Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #40

Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #40

Kartu Berwarna Biru itu…

Cerita Cinta Dewasa – Pada hari ke-47 di kampung halamannya, Kino mendapat pengesahan untuk berangkat kembali ke B meneruskan kuliah. Dokter Hastini memberikan secarik resep vitamin. Kepada Ayah yang mengantar Kino, dokter setengah baya itu menegaskan bahwa pemuda itu kini sudah sehat sepenuhnya. Sudah bisa kembali ke bangku kuliah.

Kino merasakan kelegaan yang melapangkan dadanya.

Betapa membosankan menghabiskan waktu di kota yang semakin hari terasa semakin kecil saja. Walau ada novel dan buku-buku petualangan yang digemarinya, dan walaupun sebenarnya kepulangan kali ini diwarnai kisah Iwan-Karin yang seru, tetap saja Kino merindukan kota B tempatnya kuliah.

Merindukan bercanda sepanjang hari di kampus. Merindukan cubitan Rima dan gurauan Tigor yang tidak lucu. Juga merindukan Indi yang sudah mengirim setumpuk surat berisi celoteh ceriwis dan “se-abreg kangen” seperti katanya di salah satu halaman.

Tetapi tentu saja juga ada keengganan untuk meninggalkan Ayah, Ibu dan Susi yang merengek minta diajak ke B. Tentu saja ada gelisah manakala Kino melihat kembali pelataran rumahnya yang asri dan sejuk. Ia merasa roh kanak-kanak dan remajanya melekat di dinding-dinding ruang tamu berubin kuning licin itu. Kalau ia pergi ke B, akankah roh itu bisa tenang?

Susi menuduhnya “curang”, karena Kino sebelumnya berjanji akan tinggal 3 bulan penuh. Ini baru bulan kedua, kenapa sudah mau kembali ke B. Kino belum mengajak Susi naik gunung, sebagaimana yang dijanjikan.

Kino belum mengajak Susi naik motor ke kota M untuk membeli es krim yang terkenal di sebelah bioskop Setia. Kino juga belum memenuhi janjinya untuk memanjat pohon mangga di rumah Paman Hilman, karena memang pohon itu baru akan berbuah sebulan lagi.

Kino tidak menyahuti rengekan adiknya. Ia tenang saja memasukkan pakaiannya satu per satu ke koper. Susi mencubit-cubit di sana sini, tetapi Kino tak peduli. Ia bahkan tersenyum-senyum saja, karena tahu bahwa walaupun dijawab dengan alasan yang 1000 persen benar, Susi pasti akan tetap mencubit. Bagi gadis kecil itu, mencubit kakaknya adalah kewajiban!

Ayah membekalinya dengan dua buku baru tentang sejarah Amerika Serikat, dan Ibu membelikan sebuah jeans berwarna hijau khaki yang sangat ia sukai.

Susi memberikan sebuah buku berisi koleksi daun kering yang ia kumpulkan sejak Kino berangkat ke B tiga tahun silam. Semua itu masuk ke dalam koper besar berwarna hitam yang warnanya sudah agak pudar di sana sini.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Tengah malam, setelah Susi letih merengek dan tertidur di kamar Kino, dan setelah Ayah serta Ibu masuk ke kamar mereka untuk beristirahat, barulah pemuda itu selesai berbenah.

Ia memandang kamarnya seputaran dengan perlahan. Tembok yang retak di pojok. Lampu baca yang konon berusia sama dengan usia Ayah. Lemari baju bergaya Belanda yang juga konon sudah setua usia Kakek. Meja belajar yang kini kosong. Ranjang besi yang dilengkapi bingkai kelambu …

Kino menghela nafas panjang. Betapa kecilnya kamar itu kini terasa. Berbeda dengan dulu ketika ia masih anak-anak. Kamar ini terasa besar sekali; terlalu besar baginya. Sekarang, ketika dirinya sedang bersiap untuk pergi ke B, kamar itu terasa semakin kecil saja. Seperti mengkerut dan menciut. Ingin rasanya Kino mengantongi kamar itu di celananya, dan membawanya ke B agar ia tidak selalu rindu!

Lalu Kino membopong Susi dengan hati-hati, mengembalikan gadis kecil yang terlelap itu ke kamarnya di sebelah kamar pemuda itu.

Lalu Kino merebahkan tubuhnya yang penat di kasur, dan sebentar kemudian ia sudah ada di alam mimpi.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Pagi yang agak mendung menjadi pembuka hari terakhir Kino di kampung halamannya.

Ayah dan Ibu harus pergi ke kantor, dan mereka akan kembali sore hari untuk mengantar Kino naik bis malam. Susi harus ke sekolah, dan akan pulang secepat mungkin agar bisa mencubit kakaknya sebelum pemuda itu pergi jauh. Kino menikmati sarapannya sendirian di rumah yang sudah terbiasa sepi itu.

Pada suapan yang ketiga, sebuah ketukan ringan terdengar di ruang tamu. Cepat-cepat Kino meneguk teh manis untuk mendorong makanannya masuk ke perut. Lalu ia bangkit tanpa memakai sandalnya, bergegas menuju ruang tamu. Siapa gerangan?

Dari dalam, Kino hanya bisa melihat sebuah siluet. Tetapi itu saja sudah cukup…. ia sangat mengenal bayangan profil wajah itu! Langkahnya sejenak terhenti.

Dadanya berdegup keras. Mengapa dia ada di sini? Sambil menguatkan hati, pemuda itu melanjutkan langkah. Tak urung, lututnya terasa agak lemas juga. Kino tak pernah menduga kedatangannya di saat-saat seperti ini.

Dengan tangan agak bergetar, Kino menarik gagang pintu ke bawah, membuka kunci gerendel, dan menguak daun pintu lebar-lebar.

“Hai!” gadis itu menyapa dengan suara yang juga agak bergetar.
“Halo,” gumam Kino sambil melangkah mundur, menyisakan ruang lapang untuk gadis itu kalau ia ingin melangkah masuk.

Angin pagi yang agak dingin menyerbu masuk, membuat Kino sejenak bergidik. Berdirinya agak kikuk, dan selama dua menit keheningan menyelimuti ruang tamu.

Alma tersenyum samar, berdiri dengan menopang di satu kaki, menyangkutkan kaki lainnya di betis, dan menggoyang-goyangkan tangannya perlahan seperti bandul jam. Kino berdehem untuk memperlancar kerongkongannya yang terasa kering. Keheningan sepertinya akan berlanjut lebih dari dua menit.

“Boleh aku masuk?” akhirnya Alma berucap lembut.
Sudah tidak bergetar lagi, tetapi masih lemah seperti orang yang baru sembuh dari sakit panjang. Kino tertawa kikuk,

“Tentu saja …,” gumamnya sambil menyingkir lebih jauh, membiarkan Alma melangkah menuju salah satu kursi tamu.

“Silakan duduk,” kata Kino, tak tahu harus berkata apa lagi. Alma duduk tegak di kursinya. Senyumnya mengembang. Kino membalas dengan senyum. Keduanya saling pandang. Keheningan terbentuk lagi dengan cepat.

“Aku pulang kemarin,” ucap Alma tanpa melepaskan pandangannya.
“Libur?” tanya Kino, menelusuri telaga yang dulu pernah ia renangi, dan kini masih berkerejap indah. Alma mengangguk. Rambutnya yang kini sebahu itu bergerak-gerak seperti serombongan penari di atas panggung. Rambut yang dulu sering dibelai sayang dan disandarkan ke dada …

“Bagaimana kesehatanmu?” tanya Alma ketika Kino tak berkata sepatah pun.
“Aku berangkat ke B malam ini,” kata Kino, lalu melanjutkan dalam hati: … dan aku tidak bisa menukar tiketnya.

Sejenak kedua mata Alma yang indah itu membiaskan kekecewaan. Sejenak saja, tetapi sudah cukup tertangkap oleh Kino. Cepat sekali kemudian bias itu tersaput oleh kabut lain, entah apa Kino tak tahu. Alma menunduk dan menggumamkan sesuatu.

“Kenapa?” tanya Kino karena ia memang tidak mendengar ucapan Alma. Gadis itu mengangkat mukanya,
“Tidak apa-apa,” katanya.

“Berapa lama akan libur di sini?” tanya Kino sambil menerka-nerka apa gerangan yang tadi digumamkan oleh bibir merah jambu itu.
“Cuma dua hari,” kata Alma, lalu cepat-cepat meneruskan “Aku membawa sesuatu untuk kamu.”

“Apa?”
“Ini…,”
“Apa ini?” Kino mengulurkan tangan, menerima sebuah amplop biru muda.

“Undangan,” ucap Alma pelan.
“Undangan apa?” tanya Kino sambil membolak-balik amplop yang berisi inisial dari dua nama di pojok kanan atas: A dan D.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Alma diam saja. Kino menahan nafasnya selama 10 detik. Lalu pemuda itu membuka amplop yang kini ia telah tahu isinya: Sebuah kartu biru yang indah, dengan gambar bunga-bunga putih sebagai bingkainya, dan sebuah tulisan perak: Alma – Devan … lalu tanggal 10 September tahun ini … lalu tulisan lain yang lebih kecil: bertunangan…..

Kino tersenyum sambil membuka kartu itu dan membaca seluruh isinya.

Tiba-tiba saja datang sebuah rasa sejuk entah dari mana memenuhi dada pemuda itu. Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah kebahagian yang mendadak lepas sontak dari lubuk hatinya. Alma akan bertunangan dengan Devan,…. siapa itu ia tidak kenal.

Alma kemudian akan menikah,…. entah kapan ia tak tahu. Alma kemudian akan resmi menjadi nyonya,…. berapa anaknya ia tak bisa menduga. Alma akhirnya benar-benar bukan pacarku lagi ….

Alma memandang tegang ke arah pemuda yang dulu merengkuh bahunya mesra. Yang dulu mencium bibirnya sangat lembut dan sangat memanjakan. Yang dulu membuat dadanya selalu bergelegak meronta. Yang dulu meremas ….

Alma menggigit bibirnya, pikirannya dipenuhi percakapan monolog:… Apakah ia kecewa?…. Alma teringat hayalan mereka berdua: kita akan menikah dan punya tiga orang anak… bukan… dua saja sudah cukup…. ah, seperti slogan KB… kalau perlu empat… terlalu banyak!… ah, kamu cerewet…

“Selamat, ya!” ucap Kino agak terlalu keras dari yang diduga Alma, membuat gadis itu sedikit tersentak.

“Aku akan datang,” lanjut Kino lalu mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Alma tidak menyambut uluran tangan itu. Kino mengernyitkan dahinya. Tangannya mengambang di udara. Alma menggigit bibirnya keras-keras. Sebersit kesedihan menyaput kedua matanya. Bahkan ada genangan air di sana.

“Aku akan datang,” desah Kino, menurunkan tangannya.
“Maafkan aku, Kino,” bisik Alma sambil memandang lekat dengan mata yang semakin basah. Kino menghela nafas panjang, dan menghempaskannya dalam desah.
“Aku akan datang, dan tidak ada yang perlu minta maaf,” katanya serak.

Alma menunduk sejenak. Menghapus kedua matanya dengan sebuah sapu tangan mungil yang sudah berbentuk bola karena sejak tadi diremas-remas. Lalu ia mengangkat mukanya, dan sejenak Kino ingin sekali meraih wajah itu dan mendekapnya di dada, dan membelai rambutnya, dan mengecup keningnya …

“Aku akan datang, Alma. Tidak ada yang perlu minta maaf, tidak ada yang perlu dimaafkan,” kata Kino dengan suara yang ia sendiri tidak begitu mengenalnya. Mungkinkah itu suara malaikat yang meminjam mulutnya?

“Aku mengecewakan kamu, Kino,” bisik Alma. Kino berusaha tertawa, tetapi tentu saja suaranya sumbang.

“Aku tidak kecewa. Aku ikut bahagia,” katanya, dan sekali lagi ia tak begitu yakin bahwa yang bicara adalah dirinya sendiri.

“Aku tidak bisa mencintaimu lagi,” bisik Alma tak peduli,
“Walaupun aku sering rindu ingin berjumpa.” Kino terdiam. Benar saja apa yang ia duga sejak dulu: sekerat cinta dan sepotong rindu belum tentu berada dalam satu hati.

“Aku tak tahu, apakah kamu masih mencintaiku,” lanjut Alma menundukkan kepala dan menghapus air matanya lagi.

Kino tetap diam. Apakah aku masih mencintainya, atau hanya merindukannya? Atau tidak keduanya. Atau di antara salah satunya. Atau kedua-duanya. Atau …

“Kamu berhak memarahiku,” kata Alma, mengangkat muka dan memandang dengan mata basah.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kino tak bisa menahan tangannya yang naik ke wajah gadis manis di depannya. Tak bisa mencegah jemarinya menghapus air mata yang tersisa di bawah kelopak. Tak kuasa mencegah tangan yang lain naik mengusap rambut legam halus itu. Ia berpindah duduk ke sebelah Alma.

Alma membiarkan dirinya didekap lembut. Alma menyandarkan seluruh tubuhnya ke dada yang bidang itu. Lalu ia menangis sepuasnya. Menangis sampai dadanya terasa letih tetapi penuh kelapangan.

Tak kurang dari 10 menit lamanya ia menangis, membuat kaos Kino basah, dan pemuda itu tak peduli. Ia terus mendekap sayang. Ia terus menyediakan dadanya untuk tumpahan perasaan yang tertahan tiga kali 12 bulan lamanya itu.

Hujan turun rintik-rintik. Suara tik-tik-tik menerpa jendela kaca yang berembun. Suara angin menggoyang-goyang dedaunan ramai sekali. Alma sesenggukan di ujung tangisnya. Kino diam saja merasakan dadanya hangat oleh airmata. Hujan masih terus rintik-rintik.

Lalu Alma berhenti menangis … tertawa kecil dengan suara sengau. Cengeng! sergahnya dalam hati, tetapi nuraninya tersenyum. Dengan Kino, ia biasa bercengeng-cengeng. Entah kenapa, bagi Alma pemuda itu adalah muara tangis semata. Lalu gadis itu melepaskan diri dari pelukan Kino, memohon pamit.

“Aku akan datang,” kata Kino sambil tersenyum, tetapi Alma melihat kekeruhan di kedua mata pemuda yang pernah ia kasihi itu.

“Terimakasih,” bisik Alma, lalu ia mencium pipi pemuda itu secepat kilat. Kino diam saja. Ciuman itu memang harus dilakukan secepat kilat, karena kalau tidak …. Alma bangkit dengan kikuk, dan sekali lagi memohon pamit.

Kino mengantarnya sampai di depan pintu, memandang gadis yang dulu menyita hari-harinya itu membuka payung dan menembus hujan tanpa berkata apa-apa lagi. Tirai air segera menjadi kaca pembaur yang semakin lama membuat bayangan Alma semakin tidak jelas.

Lalu hujan turun deras sekali. Kino terpaku di ruang tamu. Di radio terdengar sebuah lagu mengalun …

Once I had a love and it was a gas / soon turned out a heart of glass
Seemed like the real thing, only to find / mucho mistrust, love’s gone behind
Once I had a love and it was divine / soon found out, I was loosing my mind
Seemed like the real thing, but I was so blind / mucho mistrust, love’s gone behind [Heart of Glass by Blondie]

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Sore harinya, Ayah, Ibu dan Susi mengantar Kino ke terminal bis. Hujan sangat lebat dan Ibu sempat kuatir tentang keselamatan bis malam yang akan membawa Kino pergi. Wanita itu bahkan menyempatkan diri datang ke supir bis yang sedang minum kopi di sebuah warung. Supir itu tertawa sopan mendengar Ibu menitipkan anaknya.

Ia biasa menerima pesan seperti ini, dan baginya itu adalah semacam doa agar ia juga selamat. Kino berdiri memeluk bahu Susi di pelataran terminal. Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum bis berangkat.

“Ada tiga puluh dua macam daun di buku itu, Kak!” ucap Susi sambil memeluk pinggang kakaknya, “Jangan sampai ada yang hilang ..” Kino tersenyum,
“Tidak akan hilang. Buku itu akan aku letakkan di sebuh kotak khusus.”

“Jangan lupa memberi kapur barus,” sergah Susi penuh peringatan,
“Bu guru bilang, daun-daun kering itu disukai ngengat. Sebab itu perlu kapur barus untuk mencegah binatang itu masuk.”

“Jangan kuatir,” sahut Kino, “Semua peringatan kamu sudah Kakak hapalkan!” Susi merajuk, merangkul pinggang kakaknya, dan mencubiti lengannya yang kukuh itu.
“Jam berapa nanti kamu sampai di B?” tanya Ayah sambil menepuk bahu putranya.
“Siang hari, kalau lalulintas lancar. Atau paling lambat sebelum pukul 5 sore,” jawab Kino.

“Sudah kau kabarkan kedatanganmu ke pemilik rumah kost?” tanya Ibu, seperti sudah lupa bahwa ia bertanya hal yang sama tiga kali dalam sehari!
“Sudah, Bu …,” jawab Kino sabar,

“Saya juga sudah menginterlokal Ridwan, minta tolong dia menjemput dengan mobilnya. Lumayan, barang bawaanku cukup banyak.” Ayah tersenyum,
“Beruntung kamu punya sahabat yang punya kendaraan, Kino!”
“Ya,” sambung Ibu,

“Jangan lupa sampaikan salam kami kepada sahabat-sahabatmu.” Kino mengangguk, dan di saat yang itulah ia melihat Alma muncul bersama ibunya. Kino segera mengangguk sopan kepada ibu Alma, menggumamkan terimakasih.

Ayah dan Ibu juga melihat kedatangan mereka, dan Ibu segera menyambut “calon besan yang gagal” itu dengan kehangatan sesama ibu-ibu. Ayah menerima salam Alma, lalu juga bergabung dengan Ibu menemui ibu Alma. Susi menyingkir, membiarkan kakaknya berhadapan dengan Alma berdua.

“Hai, Susi … kamu tambah cantik saja!” sapa Alma, membuat Susi tersipu. Lalu kepada Kino,
“Selamat jalan, Kino.” Kino menerima jabatan tangan Alma.

Ah, aneh sekali rasanya berjabat tangan dengan bekas pacarmu. Seharusnya, jabat tangan hanya dilakukan untuk mengakhiri pertemuan bisnis, atau untuk mengakhiri sebuah perundingan antar negara. Tetapi mungkin juga kita perlu berjabat tangan untuk mengakhiri sebuah percintaan. Setidaknya, di terminal yang ramai seperti ini, jabat tangan adalah satu-satunya pilihan. Tidak mungkin berpelukan ….

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Terimakasih,” sahut Kino setelah melepaskan jabatannya yang cuma berdurasi 3 detik itu.
“Langsung kuliah?” tanya Alma sekedar membuka percakapan.
“Tidak. Menunggu semester berikutnya,” sahut Kino.
“Senang kembali ke B?” Kino tersenyum saja, memainkan ujung sepatunya di lantai beton pelataran terminal.

“Aku akan sangat sibuk minggu depan, banyak praktek dan ujian praktek,” kata Alma.
“Sebentar lagi kamu akan jadi dokter,” kata Kino.
“Oh, itu masih lama!” sergah Alma sambil mengibaskan anak rambut di dahinya.
“Bagaimana dengan Devan?” tanya Kino, lalu menyesal bertanya seperti itu. Alma mengangkat bahu,

“Dia akan segera lulus tahun depan. Mungkin langsung bekerja di sebuah perusahaan asing, karena di kampus sedang berlangsung open day untuk calon-calon sarjana.”
“Kamu beruntung ..,” ucap Kino, lalu menyesal lagi mengucapkan itu. Alma tersenyum,

“Ya, dia memang termasuk salah satu mahasiswa teladan. Mungkin kami akan menikah segera setelah dia mendapat pekerjaan.” Sebuah bis malam memasuki pelataran parkir. Suaranya bising sekaligus perkasa. Mesin besar itu mampu mengangkut puluhan orang ke tempat-tempat yang sangat jauh, menembus malam gelap.

Alma dan Kino berhenti bercakap-cakap. Suasana tiba-tiba berubah kikuk. Ibu sempat melirik ke arah keduanya, dan tersenyum tipis ke arah Kino. Jam dinding di terminal menunjuk ke angka 7.

Pelataran mulai ramai oleh orang-orang yang saling berpamitan dan naik ke atas bis. Supir bis sudah terlihat bangkit dari duduknya dan menandatangani buku keberangkatan di kantor perusahaan bis. Sebuah motor memasuki terminal. Itulah Iwan, datang dengan pakaian kerja.

“Hei … jangan lupa tulis surat!” teriaknya masih di atas motor.
“Kamu bisa membaca?” sahut Kino sambil tertawa.

“Halo Alma!” sapa Iwan, agak kaget melihat gadis itu ada di sebelah Kino.
“Hei, Iwan!” sahut Alma riang,
“Kirain sudah lupa kepadaku.”
“Tak mungkin lupa!” sahut Iwan sambil mematikan motornya, tetapi tidak turun.

“Dia akan bertunangan, Wan!” tiba-tiba Kino berucap begitu, sebelum sahabatnya sempat bertanya macam-macam. Iwan membuka mulutnya, tetapi tak berkata apa-apa. Bergantian, ia memandang Kino dan Alma dan bertanya-tanya dalam hati dengan tegang: mungkinkah? Jawabannya datang dari Alma,

“Ya .., aku akan mengirim undangannya besok. Acaranya di ibukota, tetapi Devan akan datang besok bersama orangtuanya. Akan kukenalkan dia kepadamu!”

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Iwan bernafas lega. Devan, nama pemuda itu. Huh,.. aku kira si Kino berbohong tentang cerita-ceritanya tentang Trista! Kino tersenyum dalam hati.

Tahu apa yang ada di pikiran Iwan. Ia juga lega karena Iwan muncul di saat kebekuaan sedang terbentuk antara dirinya dengan Alma. Kino juga sangat lega ketika akhirnya klakson bis berbunyi, meminta semua penumpang naik.

Dengan cepat ia memeluk Ayah, Ibu dan Susi untuk berpamitan. Ia juga menjabat ibu Alma dengan sopan, mengucapkan terimakasih.

Kemudian ia menjabat tangan Iwan dan meninju bahu sahabatnya itu. Sedangkan dengan Alma, ia tidak melakukan apa-apa lagi. Ia cuma memandang dan tersenyum tipis.

Di atas bis, dari jendela besar, Kino memandang keluar ketika bis mulai bergerak.

Aneh sekali rasanya, melihat Alma berdiri di pelataran melambaikan tangannya. Sebab, bertahun-tahun yang lalu, dia lah yang berdiri melambai di sana ….

Selamat tinggal semuanya, sampai berjumpa lagi… bisik Kino dalam hati. Bis bergerak gesit meninggalkan terminal. Langit sudah mulai gelap.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

(Dikunjungi 1,094 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya