Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #18

Cerita Cinta Dewasa – Pucuk Limau Pelangi #18

Musim Badai Tiba (2)

Cerita Cinta Dewasa – Sony termangu di meja kerjanya yang besar dan penuh dokumen. Di tangannya ada sebuah foto dalam bingkai kayu indah berukuran postcard. Mata lelaki ini tampak sendu memandang wajah di foto itu.

Sebuah wajah yang tersenyum dengan posisi agak miring. Cantik sekali berlatar belakang dedaunan yang tampak kabur karena berada di luar fokus kamera. Fokusnya adalah pada wajah itu, yang tampak sangat bahagia dengan mata memancarkan keriangan.

Di bagian bawah foto, di sudut kanan dekat bagian lengan, ada sebuah tulisan tangan memakai tinta berwarna keemasan: ..untuk Sony, .. with love, Pristi. Lalu ada sebuah tandatangan berhias gambar hati.

Foto ini sengaja disimpan Sony di laci meja kerjanya. Di kamar tidurnya yang luas tidak ada foto itu. Bahkan di seantero rumah, foto-foto Pristi telah diturunkan, disimpan di sebuah lemari yang jarang dibuka. Sony sengaja menghilangkan citra mendiang istrinya, agar kenangan manis yang menyakitkan hatinya tak selalu datang.

Tetapi ia tak bisa menghapus bayangan Pristi secara tuntas. Ia tetap perlu memandang wajah terkasih itu, terutama di saat-saat penuh galau. Misalnya, ketika bisnis sedang bergejolak, atau ketika dunia terasa memusuhinya. Seperti saat ini…

Lelaki bergelar MBA lulusan Princeton, Amerika Serikat ini menghela nafas panjang dan kembali merenung. Tadi malam ia bertengkar dengan Trista, adik Pristi yang dinikahinya beberapa saat setelah kecelakaan fatal yang memporak-porandakan mahligai perkawinan mereka.

Pertengkaran itu tidaklah hebat, tidak disertai teriakan-teriakan sebagaimana layaknya suami-istri bertengkar. Tidak ada piring-piring yang dibanting atau barang-barang yang dilempar. Tetapi tetap saja bagi Sony itu adalah sebuah pertengkaran, yang berisi pertukaran kalimat-kalimat tak wajar.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

“Kamu marah?” tanyanya malam itu ketika Tris seperti menepis sentuhan di pundaknya.

“Tanganmu berkeringat, aku tidak suka..,” jawab Tris ketus.

“Kemarin kenapa terlambat menjemput Ria?” tanya Sony seperti menganggap topik sebelumnya tak pernah ada. Memang ia sebetulnya tidak ingin mempersoalkan tepisan atau basah-tidaknya tangan.

“Cuma terlambat 10 menit,” ucap Tris sambil menuju meja rias, “Lagi pula Ria masih asyik bermain dengan teman-temannya ketika aku datang.”

“Dengan siapa dia bermain?”

“Kalaupun kusebut nama mereka, mas Sony tidak kenal.”

Sony menghela nafas, “Aku sibuk di kantor, tak pernah bisa menjemput Tris..”

Tris diam, menyisir rambut dan mengurus wajahnya seperti tak peduli pada ucapan Sony. Lelaki itu kesal, merasa diremehkan, dan terlebih lagi merasa Tris menghindari percakapan yang baginya wajar: ia ingin tahu keadaan anaknya. Ia ayahnya.

“Kamu sudah beli kembang untuk tambahan koleksi taman di villa?” Sony mencoba topik lain.

“Sudah sebulan yang lalu. Kenapa baru tanya sekarang…” jawab Tris sambil terus mengurus wajahnya.

“Aku sibuk, Tris…,”

Tris diam lagi, tak bereaksi atas pengakuan Sony tentang kesibukan itu. Lelaki itu tambah kesal. Kenapa Tris tidak pernah ramah kepadanya belakangan ini? Apakah betul cerita-cerita angin yang sudah didengarnya tentang seorang pemuda yang sering terlihat bersamanya?

“Bagaimana gigi Ria, apakah sudah diperiksa ke dokter?” Sony masih mencoba topik lain. Tetapi itulah kesalahannya, ia seperti sedang menginterograsi Trista.

Sehingga wanita ini bereaksi keras, membalikkan tubuhnya dan berkata pelan tetapi ketus, “Sudah kami lakukan tiga bulan yang lalu. Sudah kulaporkan ke mas Sony dua dua minggu yang lalu karena mas Sony ada di Singapur ketika kami ke dokter. Sudah beres semuanya. Gigi Ria sudah rapi dan sehat terawat….. Puas?”

“Kenapa marah?” sergah Sony sambil bangkit mencari-cari sendal jepitnya. Sial, kemana benda-benda itu sewaktu diperlukan?

“Aku tidak marah.” jawab Tris, lalu berbalik kembali menghadap cermin dan mengurus wajahnya. “Tetapi tolonglah, mas. Sesekali tanyakanlah hal-hal itu ke Ria sendiri.”

“Dia selalu sudah tidur sewaktu aku pulang,” gumam Sony sambil terus mencari-cari sandalnya.

“Kalau begitu, pulanglah lebih cepat,” kata Tris.

“Kemana sandalku, Tris?” tanya Sony mengalihkan topik. Percakapan mereka sudah tidak karuan ujung pangkalnya.

“Mungkin di kamar mandi..,” ucap Tris sambil bangkit dan menuju tempat tidur.

Sony menuju kamar mandi sambil berucap, “Malam ini ada film bagus di televisi…”

“Aku mengantuk,” jawab Tris pendek sambil mulai merebahkan diri di ranjang, miring menghandap tembok dan segera memejamkan mata.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Sony terus mencari-cari sandalnya di kamar mandi. Tidak ada di sana, ia pindah ke luar kamar dan berteriak ke pembantu yang terdengar tergopoh-gopoh datang dari arah belakang.

Lalu terdengar lelaki itu marah karena sandal tetap tidak ditemukan di luar kamar. Di mana benda-benda keparat itu? sergah Sony dalam hati.

Akhirnya ia melupakan sendalnya dan duduk di depan televisi sendirian menonton sebuah film laga. Baru setengah bermain, lelaki itu merasa mengantuk dan masuk ke kamar tidur. Ia merebahkan tubuhnya setelah mencium pipi Trista yang tampak sudah terlelap.

Ia berusaha mencium dengan penuh perasaan, tetapi ia sendiri akhirnya merasa gagal. Ciuman itu terasa hambar. Seperti sebuah gerakan otomatis yang tidak dimotori oleh rasa. Seperti sayur tanpa bumbu.

Apalagi yang dicium juga sudah tertidur. Tidak ada rasa apapun yang timbul di dada Sony setiap ia mencium wanita itu. Tidak seperti ketika ia mencium mendiang Pristi ….

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Suara sekretaris di interkom menyentak lamunan Sony.

“Tamunya sudah datang, Pak!”

“Oh ya. Suruh masuk saja Endah, dan tolong buatkan kopi untuk dia dan saya,” kata Sony sambil bergegas bangkit.

Tidak lama kemudian tamu itu masuk. Sony menyalaminya di pintu, dan mempersilahkan tamunya duduk. Nama tamu itu adalah Douglas McCoy, seorang warganegara Inggris pemilik perusahaan yang kini patungan dengan perusahaan Sony.

Maksud kedatangannya adalah untuk membicarakan tahap akhir rencana mereka, yaitu mengembangkan pabrik di dekat ibukota agar bisa menjadi pemasok ke seantero ASEAN. Setelah sejenak berbasa-basi, percakapan bisnis pun dimulai.

“Saya sudah contact London, and mereka setuju seluruh iteniary kita,” ucap Douglas yang sudah fasih berbahasa Indonesia tetapi masih sering bicara gado-gado itu.

Sony menangguk-angguk,”Apakah Pak Douglas juga bilang bahwa my daughter will also go.. dan karena itu she needs to go to school there..”

“Oh, ya..Ya. Dont worry about that Pak Sonny,” ucap Douglas bersemangat sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menambah eskpresi.

“Bagus, kalau begitu. And I think one year will be enough for me to get to know the business.. Lalu, we’ll see… apakah saya perlu terus di sana for some more years atau tidak,” kata Sony, sambil mempersilakan tamunya minum.

Douglas menghirup kopinya, “And while you’re there,.. mungkin juga istri bapak bisa going to school and get a master degree or what..,” katanya.

“Aahh, ya.. ya..,” jawab Sony, “That’ll be a great idea..”

“Saya belum pernah bertemu istri bapak,.. how is she doing?”. Sony tertawa kecil, menyembunyikan kerisauannya, karena sebetulnya ia sendiri tidak yakin apakah Trista akan setuju dengan rencana ini. Ia belum pernah membicarakannya!

“She’s fine, thank you… but, y’know.. dia memang kurang suka business.. Tetapi, my fault.. I should’ve brought her in more often..,” kata Sony.

Lalu Douglas membicarakan lagi rincian rencana mereka. Sony akan bekerja di London, di kantor pusat perusahaan GlobeTel yang bergerak di bidang telekomunikasi. Di sana ia akan memantau langsung proses pembuatan alat-alat elektronik telekomunikasi yang nantinya akan dibuat di Indonesia.

Dengan bekerja di kantor pusat itu, diharapkan Sony bisa menguasai sepenuhnya proses produksi, sehingga perusahaannya di Indonesia bisa lebih mantap bermitra dengan GlobeTel.

Sebetulnya, sudah berkali-kali Sony bermaksud membicarakan rencana ini dengan Trista, tetapi selalu ditunda. Ia pernah menyebut-nyebut soal ini secara singkat, tetapi tidak pernah bisa berkembang menjadi diskusi.

Bukan saja karena Trista tampaknya kurang memperhatikan kehidupan bisnis suaminya, tetapi juga karena Sony selalu kekurangan waktu untuk berbincang-bincang serius. Ia selalu pulang malam, dan seringkali tiba di rumah pada saat Trista atau Ria sudah tertidur.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Setelah Douglas pulang, Sony memanggil sekretarisnya, memintanya untuk menunda semua agenda direktur hari ini. Endah terpana, “Semuanya, Pak?”

“Ya.. semua. Termasuk makan siang dengan beberapa clients.. Bilang saja saya tiba-tiba harus keluar kota,” kata Sony sambil menekan tombol telepon untuk mengontak rumah. Ia perlu bicara dengan Trista.

“Rapat kita siang ini bagaimana, Pak?” Endah masih belum yakin..

“Semuanya. Kamu ngga ngerti arti ‘semua’, ya!?” ujar Sony gusar, membuat Endah terburu-buru mengangguk dan keluar kamar untuk segera membatalkan semua rencana big boss.

“Halo, Tris..,” Sony bicara di telepon, “Bagaimana kalau kita makan siang bertiga hari ini?” Terdengar suara Trista pendek, ‘boleh’ katanya.

“Aku jemput kamu, dan nanti kita bersama ke sekolah. Okay?” ucap Sony, dan setelah mendapat jawaban setuju dari seberang sana, ia segera meletakkan gagang telepon.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Trista tampak cantik dan segar ketika Sony tiba di rumah. Ah,.. dia memang selalu cantik mempesona, gumam lelaki itu sambil mencium pipi istrinya.

Wangi segar dari tubuhnya yang masih dibalut gaun mandi menyerbu hidung Sony, membuat sejenak lelaki itu punya pikiran untuk menunda makan siang dan mengajak Trista bercumbu. Tetapi mungkinkah?

“Kamu harum sekali…,” Sony mencoba ramah untuk mencairkan suasana yang beberapa hari ini agak membeku. T

rista tersenyum, merasa tersentuh oleh upaya lelaki itu, yang biar bagaimanapun adalah suaminya. Diraihnya tas kerja Sony, diletakkannya di meja, lalu ia menawarkan kopi.

Sony lega melihat senyum dan mendengar tawaran kopi. Trista ternyata masih ramah. Itu sudah cukup. Ia tidak perlu mencintaiku, gumam Sony dalam hati.

Aku tak berhak meminta cintanya. Ia bukan Pristi, walau sedarah-sedaging. Bukankah cinta tidak bersumber di darah dan di daging, melainkan di hati? Tetapi, terbuat dari apakah hati manusia?

“Tak usahlah,.. nanti kita terlambat menjemput Ria” jawab Sony menolak tawaran kopi.

“Sebetulnya Ria baru pulang jam tiga, mas…,” kata Trista sambil menerima dasi suaminya, melipat dan memasukkannya ke laci khusus untuk dasi.

“Tidak bisakah kita minta dia pulang lebih cepat,.. lalu kita ajak makan siang?”

Trista tersenyum dalam hati… dasar pengusaha, selalu merasa segala sesuatunya bisa diatur. Tetapi Trista tidak berkeinginan mendebat Sony siang ini, sehingga ia bilang hal itu bisa dilakukan dan ia siap berangkat setelah berganti pakaian.

Sony duduk diranjang, mengganti baju kerja dengan kaos dan membuka sepatu untuk memakai sandal kulit. Trista membuka gaun mandinya, berdiri di depan lemari mencari-cari pakaiannya.

Sony menelan ludahnya sendiri, melihat tubuh Trista yang mulus dan molek terpampang indah di depannya. Segera terbayang tubuh mendiang istrinya, dan sebuah kerinduan hewani diam-diam menyelinap di dirinya. Betapa ia sangat merindukan Pristi kalau melihat Trista telanjang bulat begitu.

Betapa ia teringat masa-masa bergairah dulu, yang tiba-tiba terputus oleh kecelakaan keparat itu. Betapa sejak itu hidupnya hancur, termasuk kehidupan seksualnya. Sony kini menjadi lelaki yang sangat berbeda…. yang tidak lagi bisa berfungsi sempurna, walaupun tetap punya gairah.

Diam-diam Trista merasakan pandangan suaminya melekat ke tubuhnya. Ah,.. kasihan sekali lelaki itu, desahnya dalam hati. Terkadang ia merasa sangat bersalah karena tidak melayaninya dengan tulus. Tetapi, bagaimana aku bisa tulus melayaninya, kalau aku tidak mencintainya?, gumam Trista dalam hati.

Bagaimana aku bisa memberi apa yang dimintanya, kalau setiap sentuhannya terasa ganjil? Setiap percumbuan terasa hambar bagi Trista, dan ia lebih sering tergeletak pasrah membiarkan suaminya tergesa-gesa melepas birahinya.

Sony bangkit mendekati istrinya, berucap dengan suara agak bergetar,

“Kamu cantik sekali…”

Trista tersenyum, “Jangan terlalu sering memuji, mas..”

Sony berdiri dekat sekali, membuat bulu kuduk Trista agak meremang, apalagi mendengar ucapannya, “Betul-betul cantik. Membuatku ingin…..”

Trista menghela nafas dalam-dalam, menguatkan hatinya. Biar bagaimana pun, lelaki yang nafasnya terasa hangat menyerbu tengkuknya ini adalah suaminya. Aku tak mungkin terus menerus menyiksanya, gumam Trista dalam hati.

Dibiarkannya Sony memeluk dirinya dari belakang, menciumi kuduknya dengan bergairah. Ia memutuskan untuk melayani kemauan lelaki itu. Toh masih ada waktu sebelum menjemput Ria.

Sony merasa mendapat keleluasaan, dan gairahnya dengan cepat bangkit seperti kereta-api ekspres yang siap meninggalkan peron stasiun. Tangannya yang sejak tadi sudah gemas melihat kesintalan Trista segera beraksi, menjelajah dan meremas penuh dahaga seksual.

Trista memejamkan matanya, membiarkan Sony bergerak sesuka hati. Tetapi, bersamaan dengan tertutupnya kelopak mata, tertutup pula seluruh pintu perasaannya. Apa boleh buat, itulah satu-satunya cara wanita ini bisa menerima Sony!

Lelaki itu dengan penuh birahi meremas-remas payudara Trista, membuat pemiliknya meringis. Lelaki itu senang sekali dengan bagian tubuh yang sangat menggairahkan dan sangat kenyal ini. Berlama-lama ia menjelajahi dan menggerayangi dada Trista, sambil terus mencium tengkuknya yang jenjang dan harum semerbak.

Tidak peduli ia, walaupun tahu bahwa wanita yang sedang dicumbunya ini hanya diam saja seperti tak bernyawa. Tidak peduli ia, karena toh di dalam hayalnya Sony juga membayangkan almarhum Pristi.

Bagi lelaki itu, percumbuan dengan Trista hanyalah mediator bagi hubungannya dengan wanita yang ia sangat kasihi itu,… yang kini nun jauh di dunia sana!

Trista membiarkan dirinya dibopong Sony ke tempat tidur. Membiarkan suaminya menelentangkan dirinya dan menciumi dada serta lehernya. Mata wanita itu tetap terkatup, dan nafasnya teratur seperti orang tidur. Sony tetap tidak peduli.

 

Cepat-cepat ia membuka resleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah tegak-tegang sejak tadi. Dengan sekali gerakan, diangkatnya kedua paha Trista, dikuakkannya dengan lebar. Tanpa basa-basi, Sony mendorong masuk kelaki-lakiannya…

“Ah!” Trista menjerit kecil sambil meringis kesakitan. Ia belum siap sama sekali.

“Maaf!” desah Sony, tetapi ia tetap mendorong masuk, dan terpaksa ikut meringis karena ikut kesakitan. Tetapi lelaki itu bertekad untuk menyelesaikan permainan ini secepat mungkin. Maka ia terus mendorong, dan segera menggenjot sepenuh hati.

Setelah beberapa saat, cumbuan mulai lancar, dan Trista membuka dirinya selebar mungkin, memberikan keleluasaan bagi mereka berdua. Wanita ini sudah hapal dengan perilaku seksual Sony yang serba cepat dan serba ringkas.

Tidak lama kemudian, pada dorongan yang belum mencapai hitungan selusin, Sony sudah menggeram dan menumpahkan cairan cintanya di rahim Trista. Sejenak lelaki itu menyandarkan tubuhnya yang kini terasa lunglai di tubuh Trista. Lalu pelan-pelan ia bangkit, dan akhirnya terguling ke samping disertai desah menyatakan terima kasih.

Trista pun bangkit, menjaga dengan tangan tertakup di kewanitaannya agar cairan cinta Sony tidak tumpah ke mana-mana, sambil berjalan ke kamar mandi untuk berbasuh.

Percumbuan mereka berlangsung tidak lebih dari 10 menit!

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Ria memesan hamburger kesukaannya, lengkap dengan es krim yang disediakan di gelas tinggi yang melebihi tinggi kepalanya ketika duduk. Bahagia sekali Sony melihat putrinya makan dengan lahap dan berceloteh tentang sekolahnya. Trista ikut bahagia melihat ayah-anak itu rukun dalam peristiwa yang sangat langka ini.

Belum pernah Sony sempat makan siang dengan anaknya. Bahkan akhir pekan pun sering digunakan Sony untuk meninjau pabrik atau main golf dengan rekan-rekannya.

Trista sebenarnya tidak peduli, tetapi ia kasihan melihat anak perempuan mendiang kakaknya tumbuh tanpa kasih sayang ayah. Untung kakeknya (ayah Pristi dan Trista) sangat dekat dan menyayangi cucunya yang cantik ini.

Lalu mereka pun bersantap dengan lahap, dan Sony menyatakan maksud sesungguhnya dari makan siang bersama ini.

Trista sebenarnya sudah siap sejak Sony menelpon tadi. Ia sebenarnya terkejut ketika Sony mengajak makan siang, dan kemudian menguatkan hati untuk menerima apa saja yang akan dipersoalkan lelaki itu. Bahkan ia sudah bersiap untuk yang terburuk, yaitu membicarakan hubungannya dengan Kino.

“Sebentar lagi kita harus pindah ke London, Tris…,” ucap Sony setelah berdehem.

“Kita?” tanya Trista dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Sony tidak mengangkat mukanya dari makanan yang sedang dinikmati. Ia agak gentar juga.”Ya. Saya, Ria dan kamu…,” katanya. Trista menghentikan suapannya. Nasi uduk kegemarannya terasa seperti pasir.

“Saya tidak pernah tahu rencana itu,” ucapnya dengan suara agak bergetar.

“Saya pernah mengutarakannya.”

“Tidak. Tidak pernah,” kata Tris sambil meletakkan sendok-garpu dan melap mulutnya. Ia tidak ingin melanjutkan makan.

“Memang tidak mendetil. Tetapi saya pernah bilang akan ke London,” ucap Sony sambil mencoba menahan gejolak di hatinya. Ia menduga sebentar lagi wanita di depannya ini akan meledak marah.

“Betul…… Mas Sony ke London. Saya dan Ria tidak,” ucap Tris sambil menahan suaranya yang tiba-tiba meninggi tanpa disadari.

“Tetapi saya akan di London agak lama. Mungkin dua tahun,” kata Sony, “..dan saya ingin Ria sekolah di sana.”

Trista menahan marahnya. Lelaki ini sungguh egois! jeritnya dalam hati. Mengapa ia cuma berpikir tentang Ria dan dirinya sendiri? Dengan muka merona merah, wanita ini berkata pelan tetapi ketus, “Baiklah. Selamat jalan. Saya tidak ikut.”

“Tetapi dia butuh kamu….,” kata Sony sambil menghentikan suapannya. Bakmi goreng di depannya seperti berubah menjadi sampah.

“Kalau begitu dia tinggal di Indonesia!” sergah Trista sambil membereskan diri dan mendorong kursi.

“Mau kemana kamu?” Sony mengangkat muka dan mengernyitkan dahinya.

“Mama!” Ria merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Kepada Ria, Trista berucap lembut,”Habiskan makananmu sayang…. Mama harus ke dokter. Kamu pulang dengan ayah, ya!?”

Ria mengangguk patuh. Sony bangkit dengan kikuk. Ia tidak menyangka akan begini sulit perkembangannya. Ia ingin marah. Tetapi kepada siapa ia harus marah, selain kepada dirinya sendiri? Lelaki itu cuma diam memandang Trista bersiap pergi.

Trista tidak berkata apa-apa lagi, membalikkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan restoran. Pikirannya gundah. Hatinya menjerit, memaki keegoisan Sony dan ketidak-peduliannya pada istrinya. Tetapi pada saat yang bersamaan hati kecilnya juga menuduh dirinya tidak adil. Mengapa kau tak pernah peduli pada bisnis suami mu?

Mengapa tak pernah kau tanyakan rencananya? Terlebih lagi, hati kecil Trista juga menuduh wanita itu tidak ingin meninggalkan Indonesia karena ia telah terlibat asmara dengan Kino. Untuk hal yang satu ini, Trista memang tidak bisa membela diri….

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Kino tercenung mendengar penuturan Trista. Mereka berdua duduk diam di sebuah kedai minum kopi di dekat kampus. Trista memutuskan untuk bertemu pemuda kesayangannya itu setelah meninggalkan Ria dan ayahnya di restoran.

Ia naik taksi dan menunggu waktu pergantian antarkuliah, sebelum masuk ke halaman kampus dan melambaikan tangan ke Kino yang kebetulan sedang berjalan menuju perpustakaan. Mereka bergegas meninggalkan kampus, menghindari tatapan beberapa pasang mata yang mengikuti langkah keduanya sampai menghilang ke luar gerbang.

Setelah bercerita, Trista menunduk, menyimpan diam-diam airmatanya. Kino ingin sekali memeluk bidadarinya, tetapi tidak mungkin di tempat umum seperti ini. Hujan tiba-tiba turun, seperti dicurahkan dari langit.

Sebagian air tampias ke dekat meja mereka, namun keduanya tak ingin bergeming. Butir-butir air tipis tampak menghiasi rambut Trista, seperti kristal-kristal kecil di atas hamparan beludru hitam pekat. Kino meremas lembut punggung tangan kekasihnya, mengajak dengan suara pelan untuk pindah tempat.

“Bawa aku pergi jauh, Kino,” bisik Trista nyaris tak terdengar, tertutup gemuruh air yang menerpa atap kedai kopi.

“Ke mana?” tanya Kino lemah.

Ia seperti kehilangan semua sendi-sendi di tubuhnya. Seperti boneka kapuk yang kehilangan kapuknya. Lemas dan sungguh tak berdaya. Mengapa sulit sekali menerima kenyataan-kenyataan yang tak sesuai dengan keinginan? Mengapa tiba-tiba dunia ini terasa luas sekali, sehingga tak tahu musti kemana?

“Aku tak tahu,” jawab Trista pendek sambil memainkan jemarinya di taplak meja, memilin-milin tisu yang sudah hancur lebur menyerupai bubur kertas, “Ke mana saja, asal bersama kamu.”

Kino menghela nafas dalam-dalam. Pada berbagai kesempatan, Trista selalu terlihat tegar menghadapi persoalan. Kino teringat betapa tenang bidadarinya itu menghadapi kawan-kawannya yang datang ke villa memergoki mereka.

Betapa sejuk kata-katanya setiap kali Kino gundah menghadapi prahara-prahara kecil di sepanjang pergaulan-kasih mereka. Bahkan ia sanggup tersenyum sambil menangis…. sambil bercinta…. sambil bergairah-bersensasi terakhir kali mereka bercumbu di pondok indekosan Kino.

Kini, bidadari di hadapannya menunduk seperti sebuah bunga yang layu di terik mentari. Sanggupkah aku menjadi energi penggairahan untuk membuatnya segar kembali, pikir Kino gelisah. Sanggupkah aku menjadi air penyejuk yang menegakkan kembali bunga harum yang tertunduk lesu ini?

“Kalau kita pergi, bukankah kita akan terus dikejar kerisauan?” ucap Kino dengan suara yang dibuat setenang mungkin, walau agaknya tidak terlalu berhasil.

Trista mengangkat mukanya. Duh.., keluh Kino dalam hati… mata yang indah itu merebak basah oleh air bening, dan memandang dengan sinar kemilau yang memilukan. Haruskah aku ikut lemah? Tidak! Tidak! jerit hati Kino.

“Tetapi aku tidak ingin ke London,” sergah Trista dengan tatapan yang berisi permohonan sekaligus penyerahan. Tuntutan sekaligus himbauan. Api sekaligus es……fire and ice.

“Bagaimana dengan Ria?” kata Kino. Bayangan gadis kecil manis manja itu sejak tadi berkelebat di matanya, seperti menuntut untuk segera dibawa ke meja percakapan.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Trista langsung tersedu mendengar nama itu disebut, dan Kino menyesal setengah mati. Ia melihat sekeliling. Beberapa pengunjung menoleh sebentar ke arah mereka, tetapi segera kembali ke urusannya masing-masing.

Hujan masih deras, dan bahkan semakin deras. Beberapa pegawai kedai tampak sibuk menutup tirai-tirai plastik untuk melindungi para tamu.

“Maaf, Tris. Tetapi bukankah kita harus bicarakan segala sesuatunya dengan tenang?” ucap Kino.

Ia sendiri heran, mengapa tiba-tiba ada kekuatan samar-samar di dalam dirinya. Sekonyong-konyong ia merasa tegar. Merasa harus menghindari keruntuhan-keremukan hati agar bisa membantu bidadarinya keluar dari kemelut. Aku harus tegar! sergahnya dalam hati.

“Betul. Aku bingung, Kino. Tolonglah..,” ucap Trista lirih, dan Kino merasa seperti disengat oleh sebuah kenyataan baru. Ia seperti mendapat cambukan yang memerihkan, tetapi sekaligus membuatnya terbangun dari kesenduan.

“Kita harus bicara dengan suamimu,” ucap Kino pelan tetapi tegas. Ia sendiri sempat terkejut, dari mana datangnya ketenangan itu. Trista mengangkat muka lagi, memandang kekasihnya dengan takjub.

“Kamu ….. dan aku…, bertemu Sony?” ucap Trista terbata.

“Ya,” jawab Kino mantap, “Kita tidak boleh terus begini, Tris. Juga tidak boleh melarikan diri dari kenyataan, karena kenyataan selalu lebih cepat bisa mengejar.”

Trista terdiam. Air matanya tiba-tiba berhenti mengalir dan sebentuk perasaan ganjil memenuhi hatinya. Ia tiba-tiba merasa seperti burung kecil yang belum bisa terbang, di hadapan seekor elang perkasa yang dengan kepak sayapnya bisa melindungi dirinya dari sergapan binatang pemburu.

Diraihnya tangan pemuda terkasihnya. Dikatupkannya kedua telapak tangannya di telapak tangan pemuda itu. Hatinya berbisik, entah apa jadinya aku tanpa kamu.

“Kalau perlu, sore ini aku datang menemuinya,” ucap Kino semakin tegas. Ia merasa seperti seorang prajurit yang tiba-tiba diberi pangkat jenderal. Tubuhnya tegak. Dadanya terasa lapang.

Trista cepat-cepat menggeleng, “Jangan,” katanya, “Aku belum siap, Kino. Beri aku waktu…”

“Besok?”, tanya Kino.

Rasanya, di belakang tempat ia duduk ada barisan tank yang siap dipimpin maju ke medan perang. Rasanya, ia adalah George Patton, jenderal Sekutu yang meludaskan tentara Jerman di Perang Dunia II.

“Mungkin…,” bisik Trista lirih, “Sekarang aku cuma mau berdua denganmu…” Kino tersenyum untuk pertama kalinya siang ini. Diraihnya bahu Trista yang seperti terpuruk lesu.

Diusapnya lembut bagian yang tak tertutup gaun, seakan dengan usapan itu Kino ingin mengirimkan jutaan watt energi listrik yang bisa membangkitkan semangat kekasihnya. Trista ikut tersenyum lemah, memiringkan kepalanya, menyentuhkan pipinya ke punggung tangan pemuda pujaannya.

“Bawa aku pergi dari kedai ini, Kino…,” bisik wanita itu sambil memandang penuh permohonan dan kerinduan.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

Mereka pergi naik angkutan umum ke bumi perkemahan tempat Kino biasa menyepi. Trista tak bertanya sedikit pun kemana pemuda pujaannya membawa pergi. Ia hanya memeluk erat lengan kekasihnya, mengikuti saja langkahnya ke segala arah.

Ia juga tidak ragu menerobos tirai hujan yang tak bisa dicegah oleh payung sewaan. Ia juga rela duduk berdesakan di angkutan yang sebagian berisi paman-paman petani dengan baju lusuh, tetapi dengan senyum tulus itu.

Trista menyerahkan hidupnya total ke tangan pemuda yang kini tampak jauh lebih tegap dari selama ini. Betapa gagahnya ia, bisik Trista dalam hati, sambil terus mendekapkan tubuhnya erat-erat ke lengan Kino.

Dengan tubuh hampir basah kuyup mereka masuk ke pondok di tepi danau setelah meminta kuncinya dari pemilik warung yang sudah sangat dikenal Kino. Suami-istri pemilik warung itu tersenyum penuh pengertian, dan bahkan menggoda Kino dengan canda-canda yang terasa asing di telinga Trista.

Bagi wanita yang lahir dan besar di lingkungan berada, maka dunia Kino yang satu ini sungguh mempesona karena penuh dengan kesepakatan-kesepakatan tersamar, dan ketulusan-ketulusan yang tak disembunyikan. Begitu sederhana, sekaligus begitu mempesona.

Lalu mereka bercinta di pondok yang terpencil itu, selagi hujan terus menerus mendera bumi. Selagi tubuh mereka masih basah oleh air langit. Selagi gairah mereka sedang membakar jiwa raga seperti api di tungku lokomotif uap yang siap berjalan sejauh-jauhnya. Trista membiarkan pemuda pujaannya membawanya menelusupi lembah-lembah birahi yang dikelilingi alam asri hijau segar.

Membiarkan tubuhnya tergolek di tikar yang bersih walau telah kehilangan warna aslinya. Membiarkan Kino dengan sabar membuka seluruh gaunnya yang kuyup oleh air hujan. Membiarkan pemuda itu melap tubuhnya yang berkilau telanjang, perlahan-lahan seperti seorang perawat benda seni membersihkan sebuah master piece.

Lalu Kino membangkitkan semua gairahnya. Semua, tak ada yang tersisa… dibangkitkan oleh bibirnya yang hangat, oleh hidungnya yang nakal, oleh lidahnya yang liar, oleh jemari-jemarinya yang cekatan. Lalu Kino membawanya terbang tinggi sekali ke puncak-puncak asmara lewat jalan berliku-liku yang melelahkan, yang membuat tubuh wanita ini bergelinjang-bergeliat-bergejolak.

Lalu Trista mendesah, mengerang, menjerit bahkan. Berkali-kali ia menikmati rasa segeli-gelinya, segatal-gatalnya, segelisah-gelisahnya. Berkali-kali ia terjebak di antara keinginan untuk terus menerus digenjot-dihujam, dan kesangat-nikmatan yang tak tertahankan. Hanya ketika Kino telah mencapai puncak sensasi birahinya, barulah segala keributan-kesemarakan-keriuhan cinta mereka berhenti.

Lalu hujan ikut berhenti seperti ikut kehabisan tenaga. Langit ternyata sudah menggelap. Mereka terburu-buru pulang, dan Kino terpaksa menjatuhkan kunci lewat lubang angin di warung yang sudah tutup.

Dan Trista tiba di rumah ketika semua lampu sudah menyala. Kino mengantar sampai di gerbang, sebelum dengan halus tetapi tegas diusir oleh kekasihnya agar segera pulang.

Dengan langkah tenang, Trista menaiki tangga teras, masuk ke ruang tamu yang terang berderang dan sudah penuh berisi keluarga intinya: Ayah-Ibunya, suaminya, Ayah-Ibu mertuanya, dan si kecil Ria.

Trista tersenyum. Semua yang ada di ruang tamu tidak membalas senyum itu. Trista berdiri tegak di depan semua orang. Si kecil Ria langsung memeluk kakinya. Hujan turun lagi. Kali ini disertai badai.

*** Cerita Cinta Dewasa ***

(Dikunjungi 1,364 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya