Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #42

Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #42

Kecemburuan di Sekitar Kita

Cerita Cinta Dewasa – “Tambah cakep … tambah gemuk … tambah gemes aku!” celoteh Rima sambil mengacak-acak rambut Kino, “Kamu beneran sakit atau cuma pura-pura sakit, sih? … Bikin orang kangen saja, pergi tiga bulan pulang kampung … Ngapain di kampungmu … pasti cuma makan-tidur saja kerjanya … Ya, kan?!”

Gadis tomboy itu tidak menyisakan sedikit pun kesempatan bagi Kino untuk menjawab. Tetapi seperti biasanya, Kino membiarkan saja si ceriwis ini berkicau sesuka hati.

Mereka sedang berjalan pelan memasuki kampus, melewati gerbang utama, menyeberangi lapangan bola. Di sekeliling mereka, dan di seantero kampus, para muda belia berseliweran dalam kesibukan studi. Di atas mereka, langit berderang biru dengan sedikit bercak awan hujan di sana-sini.

“Ngga enak kalau tidak ada kamu … Aku pergi camping sebulan yang lalu … Wah, ngga seru! … Ngga ada yang main gitar atau nyanyi John Denver seperti kamu!” kata Rima sambil sesekali mencubit lengan pemuda di sebelahnya, “Aku kesepian, Kino … ngga bisa menikmati alam tanpa kamu… Ngga ada yang bisa diajak duduk diam-diam memandang matahari terbenam … Pokoknya lain… Lain sama sekali!”

Kino ingin bertanya: bagaimana dengan pacar barumu? .. tetapi belum sempat, karena Rima sudah langsung menyambung:
“Minggu lalu ada acara naik gunung. Aku ajak si Tigor, tetapi dia lagi asyik sama pacar barunya …. Sebel sekali aku!” sergah Rima sambil menendang sekumpulan rumput kering,
“Dia sekarang ngga suka naik gunung lagi!”

Hmmm … gumam Kino dalam hati. Kemarin dulu, si Tigor yang bilang bahwa Rima yang sering menghindar karena pacar barunya.

“Tetapi kalau pun si Tigor ikut, paling-paling dia cuma bisa bantuin memasang tenda. Anak itu ngga bisa menyanyi. Padahal dia orang Sumatera Utara … koq, suaranya hilang kalau acara menyanyi. Payah! … Minggu kemarin alasannya, dia sudah janji lebih dulu sama pacarnya … Aku belum kenal, lho … Heran, anak itu koq tumben merahasiakan pacar barunya .. Cuma pernah bilang bahwa mereka berdua punya persoalan … Huh! .. urusan mereka berdua, lah! … Aku sebel!” celoteh Rima persis rentetan tembakan mitraliyur di jaman Perang Dunia II.

Kino tersenyum, melambaikan tangan ke seorang temannya, dan membiarkan Rima menggamit lengannya. Mereka menelusuri lorong yang menghubungkan rektorat dengan perpustakaan.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Si Ridwan lain lagi … anak itu sekarang serius banget .. Belajar terus kerjanya. Bahkan acara pacaran pun dia kurangi. Ngga seperti dulu lagi. Sudah dua bulan ini aku tidak mendengar ceritanya tentang gadis-gadis yang dia taklukkan … Mungkin juga sudah tidak ada lagi yang bisa dirayu oleh si gombal itu …” lanjut Rima seperti seorang pembaca berita sedang menyampaikan sebanyak mungkin kabar ke pemirsanya, “Aku juga sebel sama dia … Makanya, waktu dia ajak menjemput kamu, aku bilang sedang ada urusan … Sorry … bukannya aku tidak mau menjemput kamu di terminal .. Memang aku sedang sebel saja sama mereka berdua!”

Kino menghentikan langkah, mereka telah tiba di depan perpustakaan.

“Kenapa berhenti di sini?” sergah Rima.
“Tadi kamu bilang mau ke perpustakaan,” jawab Kino.

“Kamu mau kemana?” tanya Rima, jelas telah lupa bahwa ia tadinya akan ke perpustakaan.
“Aku harus ke rektorat, mengurus cuti kuliah ku,” jawab Kino sambil melepaskan tangannya dari pegangan Rima.
“Aku ikut!” sergah gadis itu dan mulai melangkah mendahului Kino.

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terpaksa harus bersiap-siap membuka telinga lebih lama lagi. Pasti lah Rima punya segudang cerita yang ingin ia tumpahkan seharian. Tak apa lah, pikir Kino, hari ini aku memang tidak ada acara apa-apa, selain mengurus administrasi cuti kuliahnya.

Mereka berjalan lagi, perlahan dan seperti tak terusik oleh apa pun yang terjadi di sekitar mereka: sejoli yang tampak akrab dan rukun di tengah hiruk pikuk simpang siur lalu lalang para mahasiswa dan mahasiswi.

Beberapa orang terdengar menyapa sambil lalu, yang dijawab Kino maupun Rima tanpa menghentikan langkah mereka.

Rima pun segera berceloteh lagi dan Kino pun menjadi pendengar yang baik lagi.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Cerita Rima, tentu saja, didominasi oleh kisah cintanya yang baru dengan sang dosen itu.
“Bagaimana bisa tertarik kepadanya?” tanya Kino ketika mereka sudah keluar dari gedung rektorat dan Kino sudah selesai dengan urusan administrasi kuliahnya.

“Dia ganteng, lho!” jawab Rima sambil tersenyum simpul dan dengan nada jenaka.
“Seberapa ganteng?” cecar Kino.
“Hmmm …,” Rima mengerling nakal, menyungging senyum khas-nya yang bernuansa jail itu,

“Lebih ganteng dari kamu … Lebih ganteng dikit dari kamu …”
“Tetapi bukan karena dia ganteng, kan?” sergah Kino, karena pemuda ini yakin ada sesuatu selain tampilan fisik di diri pacar baru Rima.

“Hmmmm …,” Rima tersenyum lagi,
“Bukan cuma ganteng, tetapi juga cerdas …. walaupun kadang-kadang terlalu serius.”
“Bagaimana dengan Yardin?” tanya Kino, karena terakhir kali ia mendengar Rima berpacaran dengan aktifis pendaki gunung itu.

“Yardin cuma bisa naik gunung!” jawab Rima cepat.
“Dosen itu bahkan tidak bisa naik gunung sama sekali, kan!?” sergah Kino,
“Kenapa justru meninggalkan Yardin dan beralih ke kutu buku itu?”

“Hei!” sergah Rima sambil tertawa kecil,
“Kenapa kamu jadi sewot begitu, sih!?”
“Aku tidak sewot!” sahut Kino membela diri, tetapi nada suaranya menyiratkan sebaliknya.

Rima tertawa lebih keras, “Iya! Kamu memang kesal. Jangan coba-coba bohong kepadaku.”
“Pacaran sama dosen!” gerutu Kino, “Kamu cari gara-gara saja, Rim!”

Rima memeluk pinggang Kino dan tersenyum sambil menghardik dengan kekeras-kepalaannya yang kekanak-kanakan itu, “Biarin! Sekali-kali aku ingin bikin heboh. Emangnya cuma kamu yang boleh bikin heboh!”

Kino menarik nafas dan menghembuskannya dalam sekali hempasan,
“Kamu jangan selalu mengarah ke situ, dong!” katanya.
“Sorry!” kata Rima sambil mempererat pelukannya di pinggang Kino.

Mereka akhirnya tiba di luar kampus, di pelataran parkir utama yang penuh sepeda motor. Juga penuh oleh bau singkong dan pisang goreng yang mengepul-ngepul dari penggorengan tiga penjaja di pinggir jalan. Udara yang agak dingin menjadi pendorong utama untuk membeli pengganan menggiurkan itu. Tanpa terencana, Rima dan Kino mengarah ke salah satu penjaja.

“Lima singkong, lima pisang, Mang!” kata Rima sambil menyerahkan selembar uang.
“Tahu gorengnya sekalian, Neng? Hangat dan sedap” si penjual melancarkan jurus-jurus salesmanship yang ia pelajari secara alamiah itu.

“Boleh, Mang .. Tahunya sepuluh!” sahut Kino sambil mengeluarkan uang dari sakunya, tetapi Rima mencegahnya dan memaksa membayar pesanan pemuda itu sekalian. Lalu mereka berjalan lagi, menelusuri pagar luar kampus, menuju entah kemana, semaunya dua pasang kaki mereka membawa pergi.

“Aku sekarang suka membaca tentang sosiologi, karena pacarku itu suka sekali bicara tentang sosiologi,” kata Rima sambil menggigit sepotong singkong.
“Jadi, kalau pacaran kalian berdiskusi tentang sosiologi, begitu?” sela Kino. Rima tertawa kecil,

“Iya … kami selalu ngobrol tentang sosiologi. Kecuali kalau lagi …. itu, tuh!” Kino ikut tertawa.
“Tetapi dia lebih suka sosiologi daripada bercumbu,” kata Rima menyambung cepat,
“Dan aku tidak keberatan. Sekarang aku lebih suka sosiologi daripada bercumbu!”

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kino tertawa lebih keras.

“Kamu tahu, ngga?” tanya Rima, lalu langsung menjawabnya sendiri,
“Aku sekarang tahu bahwa masyarakat bisa dilihat sebagai sebuah percakapan.” Kino mengernyitkan keningnya.

“Tahukah kamu?” tanya Rima, lalu langsung menjawabnya lagi sendiri,
“Manusia adalah mahluk simbolik .. Segala sesuatu yang dilakukan manusia selalu mengandung simbol yang memiliki makna tertentu …”

Kino berdehem untuk menghilangkan rasa kering yang tiba-tiba menyergap tenggorokannya.

“Nah, … simbol yang mengandung makna itulah yang saling dipertukarkan … saling dipahami,” celoteh Rima lebih lanjut, sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti ingin mempertegas setiap kata yang diucapkan “Sehingga terjadi pertukaran-pertukaran simbol di dalam masyarakat … terjadi komunikasi …” Kino berdehem lagi. Tenggorokannya terasa semakin kering; apalagi karena tahu yang dimakannya ternyata agak terlalu asin.

“Itulah sebabnya, masyarakat bisa bertahan atau bisa musnah tergantung pada kualitas komunikasi di dalamnya,” sambung Rima sambil menggigit sepotong singkong,
“Itu pula sebabnya, masyarakat bisa dilihat sebagai sebuah percakapan yang terus menerus .. sebuah percakapan abadi tentang berbagai makna …” Kino terbatuk-batuk.

“Istilahnya … masyarakat selalu mengandalkan symbolic interaction,” Rima melanjutkan khotbahnya tanpa mempedulikan reaksi-reaksi dari Kino,
“Tanpa interaksi simbolik, masyarakat itu akan musnah … terjadi dis-integrasi … akhirnya bubar.” Kino berhenti melangkah, berjuang melawan batuk yang memaksanya memuntahkan sedikit sisa tahu di mulutnya.

“Kenapa kamu?” sergah Rima. Kino menggeleng-geleng sambil mengatur nafas.
“Tahunya terlalu asin?” tanya Rima sambil memijat tengkuk Kino, sejenak lupa akan symbolic interaction-nya. Kino mengangguk.

“Makanya, pelan-pelan dong kalau makan tahu, Kino!” ucap Rima persis seorang ibu kepada anaknya yang rakus.

“Aku …. ehm … aku juga … ehm … pusing!” ucap pemuda itu di antara batuk.
“Pusing makan tahu?” sergah Rima.
“Bukan!” sahut Kino, “Pusing mendengar kuliah mu!”

Rima mencubit pinggang pemuda itu. Tidak keras, tetapi di tempat yang menimbulkan geli bukan alang kepalang. Tentu saja Kino jadi tambah terbatuk-batuk.

Rima tertawa riang. Lalu ia memeluk Kino lagi, mengusap rambutnya dan membelai pipinya. Kalau orang tidak tahu, pastilah keduanya tampak seperti suami-istri yang sedang berbulan madu.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Ketika sedang berjalan berdua bagai sejoli mabuk asmara itulah, Kino dan Rima tak mengetahui bahwa ada tiga pasang mata yang melihat tingkah laku mereka secara seksama. Tiga pasang mata yang membiaskan sinar campuran, antara heran, geram, penasaran, kecewa, gemas dan iri. Campuran sangat rumit ini bisa juga disebut dengan satu kata, yakni ‘cemburu’.

Sepasang mata yang pertama adalah milik seorang pria berpakaian necis yang duduk di belakang setir mobil sedan biru tua. Alis di atas sepasang mata itu tampak berkerut, memperkuat guratan-guratan di dahi.

“Siapa pemuda itu?” desis si pemilik mata sambil memperlambat jalan mobilnya, mengiringi dari jauh langkah Rima dan Kino yang sedang tertawa-tawa riang.

Mobil pria itu penuh buku-buku sosiologi. Di kaca depan mobilnya, terdapat sebuah stiker yang menandakan bahwa pemilik mobil itu adalah seorang dosen. Perasaan di dada pria itu bergejolak penuh cemburu. Tentu saja, … karena dia adalah kekasih Rima yang justru sedang menjadi topik pembicaraan pasangan sahabat yang tak tahu sedang diperhatikan itu.

Bersamaan dengan itu, di atas sebuah angkot yang sedang terhambat macet, ada dua pasang mata lainnya yang juga memperhatikan tingkah laku Rima dan Kino.

“Itu, kan, mahasiswa yang kamu taksir?” bisik pemilik salah satu pasang mata, seorang gadis berseragam SMA. Teman di sebelahnya, kepada siapa ia bertanya, tidak menjawab. Tetapi kedua matanya berbinar geram.

“Siapa gadis itu?” kejar si penanya.
“Namanya Rima,” jawab yang ditanya. Ketus dan agak kurang jelas di tengah deru angkot.
“Pacarnya?”
“Bukan … itu sahabatnya.”

“Kok, seperti sepasang kekasih, ya?” Tidak ada jawaban, kecuali hempasan nafas mengandung kekesalan.
“Kamu yakin itu bukan pacarnya?” kejar si penanya.

Tidak ada jawaban lagi. Hanya ada hempasan nafas lagi, yang tidak saja mengandung kesal tetapi juga sekian banyak perasaan galau lainnya.

“Mungkin itu memang pacarnya ….,” bisik si penanya.
“Kamu cerewet sekali!” hentak yang ditanya.
“Lho … kenapa marah sama aku?” sergah si penanya.

“Aku sebel!” hentak lawan bicaranya.
“Makanya, jangan gampang jatuh cinta, nDi!” bisik si penanya.

Tidak ada jawaban. Suara angkot yang berisik kembali mendominasi suasana. Dua gadis itu, Mutia dan Indi, terdiam dalam lamunannya masing-masing.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Ketika tiba di depan rumah kost-nya, Rima menawarkan Kino untuk mampir, tetapi pemuda itu menolak. Ia perlu segera pulang ke tempat kost-nya sendiri, karena sudah berjanji untuk membantu ibu semangnya membersihkan halaman.

“Lain kali saja, Rim … aku janji memotong rumput,” kata Kino sambil mulai melangkah meninggalkan sahabatnya.

“Aku punya kue coklat kesukaanmu, lho ..,” bujuk Rima sambil mencoba menahan tangan Kino.
“Lain kali. Aku janji!” sahut Kino sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rima.

Tepat pada saat itulah, sebuah mobil sedan biru memasuki halaman rumah. Suara empat ban yang menjejak kerikil-kerikil kecil menimbulkan keberisikan. Suara tuter yang ditekan begitu mobil memasuki halaman, mengejutkan Rima dan Kino.

“Hei, itu pacarku!” sergah Rima sambil melepaskan genggamannya dan membalikkan badan.
“OK .., kalau begitu aku memang harus pulang, kan!?’ kata Kino dan langsung melangkah pergi.
“Tunggu!” seru Rima, “Aku ingin memperkenalkan kamu kepadanya.”

Kino menghentikan langkahnya. Seorang pria yang memang ganteng, walau tampilannya terlalu formal, keluar dari sedan biru itu. Kino mendahului tersenyum, tetapi pria itu seperti tidak melihatnya. Mukanya tampak dingin, dan pandangannya cuma sekilas ke arah Kino, lalu langsung terpaku ke Rima.

“Halo, mas!” seru Rima riang,
“Tumben muncul tiba-tiba!” Pria itu tidak menjawab, melainkan mendekat saja ke Rima dan menerima pelukan gadis itu. Kino berdiri kikuk, dan hendak segera berlalu, kalau saja Rima tidak memanggilnya untuk mendekat.

“Ini sahabatku, Kino!” kata Rima sambil memeluk pinggang pria itu dengan satu tangan, dan melambai ke Kino dengan tangan yang lain.

Kino berjalan mendekat, lalu lebih dulu mengulurkan tangan untuk berjabatan. Biar bagaimana pun, pria yang berdiri di depannya dengan wajah dingin itu adalah seorang dosen. Kino merasa perlu untuk berlaku sopan, walaupun insting-nya mengatakan bahwa pria itu tidak terlalu suka kepadanya.

Mereka berjabatan secara formal. Kino menyebut namanya, dan mendengar nama pria itu disebutkan secara tak ramah, “Danu”

“Dia baru sembuh dari sakit,” kata Rima mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku. Tetapi Danu, pria gagah yang disukai Rima itu, seperti tak mendengar ucapan pacarnya. Kino merasa tidak enak sekali, dan memutuskan untuk segera melangkah pergi setelah mengangguk dan menggumamkan “permisi”.

Rima membiarkan sahabatnya pergi, dan menebak-nebak dalam hati apa yang menyebabkan mas Danu-nya begitu dingin. Gadis itu mencoba bermanja-manja dan menarik pacarnya ke dalam rumah. Tetapi pria itu menolak masuk.

“Siapa dia?” tanya Danu dengan nada sedingin es yang baru keluar dari kulkas.
“Kino …, Rima sudah pernah cerita, kan?” sahut Rima sambil mengernyitkan keningnya.
“Kamu cuma bilang, dia salah satu sahabatmu,” kata Danu sambil bersender di mobilnya.

“Memang sahabat Rima,” jawab gadis itu sambil ikut bersender di sebelah kekasihnya.
“Apakah kamu selalu begitu dekat dengan sahabat-sahabatmu?” tanya Danu dengan ketus. Rima merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran mas Danu, bisiknya dalam hati. Dengan hati-hati, ia menjawab,

“Ya .. memang kami dekat sekali.”
“Seberapa dekat?” kejar Danu.
“Ya, dekat …,” jawab Rima terbata,
” dekat … seperti ….. apa, ya?!”
“Begitu dekat, sehingga jalan berpelukan berdua?” sergah Danu sambil mengeluarkan sebungkus rokok.

Oh … desah Rima dalam hati. Mas Danu tadi melihatku berjalan berpelukan. Dia cemburu. Wow .. pria cerdas yang selalu menggunakan logika itu ternyata pencemburu. Hati gadis itu tersenyum, tetapi bibirnya tidak.

“Kalian seperti sepasang kekasih saja!” sergah Danu sambil mengeluarkan sebatang sigaret dan menyalakannya. Rima diam, menunduk memperhatikan ujung sepatunya.
“Bahkan dengan aku saja, kamu tidak pernah semesra itu kalau sedang jalan-jalan,” ucap Danu lagi.

Karena kita menghindari gosip, bisik Rima dalam hati. Ia ingin mengatakan hal itu, tetapi hati kecilnya melarang.

Keduanya lalu diam. Danu seperti sedang menikmati rokoknya sepenuh hati. Rima tenggelam dalam dialog di kalbunya. Angin menimbulkan suara gemersik di pohon-pohon. Samar-samar terdengar lagu dang-dut dari kamar tempat pembantu rumahtangga menyeterika baju.

Setelah 5 menit terbenam dalam keheningan, akhirnya Danu bergumam mengajak Rima naik ke mobilnya.

“Kemana?” bisik Rima hati-hati.

Danu tak menjawab, melainkan sudah membuka pintu dan duduk di belakang setir. Rima pun tak punya pilihan lain. Ia membuka pintu penumpang dan menghempaskan tubuhnya di jok. Tak berapa lama kemudian mobil sedan itu meninggalkan halaman rumah.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Jarak dari rumah kost Rima ke rumah kost Kino, tidaklah begitu jauh. Pemuda itu berjalan kaki saja, menyusuri jalan yang di kiri-kanannya penuh pohon rindang.

Ketika pemuda itu sedang berbelok menuju gang yang akan membawanya ke rumah kost, ia melihat Indi turun dari angkot sendirian. Gadis itu baru pulang, setelah tadi mampir sebentar di rumah Mutia. Itulah sebabnya, dia tiba bersamaan dengan Kino yang sedang melangkah pulang.

“Indi!” panggil Kino sambil melambai. Indi menengok, tetapi lalu melanjutkan langkahnya masuk ke gang, mendahului Kino.

“Hei!” seru Kino sambil mempercepat langkah,
“Kenapa buru-buru?” Indi tidak menyahut, dan bahkan sudah berlari masuk ke gang meninggalkan Kino yang terheran-heran.

“Pasti kamu lagi kebelet, ya!” teriak Kino sambil tertawa, menyangka Indi sedang bercanda atau memang sedang terburu-buru untuk ke toilet.

Gadis itu tidak menyahut sama sekali, dan dalam sekejap sudah hilang, berbelok ke halaman rumahnya di sebelah rumah kost Kino. Pemuda itu pun memperlambat langkahnya dan berlenggang menuju kamarnya sambil bergumam dalam hati, pasti si Indi terlalu banyak minum es atau terlalu banyak makan rujak pedas.

Pemuda itu tentu saja tidak tahu, betapa Indi berlari langsung masuk ke kamarnya, melintas cepat di depan ibunya yang heran melihat anak gadisnya terburu-buru seperti dikejar hantu. Apalagi kemudian terdengar suara pintu kamar ditutup dengan kencang, lalu dikunci dari dalam.

“Indi?” seru ibunya,
“Ada apa dengan kamu?”

Tak ada sahutan. Pasti ada persoalan, bisik ibunya dalam hati. Tetapi ibu itu juga sudah kenal tabiat anak gadisnya, yang tak mau diganggu jika sedang ada persoalan.

Ibu itu tahu dan hapal, si keras kepala hanya mau diganggu kalau ia memang sudah memerlukan bantuan. Sambil tersenyum, ibu itu melanjutkan kegiatannya, menjahit sarung bantal. Nanti juga dia akan datang kepadaku, katanya dalam hati.

Di dalam kamar, Indi mehempaskan tubuhnya ke kasur setelah melempar tas sekolahnya sembarangan. Ia lalu membenamkan kepalanya ke bantal, dan menjerit keras-keras. Tentu saja, suara jeritannya tak terdengar ke luar karena terkungkung bantal.

“Mas Kino jahat!” jeritnya sambil menggigit sarung bantal.

Lalu air mata membanjir. Si centil yang keras kepala dan keras hati itu luruh dalam galau perasaan yang sangat menyiksa. Kenapa dia harus peluk-pelukan seperti itu? Kenapa harus mesra seperti itu? Kenapa harus di depan orang banyak seperti itu? Kenapa mereka memperlihatkan kedekatannya secara gamblang ? Kenapa!!!??

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Danu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di sebuah tempat parkir yang menghadap ke sebuah lembah. Di sini biasanya para sejoli memarkir kendaraan mereka untuk lepas dari keramaian publik. Kalau malam minggu, tempat ini penuh pasangan yang bermesraan, di dalam mobil atau di bangku-bangku kayu yang banyak tersedia.

Saat ini, hanya ada beberapa kendaraan di sana, karena hari masih tak terlalu sore. Pada umumnya, para pengunjung tempat ini sedang menikmati bakso dan somay yang dijual para penjaja di sekitar tempat itu.

“Mau siomay?” tanya Danu, langsung ke luar mobil tanpa menunggu jawaban Rima.

Gadis itu tidak menjawab. Sejak tadi, dalam perjalanan ke sini, mereka cuma berdiam saja. Rima tidak berani berkata apa-apa, takut memicu debat yang pasti akan didominasi oleh kekasihnya. Kini ia menurut saja, apa yang hendak dikerjakan Danu.

Terus terang, di depan mas Danu, gadis itu tak berdaya sama sekali. Kebandelannya, kenakalannya, kekeraskepalaannya, sifat pemberontaknya … semua lenyap kalau sudah berhadapan dengan mas Danu. Pria itu bagai penuh otoritas, sesuai dengan jabatannya sebagai dosen. Biar bagaimana pun, Rima cuma seorang mahasiswi.

Sambil duduk diam-diam, Rima memandang pria itu memesan somay. Ia gagah sekali dalam kerapian dan kewibawaannya, pikir gadis itu. Terlalu gagah bahkan, untuk ukuran seorang dosen yang serius dan selalu menggunakan logika-logika rumit untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Tetapi, di balik kegagahan dan keseriusan itu, ia ternyata juga penuh berbalut emosi. Sewaktu pertama berkunjung ke tempat kost-nya, Rima agak kikuk menyambut pria yang selalu ia pandang dengan kagum di kelas itu. Tetapi, mas Danu datang dengan jeans dan kaos, menanggalkan atribut formalnya.

Terlebih lagi, ternyata pria itu juga penuh oleh kemesraan yang terpendam. Makanya, Rima akhirnya langsung dekat dan langsung terbawa hanyut oleh perasaannya sendiri, maupun oleh derasnya aliran kemesraan pria itu.

Hanya kini, setelah tadi mas Danu memperlihatkan sisi lain dari perasaannya, Rima menjadi kecut sendiri. Pria itu menunjukkan gejala-gejala kepemilikan. Memperlihatkan dominasi awal yang agak berlebihan. Kecemburuannya tampil agak menakutkan. Rima menggigit bibirnya. Bagaimana aku harus menghadapinya, bisik hatinya dalam kerisauan.

Tanya itu tak pernah terjawab, karena Danu sudah kembali ke mobil dengan dua piring somay. Mereka makan diam-diam. Lalu, setelah minum dua botol minuman ringan, Danu langsung membawa Rima ke rumah kontrakannya di pinggiran kota. Langsung pula mendahului memeluk dan mencium gadis yang masih kebingungan itu. Segalanya berlangsung dalam diam, tanpa basa-basi.

Rima masih mencoba mencerna apa yang terjadi pada mereka berdua. Tetapi remasan pria itu di dadanya membubarkan segala yang berkecamuk di pikirannya. Gadis itu mengerang, lalu berubah menjadi mahluk pasrah yang penuh dahaga birahi.

Seprai tempat tidur pria itu berantakan. Keringat mereka berdua membalut sekujur tubuh.
Semua terjadi tanpa sepatah kata pun dipertukarkan. Apa yang terjadi dengan symbolic interactionism? Rima sempat berpikir terakhir kalinya, sebelum deru orgasme menyita seluruh perhatiannya. Gadis itu mengerang, mengejang, mendesah dan menyerah.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

(Dikunjungi 1,028 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya