruyak memenuhi suasana jiwa yang terusik oleh kabar-kabar tak terduga ini.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Tetapi aku mengerti maksudmu, Kino!” kata Rima akhirnya.
“Mengerti apa? Aku belum bilang apa-apa!” sahut Kino masih bersungut-sungut.

Rima tertawa lagi, tiba-tiba merasakan dadanya sangat lapang setelah mengeluarkan kegundahan. “Aku mengerti bahwa kamu kecewa …. kecewaaaaaaaa sekali. Mungkin juga kamu marah kepada Mas Danu yang telah begitu ceroboh. Tetapi, berhubung kamu sayang sama aku … maka …. ”

Rima tak melanjutkan ucapannya, mempererat rangkulannya ke lengan pemuda sahabat yang ia sangat sayangi itu.

Kino membiarkan Rima mengambil kesimpulan seperti itu. Dalam hatinya Kino berucap … biar saja ia mengambil kesimpulan apa pun yang ia sukai. Saat seperti ini adalah saat yang membingungkan, bukan saja buat Rima atau Danu, tetapi juga buat diriku. Apa bedannya aku dengan Danu? tanya hati kecilnya.

Aku juga tidak memakai kondom ketika berhubungan dengan Trista … aku tak banyak menggunakan akal sehat ketika bergumul dengannya … aku menikmati setiap senti tubuhnya tanpa mau ada bungkus apa pun … Apa bedanya aku dengan Danu???

“Kamu sayang sama aku, kan?” desak Rima melihat Kino diam saja.
“Ya,” jawab Kino pendek.

“Mau dengar cerita lagi, ngga?” tanya Rima, tetapi Kino sudah tahu jawabannya karena nada pertanyaan itu penuh rajukan dan permohonan yang tak mungkin bisa ditolak.

Maka Rima pun melanjutkan cerita. Tentang hubungan mereka yang semakin lama semakin jauh dan semakin mendalam. Tentang perubahan sikap Danu, dari orang yang sangat posessive dan pencemburu menjadi kekasih yang penuh pengertian dan perhatian. Rima mengatakan, setelah ia menyerahkan kegadisannya, Danu semakin sayang dan semakin lemah lembut.

Selain itu, mereka juga semakin tak terkendali, berhubungan badan setiap kali ada kesempatan. Lebih sering mereka melakukannya di rumah kontrakan Danu, tetapi terkadang juga mereka mengambil risiko dengan masuk ke motel atau berhubungan di mobil yang diparkir di tempat-tempat gelap.

Sepanjang cerita Rima yang serba terbuka itu, dengan getir Kino melihat banyak sekali persamaan kisah itu dengan kisah cintanya bersama Trista. Begitu banyak kisah-kisah memabukkan yang bagai cermin jernih dari kehidupan cintanya sendiri.

Bedanya, kini Rima punya kesempatan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih formal. Tentu saja, ada risiko … misalnya, kalau tiba-tiba keluarga Danu menolak. Tetapi setidaknya Rima masih punya kekasih di sampingnya pada saat yang menggalaukan seperti ini. Setidaknya Danu sudah berani bertanggungjawab.

Sedangkan aku? bisik Kino dalam hati. Aku sendirian menghadapi kegalauan yang kita ciptakan bersama. Kau jauh di sana, di negeri orang bersama suami mu yang sah .. sementara aku di sini menghadapi hari-hari yang menguntai masa lampau dalam seribu pertanyaan tak terjawab.

Dengan diam yang menggundahkan, Kino mendengarkan semua cerita Rima secara seksama. Sambil mendengarkan, ia membiarkan pula percakapan di hatinya berkecamuk, mencoba mencari makna yang lebih tegas tentang “cinta”. Apakah sesungguhnya ada makna yang jernih, tegas, terang, jelas, tak berwasangka … Apakah ada????

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Tanpa sadar, Kino dan Rima telah berjalan jauh meninggalkan pertokoan. Mereka akhirnya duduk di sebuah bangku dekat sebuah lapangan bola untuk umum. Rima tampak berkeringat, tetapi wajahnya kini jauh lebih cerah daripada ketika ia memulai ceritanya.

Kino lebih banyak termangu-mangu, melupakan gerah yang membungkus tubuhnya seperti kepompong membungkus calon kupu-kupu.

“Kamu pasti bosen, yaaa!” sergah Rima sambil mencubit pelan pinggang pemuda di sebelahnya. Kino menggeliat kecil, “Tidak … tidak bosan. Tetapi bingung …,” jawabnya terus terang.

Rima menghela nafas panjang dan melepaskannya dalam sekali hempasan, “Yaa .. memang membingungkan. Hidup ini seluruhnya … semuanya … sepenuhnya … membingungkan!”
“Mungkin seharusnya memang begitu,” kata Kino asal-asalan.

Rima mencibir, “Jawaban kamu juga membingungkan!” Kino tertawa, “Lho .. aku, kan, memang bingung. Aku sudah mengaku sejak awal!” katanya membela diri.
“Boleh aku bertanya terus terang, Kino?” tanya Rima tiba-tiba.

“Boleh!” jawab Kino, lalu buru-buru menyambung, “Asal jangan terlalu susah jawabannya!”
“Tetapi kamu harus terus terang,” kata Rima lagi.

“OK .. aku akan terus terang,” jawab Kino sambil berpikir, apa gerangan pertanyaan Rima itu.
“Kalau dulu aku menyerahkan kegadisan ku kepada kamu, apakah kamu mau?” tanya Rima sambil memandang lekat-lekat pemuda di sebelahnya, seakan takut kalau tiba-tiba pemuda itu lenyap tak berbekas.

Kino terperangah, dan menengok tak percaya kepada sahabatnya. Rima terus menatapnya dengan matanya yang tajam dan penuh tantangan dan keterusterangan dan juga kehangatan seorang yang telah lama sekali dikenalnya.

“Pertanyaan apa itu?” sergah Kino.
“Lho .. kenapa malah balik bertanya, sih!?” sergah Rima sambil memelotokan matanya yang sama sekali tak menakutkan itu.

“Pertanyaan mu terlalu susah!” sergah Kino membela diri.
“Pokoknya jawab!” desak Rima sambil mencubit lengan Kino dan mengancam akan mencubit lebih keras lagi.

“Tetapi kamu, kan, tidak menyerahkan kegadisanmu kepadaku!” sahut Kino bersikeras.
“Memang tidak!” kata Rima cepat,
“Aku bertanya ‘ k a l a u ‘ .. seandainya dulu aku menawarkan kegadisanku.”

“Aku tak tahu, karena itu semua cuma ‘ k a l a u ‘ .. bagaimana aku bisa menjawab?”
“Kamu tidak pernah tertarik bercumbu denganku?”
“Ah! .. Kamu sudah tahu jawabanku. Pura-pura tidak tahu saja!”
“Kenapa dengan Trista kamu mau?” Kino tersentak. Darimana Rima tahu bahwa dia dan Trista sudah berhubungan begitu jauh?

“Darimana kamu tahu bahwa aku berhubungan begitu jauh dengan Trista!?” sergah Kino tanpa pikir panjang. Rima tertawa tergelak, dan Kino merasakan mukanya merah padam setelah tahu bahwa si tomboy yang sedang hamil itu ternyata memancingnya untuk mengaku! Ternyata kalimat terakhir itu adalah sebuah tebakan yang tersembunyi!

“Sialan kamu!” sergah Kino sambil meraih leher Rima dan memitingnya secara main-main. Rima membiarkan dirinya diraih ke pelukan pemuda itu, sambil terus tertawa riang karena berhasil mengorek pengakuan tak langsung tentang hubungan sahabatnya itu dengan Trista.

“Jawabanku atas pertanyaanmu adalah: tidak mau. Biar dibayar 1 milyar, aku tidak mau tidur dengan kamu!” kata Kino sambil mengacak-acak rambut Rima.

“Apa, sih, kelebihan Trista dari yang lain?” goda Rima sambil melepaskan diri dari pelukan Kino.
“Dia tidak centil seperti kamu!” sahut Kino cepat sambil melepaskan pelukannya dan merapikan duduknya.

“Maksudku … dalam soal hubungan seks .. apa, sih, kelebihan Trista?” desak Rima yang kini telah kembali dengan kenakalan dan godaan-godaannya.

“No comment!” sergah Kino seperti seorang pejabat menghindari desakan wartawan. Rima tertawa senang, “Apa, sih, bedanya dengan …. misalnya … dengan Alma!”
“Aku tidak tahu … Aku tidak pernah berhubungan seks dengan Alma!” jawab Kino terus terang.

“Bohong!”
“Terserah … mau percaya atau tidak!”

“Dengan Indi?” Kino menoleh dan menemukan kedua mata Rima mengerling nakal, penuh dengan sinar kemenangan, selain sinar lembut yang memang sering terlihat di mata orang hamil.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Ada apa dengan Indi?” Kino balik bertanya. Rima tersenyum manis, “Kamu tidak sayang kepadanya?”

“Hei!” sergah Kino, “Apa hubungannya semua ini dengan cerita kamu dan rencana pernikahan kamu?”

“Aku, kan, perlu mengirim undangan!” sahut Rima cepat.
“Ya, tentu … Tetapi apa hubungannya dengan Indi?”
“Aku cuma ingin tahu, lho .. apakah di undangan nanti harus ditulis untuk Kino dan Indi … begitu!”

Tahu bahwa Rima hanya bermaksud menggoda, Kino meraih lagi leher gadis itu dan memitingnya lebih keras, membuatnya menjerit-jerit minta ampun. Untung saja lapangan bola tidak sedang berpenghuni, dan tempat mereka duduk agak tersembunyi.

Kalau tidak, mungkin sebentar lagi Kino akan ditangkap hansip dengan tuduhan mencoba mencelakai seorang wanita!

Di tengah canda-canda seperti ini, seringkali datang kenyataan-kenyataan yang mengundang tanya. Betapa benarnya persoalan yang diangkat oleh Rima, walau dengan godaan dan ke-tidak-serius-an.

Rima memang perlu bertanya: kepada siapa kah sebetulnya Kino jauh cinta … Kepada Alma yang datang dari masa SMA-nya … Kepada Trista yang membangkitkan kenyataan-bergairah … Kepada Indi yang muncul seusai galau …

Atau tidak kepada siapa-siapa?

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Setelah melepas lelah cukup lama, Kino teringat tujuan utamanya pagi ini: membeli kado untuk pernikahan Alma dan Devan. Ia mengajak Rima ikut serta, dan sahabatnya itu mengiyakan.

Maka berendengan lah mereka, berjalan santai kembali ke pertokoaan yang telah mereka tinggalkan dua jam silam. Percakapan pun bertukar-tukar topik, tidak lagi sepenuhnya membicarakan kisah cinta.

“Bagaimana dengan kuliahmu, Kino? Apa rencana mu?” tanya Rima sambil mengayun-ayunkan tangan pemuda yang ia gamit di sebelahnya.

“Tahun ajaran baru nanti aku akan kuliah lagi. Praktis aku harus mengulang, dan tertinggal dua semester dari yang lain,” jawab Kino, “Tetapi aku sudah siapkan semua. Orangtua ku juga sudah membelikan meja gambar dan peralatan lainnya. Mudah-mudahan segalanya berjalan lancar.”

“Aku dengan kamu sekarang bekerja part time?” tanya Rima.
“Ya,” kata Kino tertawa kecil, “Enak juga rasanya … punya penghasilan sendiri walaupun cuma sedikit!”

“Kalau nanti sudah kuliah lagi, apakah mau kerja terus?”
“Barangkali ‘ya’ .. kalau memang ada waktu, aku ingin terus mengajar kursus. Lumayan untuk nonton atau membeli kaset.”

“Aku juga ingin segera lulus dan bekerja,” ujar Rima sambil mengibaskan rambut dari mukanya.
“Kamu harus menunggu sampai bayi mu lahir,” kata Kino. Rima tertawa kecil,
“Ya! .. aku juga sudah tidak sabar menunggu dia lahir!”

“Laki-laki atau perempuan?” tanya Kino. Rima tertawa lebih keras, “Ah, kamu ngaco! .. Aku belum tahu, karena baru hamil sebulan!” Kino menatap sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Kamu tidak kelihatan sedang hamil ..,” ucapnya. Rima merajuk,
“Kelihatan seperti apa, sih, aku ini?”
“Seperti …..,” Kino menghentikan ucapannya, berpikir keras mencari kata-kata yang tepat.
“Seperti apa?” desak Rima.

“Seperti seseorang yang baru pulang dari berlibur!” sahut Kino sekenanya. Rima mencubit lengan pemuda di sebelahnya, “Kamu menjawab asal-asalan! Apa hubungannya aku dengan liburan!”

“Maksudku, kamu tampak cerah!” jawab Kino membela diri sambil meringis, “Kamu seperti seseorang yang baru kembali dari istirahat panjang.”

Rima tertawa senang. Sesungguhnya lah ia senang mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia memang merasa sedang lepas dari sebuah peristirahatan panjang. Ia telah cukup lama beristirahat melenakan diri bersama Danu, dan kini sedang menerima hasil dari kelenaan itu dalam sebentuk jabang bayi yang tumbuh perlahan namun pasti.

Mereka tiba di toko yang tadi hendak dikunjungi Kino. Setelah berdiskusi sejenak dengan Rima, pemuda itu menetapkan keputusannya membeli vas biru-ungu dengan gambar sepasang burung kecil di dasarnya. Menurut Rima, pilihan Kino itu menunjukkan cita-rasa artistik.

Sambil tertawa, Kino mengatakan tak percuma ia memilih jurusan arsitektur. Penjaga toko tersenyum mendengar percakapan kedua sahabat itu. Ia juga tersenyum dengan alasan lain: .. vas itu berhasil dijualnya dengan harga 5% lebih mahal dari seharusnya!

Setelah membayar dan meminta penjaga toko membungkus vas itu dengan kertas kado, Kino memutuskan untuk melanjutkan obrolan di tempat kost Rima. Mereka naik angkot meninggalkan pertokoan yang kini sudah hiruk pikuk itu.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Rima menyewa sebuah paviliun di bilangan kota B yang cukup elit. Berbeda dengan tempat kost Kino yang cuma sebuah kamar plus kamar mandi, tempat tinggal Rima dilengkapi ruang tamu sekaligus ruang belajar dan sebuah dapur kecil.

Letaknya agak terpisah dari rumah induk, tetapi masih dalam satu halaman berlingkungan tembok. Sebuah taman yang asri tampak terawat di sebelah paviliun itu, tepat di bawah jendela kamar tidur Rima.

Bukan baru kali ini Kino berkunjung ke tempat kost Rima. Tetapi inilah pertama kali ia kembali menjenguk setelah hampir setahun ia tidak mampir. Dengan agak kikuk, pemuda itu masuk mengikuti Rima.

“Kamu, koq, seperti orang kebingungan, sih!?” sergah Rima sambil menyeret tangan pemuda itu.

“Berbeda dengan yang dulu …,” kata Kino pelan seperti kepada dirinya sendiri.
“Ah, apaan nya yang beda!” ujar Rima, “Dari dulu memang sudah begini.”
“Dulu cat temboknya kuning ..,” kata Kino lagi. Rima tertawa sambil meninggalkan Kino termangu di ruang tamu yang apik.

“Kamu betul-betul ngaco!” terdengar suara Rima dari dalam, “Dari dulu tembok paviliun ini berwarna putih! Belum pernah berganti warna. Emangnya bunglon!”

Kino menghempaskan tubuhnya di sofa, meregangkan otot yang lumayan letih setelah berjalan lumayan panjang. Ia juga menghela nafas dalam-dalam menikmati udara segar setelah terpanggang matahari terik di luar sana. Tanpa kesungkanan lagi, Kino membuka sepatunya dan merebahkan tubuhnya di sofa yang terasa sejuk.

Sepuluh menit kemudian, Rima muncul dengan sebuah baki berisi dua botol minuman ringan. Ia juga sudah berganti baju, tidak lagi bercelana jeans dan berkaos. Sebuah daster longgar kini membalut tubuhnya, tanpa sepenuhnya menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan.

Kino tetap merebahkan tubuhnya. Rima duduk di lantai dekat kepalanya, menyerahkan botol minuman lengkap dengan sedotannya. Dengan segera keduanya meneguk lebih dari setengah isi botol masing-masing. Dahaga segera hilang, berganti kesegaran yang menyejukkan dada.

“Mau gado-gado?” tanya Rima sambil mengacak-acak rambut Kino.
“Kamu saja … Kamu yang sedang ngidam, kan?” sahut Kino. Rima mencubit hidung Kino,
“Sialan kamu! Aku belum merasakan apa-apa, bego!”

Kino tertawa, “Aku pikir kamu sudah mulai ngidam … Mungkin perlu durian atau rujak cingur!” Rima bangkit menuju dapur sambil berteriak ke arah rumah utama,”Bi Inem … tolong belikan gado-gado dua bungkus!”

Kino menggerutu sendirian dengan suara pelan, “Aku belum lapar, dipaksa makan gado-gado. Dasar orang hamil!” Rima muncul kembali dan tanpa aba-aba langsung merebahkan tubuhnya terlentang di sebelah Kino. Sudah tentu tak ada tempat cukup untuk dua orang di sofa panjang itu. Maka tubuh Rima lebih banyak ada di atas tubuh Kino katimbang di atas sofa.

“Apakah orang hamil selalu aneh-aneh begini?” keluh Kino sambil menggeliat menggeserkan tubuhnya lebih ke tengah. Rima tertawa. Bahu dan bagian atas tubuhnya berguncang-guncang.

“Sekali-sekali kamu mau, dong, ditimpa orang hamil!” katanya.
“Untung baru hamil sebulan …,” gerutu Kino. Rima tertawa lebih keras lagi,”Aku kangen kepada mu Kino. Dulu kamu yang sering menggendong kalau aku capek naik gunung!” Kino tertawa kecil, teringat kisah manis ketika dulu mereka masih sering naik gunung.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Ingat waktu aku nangis di lereng Burangrang?” tanya Rima sambil menatap langit-langit, menikmati tidur di atas tubuh atletis sahabatnya.

“Ingat,” jawab Kino sambil mengenang saat itu, “Kamu tersesat karena ngotot mau pipis sendirian tanpa mau diantar siapa-siapa.” Rima tergelak,,”Iya! .. Aku masih keras kepala dan bandel sekali waktu itu. Aku masuk ke hutan karena mendengar ada suara gemercik air. Aku pikir di dekat-dekat situ ada kali kecil untuk cebok!”

“Padahal kali itu jauh di dasar jurang. Suaranya terdengar nyaring karena itu bukan kali kecil!” sambung Kino. Rima sejenak bergidik, “Ihh .. ngeri juga kalau ingat waktu itu aku hampir jatuh!”

“Sebenarnya itu salah kami juga,” kata Kino, teringat bahwa waktu itu rombongannya terdiri dari tiga orang veteran pendaki termasuk dirinya dan selusin pendaki pemula termasuk Rima.

“Aku menangis karena setelah setengah jam berputar-putar, aku tak menemukan kali itu. Lalu aku pipis di bawah pohon besar dan …..,” Rima menghentikan ceritanya, bergidik lagi. Kino tertawa, “Aku ingat kamu berteriak-teriak karena pantat kamu diserbu lintah!”

Rima tergelak, sekaligus juga bergidik bila ingat peristiwa mengerikan dan menjijikkan itu. Sejak peristiwa itu lah, ia tak pernah lagi sembarangan buang air di gunung, dan selalu minta diantar Kino atau yang lainnya.

Riang dan penuh warna … satu demi satu kepingan masa lalu datang bergantian dalam percakapan Rima dan Kino. Keduanya seperti sedang memutar sebuah koleksi film tentang tahun-tahun silam. Betapa indahnya masa itu, ketika tak seorang pun di antara mereka memikirkan apa-apa selain diri mereka sendiri.

Ketika semua canda dan tawa hanya berpusat pada kehidupan belia dan seputar kampus. Mana ada kegundahan waktu itu … semuanya berjalan lancar seperti lancarnya air sungai bening di gunung. Tak ada pikiran tentang cinta yang rumit, atau tentang kehidupan yang tak selalu memenuhi janji, atau tentang politik yang membingungkan … semuanya indah belaka.

Betapa bedanya saat ini. Kini ada saja hal-hal yang memerlukan pemikiran mendalam. Ada saja keputusan yang harus diambil dengan lidah yang terasa pahit. Ada saja peristiwa pelik yang terbawa sampai ke mimpi.

Setelah tertawa-tawa hampir setengah jam, keduanya terdiam kehabisan nafas. Keduanya menerawangkan pandangan ke langit-langit. Suasana tiba-tiba sepi, kecuali oleh teriakan beberapa penjual makanan atau alat-alat dapur di luar.

Lalu terdengar Rima menghela nafas panjang, dan dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya, menelungkup di atas tubuh Kino, menghenyakkan dadanya yang kini mulai subur.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Aku selalu ingin kembali ke masa-masa itu, Kino …,” bisik Rima sambil merebahkan kepala di dada sahabatnya Kino tersenyum, mengusap rambut gadis yang dulu selalu minta dipeluk sebelum tidur di dalam sleeping bag di puncak gunung.

“Mustahil …,” kata Kino, tetap menerawangkan mata ke langit-langit, “Tidak mungkin bisa, kecuali kalau film Back to The Future bisa jadi kenyataan.” Rima tertawa, mempererat pelukannya,
“Mungkin sudah ada orang yang berhasil membuat mesin waktu, entah di negara mana ..,” katanya.

“Kalau pun ada, aku tak mau memakainya,” kata Kino. Rima mengangkat mukanya dari dada pemuda itu,”Kenapa? Tidak ingin kah kamu kembali ke masa lalu?”

Kino menunduk, menatap wajah sahabatnya dekat sekali di mukanya, “Aku tidak bisa memastikan, ke bagian mana dari masa lampau itu aku ingin kembali.”

Rima melipat kedua tangannya di atas dada Kino, menyandarkan dagunya di kepalan tangan,
“Kembali ke saat pertama-tama kita membentuk persahabatan,” usulnya. Kino tersenyum, memainkan anak rambut di dahi Rima,”Ke masa perploncoan?”

Sinar mata Rima langsung berbinar riang,”Ya! .. ke saat-saat perploncoan. Kamu mau kembali ke sana?”
“Boleh juga!” sahut Kino.

“Ayo kita kembali ke masa itu, lalu kita perbaiki hal-hal yang selama ini salah!” ujar Rima bersemangat. Kino tertawa, “Kamu boleh berhayal seenaknya … tetapi tetap sebagai hayalan!”

Rima ikut tertawa dan Kino senang sekali melihat wajah sahabatnya telah berubah menjadi wajah riang yang dulu ia kenal. Ah .. tanpa harus sungguh-sungguh kembali ke masa lalu, mereka toh bisa melihat masa lalu itu di wajah masing-masing.

Kalau kita sungguh-sungguh mengenang masa lalu, kita toh akan bisa melihat semuanya di mata kita masing-masing. Kino melihat di sepasang mata sahabatnya, betapa indah masa itu. Bening dan transparan, kedua mata Rima menyiratkan gambar-gambar seperti sebuah proyektor memproyeksikan film di layar putih.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Lalu Rima menaikkan tubuhnya lebih tinggi, dan tanpa dapat dicegah ia mencium Kino di bibirnya. Sejenak suasana berubah hening. Keduanya menikmati ciuman lembut yang berbalut rindu kepada masa lampau. Rima memejamkan matanya. Kino memandang takjub wajah yang dekat-lekat.

Nafas keduanya beralun teratur. Tidak ada ketergesaan. Tidak ada perburuan. Ciuman itu benar-benar selembut kapas sehalus sutra. Lalu Rima membuka matanya. Sepasang sahabat itu bertatapan dalam jarak yang tak punya makna. Sebentuk air bening merebak di kelopak mata Rima ketika ia berbisik,

“Terimakasih untuk persahabatan ini, Kino …”

Kino tak menjawab. Dengan rasa sayang yang kini penuh merebak di dadanya, pemuda itu merengkuh Rima dan memeluknya erat-erat. Perlahan ia merasakan airmata gadis itu mulai membasahi kaosnya. Untuk beberapa jenak, keduanya berpelukan seperti layaknya sepasang sahabat yang sudah lama tak berjumpa.

Ketika terdengar suara Bi Inem membuka gerbang luar, barulah keduanya memisahkan diri. Tanpa sepatah kata, Rima bangkit menghapus air mata dan merapikan dasternya, lalu menuju dapur untuk menyiapkan piring dan sendok-garpu.

Mereka makan dalam sepi yang menggigit.

Lalu Kino berpamitan. Rima melepaskannya dengan ciuman ringan di pipi. Pemuda itu pun melangkah keluar, menyambut terik dan gersang yang datang menyerbu.

Tetapi tentu saja ia tak peduli pada semua rasa fisik ini. Ia tak bisa lagi peduli kepada panas atau debu, manakala rasa jiwanya telah begitu luluh dalam kenangan-kenangan masa lampau.

Di atas angkot, Kino memandang kado di tangannya. Minggu depan ia harus ke ibukota untuk menghadiri pernikahan Alma dan Devan. Ia sudah bisa menduga, pertemuan dengan Alma nanti pastilah akan menguntai kembali masa lalunya. Apalagi di ibukota juga ada Mba Rien…

*** Cerita Cinta Dewasa ***

(Dikunjungi 1,159 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya