Cerita Cinta – Chapter 94. Perasaan Yang Tak Tersampaikan

Chapter 94. Perasaan Yang Tak Tersampaikan

Segala urusan saya yang berkaitan dengan teman, sahabat keluarga dan lain – lainnya telah saya selesaikan. Seperti halnya urusan terakir dengan Tiysa yang mengharuskan saya untuk pergi jauh darinya sebab saya tak inging menyakiti Jovanda yang tengah berada di sisi saya. Maka untuk liburan ke Lombok kali ini, siap lah saya akan di boyong ke sana jauhnya. Entah plaining apa saja yang akan di rencanakan oleh Jovan, saya tak ambil pusing dengan agenda di sana. Sebab saya lebih tulus menemani Jovanda kemanapun ia pergi daripada harus menikmati liburan. mungkin jika Jovan tau, pastilah saya sebenarnya terpaksa dengan keadaan ini. sebab saya lebih memikirkan dia dari pada liburan dalam memperingati hari jadi tahun ke dua saya dengannya. Untuk persiapan, tentunya saya sudah siap tinggal berangkat saja bersama Evan dan Pak Budi selaku dokter pribadi Jovan.

Terlihat wajah haru dan tangis dari ibunda Jovan ketika harus melepas anak pertamanya untuk liburan di Lombok jauhnya tanpa harus di damping oleh kedua orang tuanya. Maka sudah jelas di sini posisi saya sebagai apa sodara. Bisa jadi saya di sebut ayah ketika saya harus menegur jovan saat dia salah, bisa jadi saya di sebut ibu ketika Jovan membutuhkan kasih sayang, dan pastinya saya akan menjadi diri saya sendiri ketika Jovan membutuhkan cinta yang telah lama ia dambakan untuk bersemi di pulau Lombok sebagai saksi bisu ke dua setelah Bromo.

Siang itu saya naik pesawat dari Malang di antar oleh keluarga Jovanda. Begitu banyak pesan dan amanat yang harus saya pikul dari kedua orang tua Jovanda, sebab saya tengah bersama anak orang nomor satu di Fisip. Tak lupa tentunya saya pasti berpamitan dengan keluarga di rumah bahwa liburan ini akan saya habiskan di Lombok bersama Jovanda, maka dengan ini saya pun siap untuk menaiki pesawat yang sudah lepas landas. Dan ponsel saya saat itu, sudah siap di tidurkan dan akan terbangun sesampainya di Lombok nanti. Kini pesawat mulai berjalan pelan meninggalkan bandara. Terlihat mesin baling – baling di sayap pesawat berputar dengan kencangnya dan menarik kami terbang menembus awan membelah cakrawala. Melambung tinggi nunjauh di angkasa, cinta ini terbang bersama Jovanda.

“sayang . . .” sapa Jovan lirih di sebelahku sambil menyandarkan kepalanya.

“hm . . .” sahutku bergumam.

“aku sayang kamu yank . . .” peluknya erat di lengan kiriku.

Saya hanya terdiam mendengar apa yang Jovan katakan. Memang kata sayang itu sudah sering saya dengar dari bibirnya, namun entah mengapa kata sayang kali ini terdengar begitu dalam seolah ia tak mau di pisahkan sekalipun itu oleh maut. Matanya kosong memandang gumpalan awan yang tertepis oleh sayap sang garuda membelah halusinasinya. Tak lama, ia mulai berujar tentang masa depan yang ia dambakan bersama saya.

“jalan kita tinggal dikit lagi yank, aku pengen bisa satu atap sama kamu kelak” tutur Jovan berandai – andai.

“ya, semua itu udah di depan mata yank. Jangan sia – siain ini. aku jg ingin di setiap paginya ngeliat kamu di sampingku saat aku bangun dari tidurku” jawabku hanyut dalam andai – andai itu.

“tar kalo kita udah satu rumah, aku pengen punya satu anak dulu yank, aku pengen cowok. Biar punya tanggung jawab kayak bapaknya . .”

“aku pengennya cewek yank, biar secantik ibunya dan punya hati yang kuat”

“aku pengen masa – masa itu cepet datang di depan mataku, dan aku pengen ngejalanin itu semua sebelum terlambat”

“kita gak akan terlambat selagi kamu di sisiku yank, semua bisa kita lewati sama – sama. Percaya sama aku ya . . .”

Ia tersenyum kecil mencuri pandangku mengecup pipi ini dengan manjannya. Harapan kami akan masa depan begitu besar, masih banyak hal yang harus di lalui dan itu tinggal beberapa langkah lagi. Saya harap, Jovan akan tetap kuat hingga saatnya tiba. Hanyut dalam angan kami masing – masing, tak terasa diri ini telah sampai di Lombok. Segera kami bergegas untuk meninggalkan bandara, dan kemana tujuan saya selanjutnya, entahlah. Saya hanya ikut saja kemana jovan ingin pergi.

Sekitar tiga jam mengendarai mobil yang telah di sewa, saya setir saja itu mobil bersama Evan juga pak Budi yang tak tau kemana kami akan di boyong oleh Jovan sesampainya di sana. Lama menyetir, saya dengar ada suara desiran ombak yang tak begitu keras. Suasananya damai dan bersih, meski terlihat ada beberapa turis di sana, namun keadaan tenang itu adalah harga mati yang tak bisa di dapatkan di pantai manapun. Dan ternyata ketika saya melihat subuah papan kawasan masuk, ternyata saya tengah berada di lokasi pantai Senggigi. Entah apa yang bisa di tawarkan oleh pantai Senggigi hingga Jovan tertarik kesini jauhnya, yang jelas saya masih penasaran dengan tempat ini.

Sesampai di sana, kami segera memesan hotel yang bisa di bilang cukup mahal. Maklum, semua sudah di atur oleh Jovanda. saya pun sudah tak ada daya untuk melerang ini itu dalam dia berbuat sesuatu. Untuk kali ini, saya akan bebaskan keinginan Jovanda apapun yang ia mau selama itu tidak kelewatan. Hotel sudah kami dapati, kamar telah di bagi. Meskipun di awal saya sempat merasa canggung dengan pak Budi, ternyata beliau adalah dokter yang sangat loyal terhadap pergaulan anak muda jaman sekarang. Sebab bagaimana Jovan amat sangat manja untuk ingin satu kamar dengan saya, membuat diri ini menjadi tak enak serba salah. Sedangkan Evan, dengan santainya acuh tak mau tau dengan situasi semacam ini

Segala perlengkapan telah saya usung kedalam kamar yang telah di bagi. Evan dan pak Budi ada di kamar sebelah bersamaan dengan posisi kamar yang agak berjauhan dengan kamar saya. Rasa capai itu sungguh membuat saya kantuk dan ingin tertidur di kamar hotel sore itu. Bagaimana angin sepoi – sepoi masuk tanpa permisi mengisi sejuknya ruangan ini, menambah rasa betah saya terhadap kamar yang saya tempati. Tengah bersantai menikmati matahari yang tepat lurus berada di sudut pandangan saya, perhatian ini secara tidak sadar di curi oleh seorang bocah yang duduk santai di bawah pohon kelapa memandang pantai dengan kelamnya. Dari balik punggungnya saja bisa terlihat bahwa bocah itu sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti saya. Yakni rasa takut kehilangan, dan bocah itu tidak lain tidak bukan adalah Evan, adik kandung Jovanda. melihat Jovan yang tengah pulas di atas ranjang, maka seusai saya menyelimuti dengan kain tebal, segera saya susul itu Evan untuk sekedar menemaninya.

“hei, ngapain bengong di sini sendiri . . .??” sapaku memecah lamunan Evan yang tak begitu akrab denganku.

Dia diam tanpa memperhatikan saya, di acuhkan telak diri ini di sampingnya di anggap seolah tidak ada. Meski ia tau saya adalah pacar dari kakaknya, rasanya entah kenapa Evan adalah tipikal anak yang pendiam dan susah untuk bergaul. Maka sebisa mungkin saya cairkan itu suasana dengan berbicara sendiri asal itu di dengar oleh Evan meski ia tak meresponnya.

“Van, pastinya kamu tau kan apa yang saat ini tengah di hadapin sama kakakmu. Hal itu penyakit kanker. Kanker otak yang bisa buat dia cacat seumur hidup dan berujung pada kematian. Apa kamu pernah tau bagaimana kakakmu mencoba melewati hari – harinya dengan senyuman ?? sementara, penyakit itu terus menggerogoti senyumnya seiring waktu berjalan. Pernah gak terbesit di anganmu bahwa suatu saat kamu bakal kehilangan kakakmu itu ?? kamu pastinya tau gimana rasanya itu . . .” ucapku di akir kalimat memutus pembicaraan.

Lama Evan terdiam, akirnya ia mulai mengucapkan beberapa patah kata untuk saya dengar.

“aku emang cuek sama mbak ojo, aku gak pernah peduli apa yang dia omongin. Aku juga sering berantem sama dia di rumah. Bahkan aku sering musuhin dia dan bikin dia nangis. Tapi cara mbak jojo kali ini menurutku itu gak adil . . .” tutur Evan masih memandang desiran ombak yang mendayu – dayu menghanyutkan perasaannya.

“gak adil ?? gak adil gimana ?? trus cara apa yang kamu maksud ??”

“cara mbak Jojo ngebales aku nangis, itu yang aku bilang gak adil . . .”

“kamu ngerasa kehilangan kakakmu kalo dia sampe kenapa – kenapa ?? dan di sisi lain kamu ngerasa gengsi buat ngakuin perasaan kamu itu. Apa aku salah ??”

Ia hanya menunduk mendengar ucapan saya, terdiam membisu seribu bahasa. Tentang perasaan seorang adik yang mengetahui kakaknya tengah menderita kanker, saya rasa ini terlalu berat untuk Evan rasakan. Meski sehari – harinya ia selalu bertengkar dengan kakaknya, namun untuk kali ini, Evan tak bisa bersikap biasa sebab kakak yang sering di usilinya, kini tengah mendapat cobaan yang berat. Dan saya rasa, adik manapun pasti akan merasakan hal yang sama ketika berada di posisi Evan.

“ya aku tau ini berat buat kamu dengar Van tentang kenyataan Jovan. Dan kamu lebih memilih bersikap acuh tak peduli dengan penyakit kakakmu itu sebab itu cara kamu nyembunyiin perasaanmu dari dia”

“seumur hidup aku gak pernah mas buat akur sama mabk Jojo, aku malu buat bersikap baik sama dia. Aku ini berat banget buat aku jalanin, aku sbenernya takut mbak Jojo kenapa – kenapa” dengan mengakui perasaannya, bibir itu mulai bergetar lirih dengan mata yang muali berembun tipis.

“kalo kamu emang sayang sama Jovan, kenapa harus malu Van. Dia kakakmu satu – satunya. Seumur hidup kamu selalu berantem sama dia, gak pernah akur, apa kamu gak pengen baikan sama dia sebelum terlambat. Kamu pastinya tau apa yang aku maksud” tepukku di bahu Evan berusaha meyakinkannya.

“tapi aku malu mas kalo bersikap baik sama mbak Jojo, aku malu kalo di kira aneh sebab aku ga pernah baik sama dia. Aku bingung mesti gimana ngungkapinnya” menangislah dia di atas lutut yang menutupi wajahnya dari sinar sang surya yang mulai kembali ke singgah sananya menutup hari yang kelam ini.

Saya masih terdiam melihat pengakuan bocah kelas dua esema ini, begitu angkuh untuk mengakui hatinya, begitu malu untuk menyatakan apa yang ia rasakan maski itu kakak perempuannya sendiri. Bingung harus berucap bagaimana, tiba – tiba kudengar suara jovan menyapa di sebelahku sambil merangkul pundakku mesra.

“kenapa harus malu van kalo mbak udah denger semuanya ???” sahut jovan dengan senyum manis sambil melirik adik kandungnya sendiri.

Evan pun bermuka merah padam, ia salah tingkah sebab pembicaraan kami rupanya telah di dengar oleh jovanda sedari tadi. Dan kini, bocah kelas dua esema itu mau tak mau harus mengakui perasaanya bahwasanya ia sebenarnya juga amat sangat menyayangi kakak satu – satunya di saat sulit seperti ini . . .

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 354 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya