Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #51

Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #51

Menguntai Masa Lalu – 1

Cerita Cinta Dewasa – Surat dari kampung halaman yang mengingatkan Kino pada acara pernikahan Alma di ibukota ternyata hanya satu saja dari serangkaian kejadian yang seakan melemparkan pemuda itu ke masa lalunya …

Dua hari kemudian, pemuda itu menerima sepucuk kartu pos bergambar langit biru dan seekor burung camar yang terbang sendirian. Dengan penuh tanya, Kino membulak-balik kartu pos misterius itu, mencari pesan apa yang tertulis di sana.

Tidak ada tulisan apa pun di bagian yang biasanya berisi kabar dari si pengirim. Juga tidak ada tulisan apa pun di bagian alamat pengirimnya, kecuali sebuah peringatan yang di-stempel-kan, berbunyi: SENDER NOT KNOWN berwarna merah.

Kino mengamati gambar di kartu pos itu. Kini ia mendapatkan kesan kuat dari sana. Langit biru dan burung yang sendirian … Kosong dan sepi. Biru dan sendu. Sendiri dan gundah.

Dengan berdebar, Kino mengamati perangko-perangko yang tertempel di pojok kanan atas. Jantungnya berdegup keras ketika menyadari dari mana perangko-perangko bergambar Ratu Elizabeth dan jam raksasa Big Ben itu berasal. Apalagi stempel cap pos menegaskan darimana kartu pos itu dikirim.

London!

Terduduk di dipan di kamarnya, Kino mendekap kartu pos itu di dadanya, seakan dengan demikian ia bisa meredakan debur jantungnya. Sebuah rasa sakit samar-samar menyeruak dari uluhati, naik ke dadanya, dan menyekat di tenggorokannya.
“Trista!”, desis Kino sambil memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa perih.

Tidak ada orang lain di London yang tahu alamatnya, selain bidadari itu! Tidak ada orang lain yang bisa mengirim rasa sunyi dan rindunya, selain wanita mempesona yang tercerabut dari kisah indah yang mereka jalani bersama dulu!

Kino menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kartu pos terlepas dari genggamannya, melayang cepat sebelum terhempas di lantai dingin.

Terlentang, pemuda itu memandang nyalang langit-langit kamar yang berwarna putih buram. Langit-langit itu kini berubah menjadi sebuah layar lebar. Dan sebuah film bermain di layar itu ….

Trista menyibakkan anak rambut yang tergerai di keningnya, tersenyum manis dan memandang penuh kehangatan. Cantik sekali ia, sekaligus menggairahkan dan mengundang rengkuhan sepenuh badan. Kedua matanya, pusat dari segala perasaannya, berbinar lembut sekaligus tegas. Hanya ada kerinduan dan sayang dan kemesraan di sana.

Bening memberikan gambaran dasar-dasar jiwanya yang terdalam. Indah bagai sengaja tercipta untuk menampilkan diri secara mempesona!

Trista tertawa renyai, membiarkan seluruh tubuhnya berguncang lembut, melepaskan keriangannya. Angin meniup rambutnya berkibar ramai. Bahunya bergerak-gerak seperti orang menari.

Seluruh wajahnya menyemburatkan keriangan yang tersebar ke segala penjuru. Setiap kali ia tertawa seperti itu, Kino selalu ingin menarik tubuhnya, merengkuh bahu yang mulus itu, mendekapnya sekuat tenaga!

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Trista tergeletak di hamparan rumput biru, membiarkan rambutnya tergerai lepas menjadi bingkai dari wajahnya yang jelita. Kedua tangannya tergolek leluasa di atas kepalanya, membuat dadanya membusung menantang.

Bahkan gaya grafitasi pun tak mampu menyembunyikan bukit indah yang mencuat kenyal di balik baju tipis putih. Salah satu kakinya tertekuk, membuat rok panjangnya tersingkap sebatas paha, menampilkan keindahan pualam mulus. Senyum tetap tersungging di bibirnya yang merekah basah. Betapa kuatnya undangan di balik kepasrahan itu!

Kino memejamkan matanya kuat-kuat. Bayangan-bayangan di langit-langit itu hanya membangkitkan kesenduan yang menusuk.

Tidak ada yang sensual atau erotik di sana, walau pemuda itu masih bisa dengan jelas membayangkan tubuh telanjang yang bermandi peluh, yang ia ciumi penuh nafsu, yang ia peluk penuh birahi, yang ia selami berkali-kali. Tidak ada erotisme di bayangan-bayangan itu! Yang datang justru perasaan sakit tertusuk sembilu!

Sesungguhnyalah, sejak kecelakaan dan sejak bidadari itu menghilang ikut suaminya ke London, Kino berusaha sekuat tenaga membuang bayang-bayang Trista dari kehidupannya. Tetapi sungguh gegabah lah ia, kalau menyangka bahwa usaha itu mudah.

Sama sekali tidak! Sama sekali tak mungkin! Bayangan-bayangan itu datang seperti kabut di pagi hari, seperti rembulan di malam hari, seperti debu di siang hari.

Apalagi kalau Trista mengirimkan pesan sunyi-sepi-biru lewat kartu pos seperti ini!

Kino bangkit, meraih kartu pos yang tergeletak di lantai, memandang gambarnya lekat-lekat, seakan-akan ingin memastikan bahwa semua ini bukan mimpi buruknya. Kino bertanya-menduga dalam hati: apa yang bidadari itu rasakan ketika memilih-milih kartu pos? Apa yang mendorongnya mengirim pesan yang penuh kesunyian ini?

Ia merindukan ku! jerit Kino dalam hati. Ia juga merentangkan tali rindu itu melewati batas lautan. Betapa jauhnya kini ia berada, dan betapa kuatnya rindu itu menyeruak, tak mampu tercegah oleh batas-batas benua. Sekaligus pula, betapa terikatnya kita berdua! jerit Kino lagi. Terikat oleh keindahan masa lalu!

Kino menggeleng-gelengkan kepalanya seperti hendak membantah sendiri kata hatinya. Mana mungkin. Sekuat apa pun ia menggeleng-geleng, kata hatinya tak terbantahkan: ia terikat-kuat kepada sekeping masa lalu yang indah dan mempesona itu. Selamanya terikat. Sampai mati!

Kalau pun Trista tak mengirimkan rindunya, tak mencoba mengontaknya, tak membangun jembatan perasaan …. Kalau pun Trista tak melakukan apa-apa di London sana, Kino tetap tak akan bisa melepaskan diri dari ikatan mahakuat yang terlanjur telah tercipta.

Betapa menakutkannya!

Kino menunduk dan tak sengaja meremas-remas kartu pos itu menjadi gumpalan. Telapak tangannya basah oleh keringat, sehingga gumpalan itu menjadi lembek. Dengan tangan masih mengepal dan masih menggenggam gumpalan kartu pos, pemuda itu memukul-mukul dahinya. Dentuman-dentuman terdengar di telinganya setiap kali kepalan itu membentur dahi.

Setidaknya, dentuman-dentuman itu mampu meredam suara-suara lain di kepalanya.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Pada saat yang bersamaan, di rumah sebelah, Indi untuk yang kesembilan kalinya kembali ke depan cermin. Wajahnya serius, kedua matanya memandang seksama bayangan diri di cermin itu.

Hmmm … lipstik ku terlalu tebal, bisiknya dalam hati sambil menggunakan tissu untuk menghapus bibirnya. Hmmm … sebaiknya rambutku dibiarkan terlepas, karena toh terlalu pendek untuk diikat.

Hmmm … kancing nomor dua sebaiknya kulepas supaya ada yang bisa kupamerkan. Hmmmm … rok ku agak terlalu ketat sehingga garis-garis celana dalamku terlihat. Tetapi, ah ….. biar saja! sergah gadis itu dalam hati sambil tersenyum nakal.

Sejam yang lalu, Indi menyelinap ke kamar orangtuanya, mencuri-pakai parfum ibunya. Ia memutuskan untuk tidak memakai parfumnya sendiri, karena terlalu “ramai” dan lebih cocok untuk ke pesta atau ke disko. Parfum mama jauh lebih lembut dan jauh lebih “dewasa”! begitu pikir Indi.

Ketika ia lewat di dapur, ibu menegurnya dengan lembut, membuat Indi merasakan mukanya terbakar, “Mau ketemu siapa, sih, sore-sore sudah rapi?”

“Mau belajar!” sahut Indi cepat sambil buru-buru berlalu.

Ibunya tercengang, tetapi tak bertanya lagi, melanjutkan menggoreng pisang. Sejak kapan anak gadisku mencuri-pakai parfumku untuk belajar? tanyanya dalam hati.

Indi memang mau belajar matematika, dan sudah menguatkan hati untuk mengundang Kino mengajarinya! Kini ia harus mengatur jantungnya yang berdegup kencang sebelum pergi ke sebelah dan berteriak memanggil Kino. Sekali lagi ia mematut-matutkan diri di depan cermin. Kalau cermin itu bisa berbicara, pastilah ia akan mengeluh panjang lebar!

Sebelum ke rumah sebelah, Indi kembali ke dapur, dan dengan singkat mengatakan bahwa ia akan meminta Kino membantunya menjawab beberapa persoalan matematika. Indi bilang ia akan memakai ruang tengah untuk belajar. Ibunya agak tercengang, tetapi dengan bijak menyimpan komentarnya.

“Oh, yaa …,” seru Indi sebelum pergi,
“Boleh minta pisang gorengnya untuk Kak Kino, ya, Ma!” Lalu gadis itu melesat pergi, meninggalkan ibunya yang menggeleng-geleng pelan.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kino masih memukul-mukul dahinya sendiri ketika ia mendengar suara Indi memanggil-manggil.

Dengan lunglai, pemuda itu bangkit dan keluar dari kamarnya. Sekali lagi ia menggeleng kuat-kuat, menghela nafas dalam-dalam dan berharap agar kerisauan tak terpancar dari mukanya. Sambil memicingkan matanya karena harus menghadapi sinar terang di luar kamar, Kino menemui si empunya suara yang memanggil-manggil itu.

“Mengganggu?” teriak Indi dari balik tembok yang memisahkan rumahnya dengan rumah kost Kino. Kino tersenyum dan terus berharap agar kerisauannya tak terlalu kentara,
“Tidak. Tidak mengganggu!” Indi sejenak mengernyitkan keningnya, melihat ada sepercik gundah di wajah pemuda di depannya.

“Betul tidak mengganggu?” desak gadis itu. Kino menggeleng lagi,
“Tidak. Aku cuma agak sedikit capai.” Indi sejenak merasa kecewa. Ah, bagaimana kalau ia terlalu letih untuk mengajarkan matematika?

“Ada apa Indi?” tanya Kino sambil berjalan mendekat. Indi menggigit bibirnya,
“Hmmm … ada perlu dikit. Tapi, kalau Kak Kino capai, yaaa … ngga jadi, deh!” Kino tersenyum, mengetahui bahwa si centil ini pasti akan memintanya membantu menyelesaikan tugas-tugas matematika.

Cantik sekali ia sore ini. Eh .. tetapi apa hubungannya cantik itu dengan tugas matematika? gerutu Kino dalam hati.

“Mau belajar matematika?” tanya Kino sambil berjalan lebih dekat. Kini hanya tembok yang memisahkan mereka berdua.

Indi mengangguk pelan, dan berucap samar, “Kalau Kak Kino tidak keberatan …”
Timbul keingingan Kino untuk menggoda, “Bagaimana kalau aku keberatan?”

Sayang sekali, Indi tahu bahwa ucapan itu cuma godaan. Maka gadis itu menyahut dengan mata berbinar, “Harus ada alasan, dong … kenapa Kak Kino keberatan.”

“Terserah aku, kan, mau keberatan atau tidak?” kata Kino sambil mengutuk dalam hati, mengakui bahwa tidak mudah menggoda si centil yang banyak akal ini.

“Iya .. terserah Kak Kino, tapiiiiii….,” kata Indi sambil mengerahkan semua kemampuan kekenesannya, “Harus ada penjelasan, kenapa keberatan.”

“Aku harus tahu dulu,” kata Kino pura-pura serius, “Kenapa aku harus membantu kamu?”
“Ada pisang goreng dan secangkir kopi?” jawab Indi sambil mengangkat kedua alisnya, menambah cemerlang kedua matanya yang bening.

Kino tertawa tergelak, “Ha ha ha … masak cuma dengan pisang goreng dan kopi sudah cukup alasan untuk membantu kamu!” Indi senang melihat pemuda di depannya tertawa tergelak. Setidaknya, Kak Kino tidak serisau yang aku duga sebelumnya, bisik gadis itu dalam hati.

“Selain itu, ada anugrah, lho, untuk orang yang mau membantu orang lain dalam kesulitan!” ucap Indi sungguh-sungguh. Kino menahan tawanya,
“Aku tahu itu. Tetapi apakah kamu termasuk orang yang dalam kesulitan?” Indi tersenyum manis sekali, “Sungguh-sungguh dalam kesulitan!”

“Kesulitan apa, sih!?” sergah Kino tak mau kalah.
“Macem-macem … selain matematika!” sahut Indi cepat-cepat, “Nanti Indi ceritain … kalau Kak Kino mau datang ke rumah sore ini!” Kino menyerah.

Percuma menggoda Indi, karena gadis itu punya indera keenam yang bisa mengetahui perasaanku! keluh pemuda itu dalam hati. Ia lalu mengangguk dan mengatakan akan mengganti baju.

“Cihui!” jerit Indi sambil berlari kembali ke rumahnya.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Selamat sore tante,” ucap Kino sopan ketika ia tiba di rumah Indi dan menemui ibunya di ruang tamu.
“Selamat sore Kino,” sahut ibu yang penuh senyum itu, “Ayo masuk.”

Bagi orangtua Indi, mahasiswa yang indekos di sebelah rumah itu bukanlah orang asing. Apalagi ayah Indi pernah ikut mengurus Kino ketika kecelakaan dulu. Sebatas pengetahuan kedua orangtua Indi, pemuda itu adalah “anak baik-baik” yang tidak pernah terdengar membuat ulah.

Samar-samar mereka menduga, terutama sang ibu, bahwa anak gadis mereka punya perasaan istimewa terhadap Kino. Tetapi tak terlalu banyak yang mereka ketahui, dan pada umumnya mereka membebaskan Indi menentukan sendiri pacar atau temannya.

“Kami mau belajar di ruang tengah,” kata Indi yang berdiri di sebelah ibunya, “Jangan diganggu!”
“Lho … memangnya ibu mau mengganggu?” protes sang ibu.
“Pokoknya Indi ngga mau diganggu!” sergah si centil.

“Mama, kan, juga perlu belajar matematika,” goda sang ibu. Sambil menarik tangan Kino yang masih terpana memandang “pertengkaran” di depannya, Indi mencibir dan menyergah,
“Ahh .. mama suka ngarang!”
“Mama tidak perlu mengantar kopi ke sana?” goda sang ibu lagi.

“Eh .. tidak usah tante!” kali ini Kino yang menyahut karena merasa tidak enak merepotkan tuan rumah. Indi terus menarik tangan Kino sambil berkata, “Kak Kino mau aja diganggu mama!”

“Tapi ngga enak dong .. kalau sampai merepotkan mama kamu!” protes Kino sambil terhuyung-huyung mengikuti langkah Indi.
“Biar aja, kalau mama mau mengantar kopi, dan jangan protes lagi!” sergah Indi.

Kino pun diam, setelah menggerutu sebentar. Lalu mereka belajar. Sungguh-sungguh belajar, karena Indi memang punya beberapa pertanyaan pelik menyangkut beberapa rumus matematika. Dengan sabar Kino mengajari gadis yang biasanya centil dan manja itu. Kali ini, Kino juga merasa heran sendiri, mengapa Indi terlalu serius.

Baru kali ini ia mengajari gadis itu dengan keseriusan yang sama seperti kalau ia mengajar di tempat kursus. Tetapi tentu saja Kino tak mempersoalkan “kejanggalan” ini, dan malah berterimakasih dalam hati karena tidak membuang-buang waktu untuk meladeni si centil.

Selain serius, Indi juga tampak “lain” sore itu. Berkali-kali Kino mencoba menerka, apa yang lain di diri gadis itu. Selagi Indi serius mengerjakan soal matematikanya, pemuda itu diam-diam memandangnya dengan seksama.

Indi tampak cantik sekali dengan pupur tipis dan lipstik yang tak terlalu kentara. Hmmm … pikir Kino, mungkin itu yang menyebabkannya cantik!

Dari posisi agak di samping, Kino bisa memandang profil wajah gadis itu. Hidungnya yang agak mancung, bulu matanya yang lentik, dan pipinya yang mulus. Kombinasi ini tampak indah di bawah seonggok rambut pendek yang lepas tergerai.

Beberapa anak rambut tampak menyeruak di sana-sini, seperti serabutan semak di taman. Bibir bawahnya tergigit-gigit oleh pemiliknya yang sedang serius; basah memerah-muda seperti jambu air yang berangkat matang.

Kalau memakai nilai 1 sampai 10, Indi boleh dimasukkan kategori 9,5. Tidak bisa sempurna, pikir Kino, karena anak centil ini sering terlalu mengandalkan kecantikannya untuk merajuk-merayu.

Seandainya saja ia bisa lebih kalem dan dewasa, mungkin aku harus memberinya nilai 11! Atau barangkali justru kemampuan merajuk-merayu itu yang membuatnya cantik? Ah, sebaiknya memang tidak usah terlampau repot memberi nilai. Indi memang cantik, apa pun alasan yang dipakai!

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Tiba-tiba Indi melirik, memergoki Kino yang sedang memandang dirinya.

“Kenapa?” tanya gadis itu pelan.

“Kamu selalu memakai make up walau di rumah?” tanya Kino terus terang, kadung sudah terpergok!

Indi tersenyum, tidak menjawab pertanyaan itu, dan kembali menekuni persoalan matematika di bukunya. Gadis itu membiarkan Kino menjawab sendiri pertanyaannya. Membiarkan pula pemuda itu melanjutkan “peninjauan”-nya atas wajah atau bagian mana pun dari tubuhnya! Terserah dia, lah! sergah Indi dalam hati.

Kino menginterpretasi diam Indi itu sebagai “ya”. Hmmm … tetapi biasanya ia tidak memakai pupur kalau di rumah. Atau mungkin tidak terlalu kelihatan oleh ku! katanya dalam hati.

Apa lagi yang “lain” hari ini? Rambutnya tergerai lepas, seperti biasanya. Lagipula terlalu pendek untuk diikat, pikir Kino. Bagaimana kalau ia memanjangkan rambutnya, sampai sebahu. Seperti rambut Trista, tergerai lepas.

Ah, … tanpa sadar bayangan bidadari itu bermain kembali di pelupuk mata Kino. Terbayang Trista duduk di depannya, serius menekuni semangkuk es buah di kedai yang selalu mereka kunjungi untuk rendesvouz.

Terbayang sinar mentari sore menerpa rambutnya yang legam, menimbulkan kilauan samar lembayung aneka warna, menambahkan guratan keindahan ke wajahnya yang sudah cantik mempesona. Terbayang betapa hangat rasanya membelai rambut itu dengan jemarinya!

“Hei!”sergah Indi membuat Kino tersentak, “Koq melamun, sih?”
“Eh … ada apa?” sahut Kino tergagap.

“Kak Kino melamun, ya!” sergah Indi agak kesal karena tahu pemuda di sebelahnya tidak sungguh-sungguh sedang memperhatikannya. Kino tersenyum kecut,

“Maaf. Kamu sedang serius, dan aku tidak punya kegiatan. Memangnya ngga boleh melamun?” Indi mencibir, “Boleh. Apa sih yang Kak Kino lamunkan?”
“Ah, tidak ada!” sahut Kino cepat.

Indi meletakkan pensilnya, menghadapkan tubuhnya ke Kino, “Bohong. Mana mungkin ada orang melamunkan sesuatu yang tidak ada.”

Kino menghela nafas, “Kalaupun aku melamun sesuatu, tidak ada hubungannya dengan matematika.” Indi tertawa kecil, “Habisnya, ada hubungan dengan apa, dong?”

“Apakah aku harus mengatakan semua yang aku lamunkan?” sahut Kino pura-pura kesal.
“Kalau boleh Indi tahu …,” kata Indi sambil mengerling genit.
“Soal matematikanya sudah selesai belum?” sergah Kino mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Sudah!” jawab Indi cepat, “Sekarang Indi ingin tahu apa yang Kak Kino lamunkan!”
Kino terdesak, tetapi tak ingin menyerah begitu saja, “Aku mau minum kopi, boleh?” Indi menyorong secangkir kopi yang sudah mulai dingin, lebih dekat ke tempat Kino duduk.
“Silakan, jangan malu-malu. Pisang gorengnya sekalian!” kata gadis itu.

Dengan lega Kino mengangkat cangkir itu ke bibirnya, menikmati kopi yang memang sedap. Dua hirup ia teguk cairan hangat yang mempesona itu masuk menebarkan kenikmatan di dadanya. Sangat tepat campurannya: tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis.

Siapa pun yang membuatnya, harus diberi acungan jempol. Kino baru saja mau mengambil sepotong pisang goreng ketika Indi menyela, “Ayo … cerita dulu, dong, sebelum makan pisang goreng!”

Pemuda itu menghentikan gerakan tangannya, “Wah, .. masak musti cerita dulu. Aku lapar!” Indi justru menarik piring pisang goreng menjauh, “Cerita dulu … Tidak baik cerita dengan mulut penuh pisang!”
“Indi ..,” Kino memprotes, “Kamu tidak menghormati tamu …. dan gurumu!”

Indi makin menjauhkan piring pisang goreng, tetapi dengan demikian ia makin mendekatkan tubuhnya ke Kino. Pemuda itu tak bisa meraih piring tanpa harus menyentuh badan Indi. Ketika Kino mencoba melakukannya, tubuh Indi justru jatuh ke pelukannya.

Cepat-cepat Kino menegakkan tubuhnya, takut kepergok ibu Indi, dan juga sadar akan jebakan yang dipasang si centil.

“Cerita dulu!” sergah Indi bersikeras. Kino menarik nafas panjang, memutuskan untuk menyerah saja daripada tidak kebagian pisang goreng!

“Aku teringat Trista,” ujar Kino pendek. Indi terdiam. Ucapan pendek itu seperti sebuah kalimat panjang lebar yang perlu disimak sehari penuh sebelum bisa dimengerti maknanya.
“Aku teringat dia, karena tadi siang aku menerima kartu pos dari London,” kata Kino lagi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

Indi tetap diam. Menunduk memandang tangannya sendiri yang kini bermain-main dengan pinggiran piring. Kino menghela nafas panjang, berkata dalam hati: apakah aku harus ceritakan semuanya?

Lalu, tanpa berpikir lagi, langsung berkata, “Entah kenapa aku tiba-tiba sangat merindukannya. Bukan cuma karena kartu pos itu. Sejak lama aku tidak bisa melupakan dia. Hampir setiap hari bayangan wajahnya datang. Tidak siang, tidak malam, tidak pagi, tidak sore … Setiap saat.”

Indi merasakan dadanya sesak. Cara Kino mengucapkan pengakuannya terdengar sangat getir di telinga Indi. Terbayang saat ia pertama kali melihat kegundahan di wajah pemuda itu sewaktu ia memanggil-manggil dari balik tembok. Jadi, itulah yang ia risaukan.

Betapa keruhnya kedua matanya waktu itu! Seperti sungai yang penuh lumpur akibat hujan lebat di hulunya. Betapa tersiksanya ia! kata Indi dalam hati.

Kino tak bisa menebak apa arti diam Indi, maka ia melanjutkan ceritanya karena merasa sudah terlanjur.

“Aku tak tahu, Indi, apakah hal ini baik atau tidak,” katanya, “Tetapi aku sungguh risau setiap kali menyadari bahwa aku tidak bisa lepas dari masa lalu yang getir itu. Sampai kapan aku harus terus terikat kepadanya? Aku seakan-akan terpenjara oleh kenangan yang manis sekaligus menyakitkan itu. Sampai kapan aku harus merasa sakit hati?”

Indi mengangkat mukanya. Kino berbicara setengah menunduk. Gadis itu merasakan kembali dadanya menjadi sesak oleh sebuah perasaan yang berisi campuran antara iba dan iri. Ia iba melihat pemuda yang ia senangi itu mengalami kegetiran.

Ia juga iri kepada Trista, perempuan yang ia jumpai di rumah sakit dan yang ia akui sendiri sebagai perwujudan dari kecantikan wanita yang alamiah.

Kino mengangkat mukanya, menemukan kedua mata Indi memandang lekat. Sejenak mereka hanya saling pandang dalam sepi. Walau begitu, kedua hati mereka bercakap-cakap ramai, masing-masing dengan kegundahan dan kerisauannya sendiri.

Indi memaksakan sebuah senyum, yang tentu saja terlihat janggal dalam situasi seperti ini.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Kino karena ia mengenali kejanggalan itu.
“Habis … harus bagaimana?” Indi balik bertanya, tangannya seperti tak sengaja menumpang di punggung telapak Kino.

“Cerita ku tadi lucu, ya?” tanya Kino, membiarkan gadis itu mengirimkan simpatinya lewat telapak tangan yang halus.
“Ceritanya sedih,” jawab Indi terus terang, “Tetapi mendingan Indi anggap lucu. Daripada Indi ikut nangis!” Kino tertawa.
“Betul juga!” katanya, “Sebaiknya kita menertawai kesedihan, daripada menangisinya!” Indi tersenyum lembut, mengelus-elus punggung tangan Kino seperti hendak meredakan gundah-nestapa di dada pemuda itu.

Ia berucap pelan, “Indi sebetulnya ngiri sama Kak Trista … kenapa harus selalu dia yang diingat. Tapi, lalu Indi pikir itu adalah hak Kak Kino. Jadi …..” Kino menunggu lanjutan kalimat itu. Tetapi, sampai lama tidak ada yang diucapkan lagi oleh Indi.

“Jadi ….?” tanya Kino sambil memandang lekat-lekat wajah manis yang kini berbinar lembut itu.
“Jadi …,” kata Indi sambil menghela nafas panjang,
“Jadi, sekarang Kak Kino boleh makan pisang goreng!”

Kino tertawa lagi. Betul-betul menikmati tawanya, karena gadis kenes centil di depannya ini memang pandai mencairkan suasana yang beberapa saat tadi penuh kegundahan. Sejenak Kino seperti mendengar syair lagu populer itu … buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya …

“Husy!” sergah Indi sambil menyorongkan piring pisang goreng,
“Jangan tertawa terlalu keras, nanti mama sangka Kak Kino gila sehabis mengajar matematika!” Kino langsung menghentikan tawanya,

“Benar juga, sih … Aku bisa gila kalau setiap hari mengajar matematika seperti ini!” katanya.

“Seperti ini … seperti apa?” sergah Indi sambil ikut mengambil pisang goreng. Kino mengambil sepotong pisang yang tampak lezat menantang,
“Seperti ini … seperti kamu yang bisa becanda di depan orang yang sedang kesusahan!” katanya.

“Indi senang becanda,” kata Indi dengan mulut penuh,
“Apalagi kalau becanda-nya membuat Kak Kino gembira.”

“Merayu, nih!” sergah Kino juga dengan mulut penuh. Indi menelan pisang gorengnya, lalu berkata sungguh-sungguh, “Tidak. Indi memang senang kalau Kak Kino gembira!”

“Kenapa harus membuat aku gembira. Biar saja aku sedih,” kata Kino bersikeras.
“Jangan di depan Indi, kalau mau bersedih,” sahut Indi ikut bersikeras.
“Jadi, aku harus pura-pura gembira, begitu?”

“Terserah. Yang penting jangan sedih. Kalau Kak Kino sedih, Indi akan terus becanda.”
“Kamu anggap hidup ini becanda, ya!”
“Memang. Apa sih susahnya becanda. Lagipula, Indi suka jika hidup ini gembira terus. Ngapain hidup kalau cuma untuk bersedih.”

“Kamu tidak pernah bersedih?”
“Pernah. Sering.”
“Jadi, apa yang kamu lakukan kalau kamu yang sedih?”
“Ya, anggap saja selingan. Indi akan berusaha gembira lagi!”

“Tetapi itu tidak gampang, kan?”
“Memang tidak gampang. Tetapi juga tidak sesulit matematika yang barusan Kak Kino ajarin!”

Kino tertawa. Senang sekali ia berkutat dalam percakapan ringan dengan Indi hari ini. Bahkan dengan takjub ia menyadari bahwa kegundahan yang tadi menelikungnya, kini hilang seperti kabut sirna oleh mentari. Indi bagai mentari itu … menyinari hari kelabunya.

Tanpa maksud apa-apa, Kino menangkat tangannya, menyentuh ringan pipi Indi sambil berucap pelan, “Terimakasih Indi. Kamu membuat aku gembira.” Indi menyandarkan pipinya lebih kuat ke telapak tangan Kino, tersenyum lembut dan menyemburatkan sinar matanya yang hangat.

Sejenak mereka hanya berpandang-pandangan, dan Kino mengelus-elus pipi mulus yang terasa hangat itu.
“Kalau sudah selesai, aku mau pamit.” ujar Kino akhirnya. Indi mengangguk, lalu bangkit terlebih dulu. Kino meneguk sekali lagi kopinya, lalu bangkit menyusul Indi yang sudah mulai melangkah ke ruang tamu.

Di luar, senja telah datang dengan segala kemegahanNya. Indi bersandar di bingkai pintu depan, memandang Kino meninggalkan halaman sambil sesekali menengok dan melambaikan tangan.

Lalu pemuda itu hilang di balik tembok. Indi masih berdiri beberapa saat, memandang ke langit yang memerah, dan merasakan betapa indahnya senja kali ini. Sekali lagi ia menengok memastikan bahwa Kino sudah pulang, sebelum akhirnya masuk ke rumah.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

(Dikunjungi 1,164 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya