Cerita Cinta – Chapter 95. Sebuah Cerita Masa Lalu

Chapter 95. Sebuah Cerita Masa Lalu

Muka Evan masih merah padam karena perkataan Jovan. Pasalnya, apa yang sedari tadi saya bicarakan dengan Evan rupanya di dengar oleh Jovanda. Dan saat ini, pastilah tau Jovan mengenai perasaan Evan terhadap dirinya. Maka hal yang sangat di harapkan Jovan saat ini adalah pengakuan dari adik kandungnya sendiri bahwasanya Evan menyayangi kakak perempuan satu – satunya tersebut meskipun di saat seperti ini.

“ah, mbak Jojo ni ngomong apaan sih. Rese tau gak !!” bentak Evan sambil berdiri akan beranjak meninggalkan kami.

“eh Van tunggu !!” cegahku agar ia tak pergi kemana pun sambil memegangi pundaknya.

“coba dong kamu jujur sama mbakmu, biar kita semua tau apa yang kamu rasain saat ini” jelasku mendorong Evan untuk mengungkapkannya.

“mas Rakha juga salah paham ini, aku gak seperti apa yang mas pikirkan. Aku ga nyimpen perasaan macem itu buat mbak Jojo !!!” dengan berkata seperti itu, larilah dia menuju hotel meninggalkan kami berdua di tepi bantai berteman sunset.

“yank sabar ya, adekmu emang keras atinya, tapi aku ngerti kok kalo dia sebenernya sayang sama kamu” tuturku mencoba menenangkan Jovanda.

“hahahaha, santai aja yank, kok jadi kamu yang klitan galau gara – gara kelakuan Evan ?? aku jg tau kok yank kalo si Evan itu sayang sama aku, cuman sebenernya aku pengen itu di ucap langsung ama dia. Jadi kalo saat ini dia belom bisa ngomong sama aku, yaudah jangan di paksa. Ini emang belom waktunya, kan ego anak cowok seumuran dia itu lagi tinggi – tingginya. Bukannya gitu ??” tanya Jovan berbalik menanyaiku.

“iya yank, apa yang kamu bilang itu bner banget kok. Mungkin Evan butuh waktu untuk beberapa saat lagi”

Kuhabiskan sunset di tepi pantai Senggigi dengan sesekali berteman bule yang lalu lalang ikut menyaksikan pemandangan langka di sore hari itu. Kami berjalan menyisiri pantai hingga akirnya sang surya menutup mata dan di gantikan oleh malam yang indah bertabur sinar rembulan sesampai kami di kamar hotel.

“sayang km apa udah makan tadi siang ??” tanyaku sambil lalu masih sibuk sms kepada Bunda.

“belum yank, abis ni aja kita cari makan di resto sebelah. Tapi aku tak mandi dulu” balasnya sambil mengambil handuk di tepi pintu.

“ga pengen di temenin lagi mandinya ?? hahaha !!” candaku mengusili Jovanda.

“yee mupeng ya, mupeng kan !?? hahahaha, . . tar malem aja yank ada sesinya sendiri” ujarnya centil sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Usai menunggu Jovan mandi, kami segera bersiap untuk mencari makan malam bersama Evan serta pak Budi. Letak resto dan hotel tempat saya menginap tidaklah terlalu jauh, cukup dengan jalan kaki maka kami sampai dalam waktu lima sepuluh menit. Di tengah perjalanan sempat saya amati mimic muka Evan yang masih bersiteguh untuk tidak mengakui perasaannya kepada Jovanda. Yasudahlah, mungkin ini memang belum waktunya. Tapi saya harap suatu saat ia akan segara menyatakannya untuk Jovanda sebelum terlambat.

“yank kamu mau makan apa ??” tanyaku pada Jovan yang masih bingung dengan menu makanan yang ingin di pesan.

“apa ya yank ?? bingung aku, pengennya sih nyobain yang belom pernah di makan yank” tuturnya masih memperhatikan menu makanan.

“ywdah kamu cari aja di situ menu sea food biasanya bnyak yang belom kamu coba”

“ah ini aja yank, aku pesen lobster bla bla bla” maaf saya lupa itu nama makannya apa, yang jelas itu berbahan dari lobster sodara.

“kamu pesen apa yank ?? hm . . sama kaya aku tah ??” tawar Jovan agar saya semenu dengan dia.

“duh aku lagi ga mood makan lobster yank, sek sek bntar tak milih” sibukku membolak balik menu makanan.

Lama mencari menu yang saya rasa cocok dengan rasa lapar mala mini, akirnya saya menemuka menu yang dari gambarnya bisa membakar selera makan dan siap untuk memuaskan perut saya malam itu.

“AHA !!!! ini yank, aku pesen yang ini aja” tunjukku pada salah satu menu makanan beserta gambarnya.

“mana yank mana ??” bingung jovan melihat gambar dari menu yang akan saya pesan.

“ini nih yank IKAN LELE !!!! hehehehe !!!!” dengan pedenya saya pesan itu menu.

“WHAT THE **** ??!!! Astaga yank, jauh jauh maen ke Lombok, nginep di tepi pantai senggigi, makannya IKAN LELE ??? sayang kamu jok becanda ta . . .” keluh Jovan berat padaku.

“apa mukaku keliatan becanda yank ?? aku lagi pasang muka kelaparan ini, aku serius pesen nih menu yank” jawabku polos dengan wajah penuh dosa.

“ah yaudah lah, serah kamu aja yank, asal di habisin ya” tuturnya pasrah sambil mencentang menu makanan.

Malam itu kami makan bersama, menikmati desiran ombak yang menambah romantisme suasana. Meski liburan ini harus berteman dengan pak Budi serta Evan, saya tak merasa keberatan. Seolah pak Budi ini adalah bapak saya dengan gaya bicaranya yang ramah dan omongannya tidak jauh – jauh dari menu obat yang terkadang membuat perut saya mual karena telah di isi penuh dengan ikan lele beserta tiga piring nasi. Usai makan di resto, kami segera berangkat balik ke hotel untuk sekedar beristirahat. Entah Evan dan pak Budi punya acara apa saya kurang faham, yang jelas dengan gaya kebapak – bapakannya, pak Budi mampu menjinakkan Evan untuk setia di sambingnya meski tak banyak cakap saya dengar dari mereka. Sedangkan saya, lebih memilih untuk beristirahat di kamar hotel saja. sebab rasa kenyang ini tak mampu di tolelir lagi untuk lebih memilih tidur di atas ranjang.

“Hoaaaaaaaaamsss . . . . akirnya nyampe kamar jugak !!!!” teriakku merasa puas dengan malam ini beserta perut yang telah membuncit.

“kamu kok udah ngantuk yank jam segini ??” tanya Jovan sambil menjepit rambutnya.

“iya yank, kan tadi siang aku udah nyetir mana gak tidur sore pula, palagi ini baru makan, makanya ngantuk”

“gantu baju dulu yank kalo mau tidur” tarik Jovan membangunkanku dari ranjang.

“iya iya iya ganti baju non . . . !!” jawabku malas sambil berdiri berganti pakaian.

Apa yang tengah Jovanda lakukan malam itu saya sudah tak ingat lagi, sebab perlahan mata ini mulai menutup untuk membunuh rasa kantuk yang melanda. Terakir saya lihat saat itu Jovan tengah bercermin sambil menyisir rambutnya, hingga akirnya saya tak mampu melihatnya dan saya tertidur pulas. Malam itu desiran pantai ombak seolah berubah menjadi alunan melodi yang semkin membawa saya lelap ke gerbang mimpi. Angin yang berhembus pun berubah menjadi melodi mengiringi desiran ombak pantai Senggigi. Menit dan detik terus berjalan meninggalkan rasa kantuk itu yang sebagian sudah saya bayar hingga akirnya sesekali mata itu terbuka dan saya dapati jovanda tengah taka da di samping saya. Melihat jam saat itu sudah menunjukkan pukul 11.20 PM dan kini dimana pacar saya berada. Sedikit panik mencari keberadaan jovanda, akirnya saya temukan dia tengah dudukan menghadap arah pantai melihat pantai Senggigi malam itu.

“sayang ini jam berapa kok kamu belom tidur ?? tanyaku mengagetkannya dengan diri ini yang masih berteman dengan kantuk.

“aku masih belom bisa tidur yank, jadi ya ngliat aja pantai biar bisa tidur”

“di sini dingin banget, mana anginnya kenceng gini, kamu bisa masuk angin tar. Udah yok masuk dulu” tarikku di pergelangan tangan Jovanda.
Kami pun masuk menuju ranjang untuk memulai mimpi bersama. Terlihat ia menatapku dalam di atas ranjang berpeluk mesra denganku. Entah apa yang tengah ia pikirkan malam itu, saya hanya dapat berfikir positif sebab semua masih berada di dalam kendali saya. Hingga sebuah percakapan mengenai hubungan tubuh ini ia sentil yang mengakibatkan Joni ikutan bangun tidur malam itu.

“yank, kamu dulu selama jalan sama mantan – mantan kamu, pernah ngapain aja ??” sungguh pun ini adalah salah satu pertanyaan paling mematikan dalam hidup saya.

“ya jalan bareng, nongkrong, nonton ya gitu – gitu deh yank kaya orang pacaran pada mestinya” jawabku pura – pura bodoh.

“ya kalo itu emang mesti yank, aku jg tau. Maksudku yang lebih spesifik lagi” tanya Jovan memburu jawabanku.

“spesifik ?? maksudnya ?? kaya hubungan sama orang tua gitu ?? tiap pacaran aku selalu berusaha dapet restu dari bundaku yank. Kalo gak gitu aku lebih milih putus” tuturku masih dengan bodohnya dan tetap berpura – pura bodoh.

“ah kamu ni pura – pura gak tau apa emang gak tau sih yank ?!! Jadi aku frontalin aja ya, kamu selama pacaran pernah ML gak ?? kalo kurang jelas, maksudku MAKING LOVE yank !! ga jelas jugak ?? BERSETUBUH yank !!! jelas gak ???!!!” jelasnya dengan jengkel memandangku penuh hina.

Sodara, bayangkan jika anda berada di posisi saya, di atas ranjang, kami berdua, di tepi pantai di hempas desiran ombak. Dan kalian harus mendengar pertanyaan macam itu dari pasangan kalian. Apa yang harus saya jawab saat itu, demi tuhan saya bingung bukan kepalang tak menyangka bakal medapat pertanyaan mematikan dari Jovanda. maka dari sini, saya akan mulai jujur mengenai masa lalu saya, bagaimana pengalaman saya dulu waktu esema. Dan taukah sodara bagaimana respon Jovanda mendengar jawaban saya . . .

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 338 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya