Cerita Cinta – Chapter 86. Sepotong Kue Cinta untuk Tisya

Chapter 86. Sepotong Kue Cinta untuk Tisya

Masih ingatkah sodara tentang keinginan Vian untuk di comblangkan dengan maba yang bernama Tisya atau tidak lain tidak bukan ia adalah mantan tetangga saya dulu. Tentu masih ingat bukan, maka ini adalah hari ospek terakir dimana seluruh maba dan fasilitatornya serta kadis dalam kegiatan tersebut akan di sibukkan setengah mati hingga acara sore hari. Bisa jadi ini di sebut sebagai hari penghabisan namun tak pakek hisab sebab saya belum mati. Pagi itu saya berkumpul seperti biasa dengan para regu kesehatan di ruangan untuk standby menunggu kegiatan di mulai. Dan ketika acara telah berjalan, maka saya dan Vian seperti biasa mobile untuk mencari atau memantau jika ada maba yang tengah sakit dan butuh bantuan para tim medis.

Niat Vian itu sudah jelas tapi pasti ia ingin di kenalkan lebih dekat dengan gadis bernama Tisya, maka ikutlah ia bersama saya kemanapun saya pergi. Hingga siang menjelang, rencana saya untuk mencomblangkan Vian dengan Tisya belum juga tereali sasi, dengan perasaan sedikit mendongkol pun akirnya Vian mengajak saya untuk balik ke ruang kesehatan. Pastilah dia ngomel – ngomel tidak jelas sebab ini sudah pukul berapa tapi tak di dapati juga momen indah untuk berdua bersama Tisya. Masih dengan perasaan berkecamuk, tiba – tiba kami di kagetkan kembali dengan datangnya maba yang sedang sakit lemas pucat pasi hampir tak sadarkan diri. Ya, itu Tisya dengan tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya.

“loh. Loh, ini langganan saya kemarin nih ?? da apa lagi, dia pingsan ??” tanyaku pada rekan Tiya yang mebopongnya jalan hingga ke ruang kesehatan.

“anu mas, dia lemes ga bisa gerak tadi. Padahal ya gak baris, tau – tau udah gini aja” tutur seorang maba.

“oh gitu, yaudah sini dia biar berbaring dulu di kasur kamu balik aja ke kelompok. Biar aku yang tangani dia” suruhku mengusirnya pergi secara halus.

“jo, ini dia kenapa ??” tanya Vian gugup bercampur rasa senang.

“kenapa ?? jelas – jelas dia hampir pingsan lemes gitu masi nanya ??!!!” bentakku pada teman yang teramat botol ini.

“iye kalo yang itu aku tau, maksudku ini dia sakit apa. Kali aja kamu tau, kan kmren kamu yang nanganin dia”

“iya sih aku yang nanganin dia, cuman aku jg ga tau pasti ini bocah sakit apa. Nafasnya suka seseg gitu kalo lg kcapean, trus mukanya pucet kaya gini nih. Kmren kasusnya dia gak makan pagi katanya, trus sore aku ajak cari makan dia udah seger lagi. Tapi kalo yg ini aku jg ndak tau yan” tuturku masih bingung dengan diagnose Tisya.

Kamipun memberi waktu untuk Tisya beristirahat dan sekedar melepas penatnya usai di beri penanganan pertama. Sungguh Vian seperti suamin yang bak merawat istrinya sendiri. Dengan raut muka panik dan kawatir akan yang terjadi dengan sang pujaan hati, ia merawat dengan penuh kasih sayang. Sedangkan say amah santai aja sambil korek – korek hidung masa bodoh dengan kondisi seperti ini. tak lama Vian pun pergi berinisiatif untuk membeli kue atau roti sebagai makanan ringan untuk Tisya. Maka saat Tisya sadar, pastilah hanya ada saya di sampingnya.

“kak, maaf ngrepotin lagi, hehehehe . . .” jawabnya masih lemas di atas ranjang.

“halah gapapa, kan udah langganan. Tar lagi bkal dapet jajan enak kamu dek. eHm . . !!” jawabku membuatnya penasaran.

“dapet jajan enak gimana kak, mank siapa yang mau kasih ??” tanya Tisya heran dengan ucapan saya.

“itu Vian dia lagi pergi buat beliin kamu roti, dia kawatir banget tadi sama kamu” dengan muka polos saya meyakinkan dia.

“oh ya ?? baik gitu kak Vian, jadi ngrepotin aku, duh jadi gaenak kak” perasaan tak enak hati itu mulai hinggap di hati Tisya.

“yak an orang baik pasti ada maksudnya dek, dia mau beliin kamu makanan juga bukan karena apa – apa, pasti ada udang di balik rempeyek kan. Kamu pastinya nyadar akan hal kaya gitu. Aku yakin kamu sekarang juga udah gede”

“jadi kak Vian ada maksud tertentu sama aku ??”

“iya lah, Vian bukan orang yang mau nglakuin sesuatu tanpa alasan dek”

“kak Vian suka sama aku ??” jawabnya dengan malu – malu kucing.

“suka ama kamu sih aku ndak tau dek, yang jelas dia tertarik sama kamu. Jadi perasaan suka ama tertarik itu beda – beda tipis” jelasku dengan coolnya.

Tisya sadar, ia tau bahwa Vian tengah tertarik padanya. Pada dasarnya Tisya adalah orang yang ramah dan mau untuk mencoba sesuatu seperti yang saya kenal dulu. Sebab dulu pernah suatu kejadian menimpanya di sekolah yang harus membuat saya bilang ke dia untuk tegas dalam mengambil keputusan. Dan dengan kemauannya untuk menjadi lebih maju, ia bisa menjadi seseorang yang tegas. Dan saya harap itu akan terus berlanjut sampai sekarang. Tak lama Vian datang dengan sebungkus kresek hitam berisikan roti dan kue untuk Tisya tercinta, maka pajak dalam mencomblangkan ini cukuplah sekiranya jika di bayar dengan sepotong roti.

“wiiiidiiiiiw, bawa roti cuy, minta yan !!!” pintaku grusa – grusu menghampiri Vian.

“heeeeeeiiiiish, enak aja, ini buat yang lagi pingsan. Kalo mau minta pingsan dulu sana !” jawabnya semena mena seolah saya tak berhak atas roti tersebut.

“yauda deh, kalo jadiannya ga kesampean jangan salahin aku ya” jawabku ketus sambil meinggalkannya ke ruangan sebelah.

Saya menyendiri untuk beberapa saat karena sepotog roti, biar lah ini sungguh terlihat hina. Namun ada baiknya dimana saya meninggalkannya berdua justru dapat membuat mereka semakin intensif dalam membicarakan masalah hati. Jika melihat masa – masa seperti ini, sungguh saya ingat itu dengan masa yang namanya esema. Di mana masa pedekate itu adalah masa paling indah dalam sebuah hubungan. Biasanya hubungan tersebut akan selalu tampak indah jika di awal bulan atau paling lambat sampai bulan ke dua. Jika sudah menginjak bulan ke tiga, rasa bosan dan jenuh itu pasti perlahan mulai datang menghampiri untuk mempermasalahkan hal – hal yang sebenarnya sangat tidak perlu.

Akirnya ospek itu usai, saya kembali beraktifitas seperti biasanya di temani oleh Jovanda di setiap harinya dan selalu membahas hal – hal yang itu – itu saja. Dan jika boleh saya akui, saya merasa jenuh dengan ini. Saya jenuh dengan pola pacaran pacaran Vanda yang terbilang monoton tapi aman tidak ada masalah apa – apa. Beda seperti Nabila, jika saya boleh jujur, hidup dekat dengan Nabila itu serasa selalu memacu adrenalin saya untuk melunjak lebih tinggi. Sebab pasalnya ada saja masalah atau problem yang di timbulkan oleh Nabila. Bukannya saya tipikal cowok yang doyan dengan masalah, namun jika hubungan ini berjalan lancar begitu saja, jujur saya katakan di sini saya amat sangat merasa bosan sebab tidak ada hal baru untuk di selesaikan atau di pelajari hikmahnya.

Dari masa ospek selesai, ini sudah masuk satu bulan di mana pasca ospek maba di mulai. Maka tentunya hubungan Vian dengan Tisya sudah siap masuk dalam jenjang yang lebih serius. Sebagai teman yang baik, saya terus pantau itu perkembangan dua insan yang tengah siap memadu hati. Saya tidak ingin ketinggalan momen paling indah di mana Vian akan menyatakan cinta dan Tisya akan menjawab mesra dengan jawban . . .

“JO !!!! AKU DI TOLAK TISYA, PIE IKI !!!!!!!! JAMPUT OG PANCENAN, AKU KURANG OPO JO !!!!!”
Spoiler for subtitle indonesia: Hide
JO !!! AKU DI TOLAK TISYA, GIMANA NIH !!!!!!! SIALAN KOK EMANG, AKU KURANG APA JO !!!!”
“woloooh, kok bisa yan, sek yan, sabar yan, sabar . . .kalem kalem aja, tenang dulu . . .” jawabku sambil menangkan Vian yang secara tiba – tiba datang ke kosanku.

“KALEM MATAMU A ?? AKU WES NGOYO KOYO NGENE, BERKORBAN KOYO IKI KUI UJUNG – UJUNGE AKU DI TOLAK. KON KALEM KOYOK NDAS MU NGGEDUK TEMBOK A ??!!!!!!” jawab Vian masih dengan segenap emosinya.
Spoiler for subtitle indonesia: Show
“iya iya wes iya, critao emang alasane dia nolak kamu apa yan, kok bisa ??” tanyaku dengan malasnya karena sifat emosi Vian.

“ya aku bilang ke dia, kalo aku sayang. Aku nembak dia buat jadi pacarku. Eh ga taunya dia ga bisa nrima. Sebenernya dia bilang kalo nyaman sama aku, cuman ada seseorang yang buat dia lebih nyaman dan itu udah dia tunggu sejak lama” itu tutur dari Vian.

Dari sini perasaan saya mulai tak enak, saya berfikir tentang perasaan Tisya kepada seseorang yang mungkin itu juga saya. Sebab bagaimana cara dia menatap saya dan Vian itu sungguh tak dapat di sembunyikan, ia seperti menyimpan rasa kepada saya. Namun bagaimana cara dia menyembunyikan perasaannya terhadap saya sungguh terbilang sangat bagus hampir sama dengan apa yang Nabila lakukan. Bayangkan dalam satu bulan lamanya ia harus berpura – pura untuk dekat dengan Vian tapa harus memberi jawaban di awal hubungan. Maka untuk mencari alasan Tisya tidak menerima Vian kali ini, saya harus turun tangan untuk mendapatkan jawabannya.

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 394 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya