Cerita Cinta – Chapter 77. Pergantian Malam Tahun Baru

Chapter 77. Pergantian Malam Tahun Baru

Mata ini sibuk menatap pusat kota dalam – dalam. Memperhatikan di setiap lekuknya jika saja ada Hotel berkelas yang bisa saya tempati untuk semalam saja. Diri ini masih berjuang dengan Jovanda di samping saya, maka berlandas perasaan tidak enak tentang budget yang akan di keluarkan, saya ajak rundingan itu Jovanda agar enak di belakang urusannya.

“yank, hotelnya nyari yang gimana nih ?? budgetku ga bnyak2 amat soalnya” sedikit keluhku berselimut rasa kawatir takut mengecewakan sang putri.

“ya pokok cari yang kosong aja yank. Dimana aja aku ngikut asal sama kamu. Cuman masalahnya kalo udah hari kaya gini baru nyari hotel, aku berani taroan pasti udah pada penuh. Jadi daripada kita buang – buang waktu buat ngliat di hotel yang biasa, mnding kita langsung cek aja di hotel yang gede. Masalah budget hotel biar aku aja, kamu masalah makan ama bensin aja. Oke ??” dengan tegasnya ia memberi mandat kepada saya.

“siap yank, kalo yang itu beres. Asal ga mampir ke restoran cina aja sih, hehehe” candaku menggelitik Jovanda.

Kami sampai, sampai di depan hotel besar dengan nama ******* di daerah pusat kota dekat stasiun Kediri. Jalannya lumayan ramai dengan arah masuk hotel yang berstektur mewah, maka saya masuk dan langsung saja parkir itu mobil di tempat yang telah di sediakan.

“mbak, mau pesen kamar bisa ??” tanyaku pada petugas Hotel.

“buat kapan ya mas ??” jawabnya pebuh dengan keramahan.

“buat hari ini sampe besok aja Mbak. Ada ??” penasaran itu mulai muncul berselimut kekawatiran.

“yang Standart sama Deluxe sudah penuh mas. Adanya tinggal yang VIP aja sisa 2 kamar”

“tuh kan apa kataku yank, VIP aja sampe tinggal 1 kamar kok” sahut Jovanda di sebelah saya.

“ywdah saya ambil 1 kamar mbak” tanpa di aba – aba langsung cemot saja itu wanita.

“yank itu harganya setara 3 bulan gaji aku di caffe !!” sambil berbisik saya mencoba merundingkan ini dengan jovanda.

“udah ah yank, aku capek pengen cepet istirahat. Bantu bawa barang aja yuk, yayayayaya . . .” ajaknya dengan manja tanpa memperdulikan harga.

Saya hanya bisa geleng – geleng lihat itu kelakuan dia yang amat semena – mena dengan barang yang bernama uang. Saya adalah manusia yang nantinya akan di sibukkan dengan pekerjaan mencari uang. Sedangkan Jovanda, akan lebih di sibukkan dengan kegiatan menghabiskan uang. Jadi sebelum ini terlambat, saya harus merubah pola hidupnya untuk sedikit lebih hemat. Ya, suatu saat nanti. Bukan sekarang. Sebab saat ini dengan jujurnya saya tengah melongo melihat pemandangan interior kamar hotel yang berperabotan mewah semewah mewahnya.

Ini kamar rasanya saya tidak asing meski di jejali dengan segala peralatan yang mewah. Sebab setelah saya ingat – ingat, ternyata kamar model seperti ini adalah kamar yang sering di sewa para yakuza untuk melakukan party seks. Dan ketika melihat Jovanda yang tengah terlentang tiduran di kasur, saya hanya bisa cekikikan sendiri sambil membayangkan sesuatu. Tak usah saya sebutkan pasti sodara tau sendiri saya tipikal manusia dengan otak seperti apa.

“idiiiih yank, kamu kenapa kok cekikikan gitu ga jelas sambil ngliatin aku ??” tanya Jovanda keheranan sambil memandang saya dengan tajamnya.

“eiiiitzzz, gak kok yank. Heheheh, . . aku mau mandi dulu. Kamu mnding kbarin Fany kalo kita udah dapet Hotel yank” suruhku pada Jovanda sambil membuka isi tas mengambil peralatan.

“mandi sendiri yank ??” tiba – tiba pertanyaan semacam itu mengusik telingaku.

“uda deh ga usah mulai, aku masih kuat iman yank. Dah ah, aku dluan aja” sambil istigfar saya berlari menuju kamar mandi. Sebab godaan Jovanda saat itu sungguhpun sangat menggoda iman. Jika saya terlahir sebagai manusia biasa, tentunya kami saat itu sudah membuat video dokumenter pribadi yang bisa menemani malam – malam saya untuk bersabun ria.

“yeee, di tanya gitu aja takut udah lari ke kamar mandi, hwahahahaha . .” tawanya terbahak – bahak dari luar kamar mandi yang seolah ia berhasil menggodai saya.

Seusai mandi saya dapati itu Jovan tengah tertidur pulas dengan sesekali posisi bajunya yang selalu saya benahi agar tidak mengundang nafsu. Sambil menunggu waktu, saya habiskan untuk minum kopi sambil menonton televisi yang saat itu tengah asyik di putar film Spengebob pada pukul lima sore. Hingga tanpa terasa malam telah tiba menyapa dan Jovan bangun adanya sambil bermanja ria di dekat saya.

Malam hari terus berlanjut, ini pukul 09.00 PM dimana semua orang di kota Kediri telah keluar dari sarang mereka masing – masing memadati pusat kota untuk menyaksikan pesta kembang api. Dengan tidak lupa mengabari Fany terlebih dahulu, kami janjian bertemu di stuatu tempat yang telah di janjikan. Karena tidak ingin terjebak macet, maka saya putuskan malam itu kami untuk memilih jalan kaki hingga sampai di tempat tujuan. Sebab dengan bermodal GPS bisa saya dapati bahwa jarak yang saya tempuh tidak lah jauh, sekitar satu kilometer.

Dengan di sambut ceria, Jovanda menggandeng tangan saya mesra sepanjang jalan. Kami bercanda ria satu sama lain saling mengerjai di setiap ada kesempatan menebarkan pesona cinta yang dapat membuat setiap insan iri di buatnya. Saya bangga, tentu iya. Jovan cantik, sedangkan saya biasa saja. halah, . . . sudah lah. Lupakan.

Capai itu mulai menggerogoti kekuatan kaki saya dan Jovanda hingga pada akirnya kami sampai di tempat yang telah di janjikan. Namun sejauh yang saya lihat, belum kelihatan itu batang hidung Fany dan Stevy serta Doni untuk sekedar menyapa kami. Maka sambil menunggu mereka datang, saya duduk di rerumputan taman sambil mengobrol dengan Jovan untuk sekedar membunuh waktu.

“udah jam sepuluh begini mereka belom nongol juga yank, hosh . . hosh !!” tanyaku sedikit ngos – ngosan dengan nafas tak karuan.

“iya yank, tungguin aja deh. Palingan kena macet mereka. Enakan juga jalan kaki begini kan tambah sehat n lebih cepet. Jadi kita bisa booking tempat buat mereka. Coz ini orang – orang udah mulai bnyak yang berdatangan” dengan keringat yang sesekali mengalir melintasi leher jenjang nan menggoda itu Jovanda menjelaskan kepada saya.

“kamu gak aus kah yank, aku beli minum dulu yah ??” tawarku berdiri untuk membeli minuman di pinggir jalan.

“iya yank, pake es yah, biar nyeeeeees, hehehehe” candanya sambil tersenyum padaku.

Saya pergi tinggalkan dia sejenak berteman rumput di taman itu. Semoga ia baik – baik saja dan tidak terjadi apa – apa. Perasaan kawatir akan dia di culik alien dari planet fruta itu tentu ada. Maka dalam lima belas menit cepatnya saya segera kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin untuk Jovanda dan satunya pasti untuk saya. Namun ketika saya kembali, ternyata Jovanda . . . .

“Hayyyy Cinthaaaaa !!!! kamu perhatian banged sih ama akuh, tau aja lagi aus, !!!” sorak Stevy yang ternyata telah menggauli Jovanda selagi saya tinggal pergi.

“wiii, beli minum nih, minta dong Kha, aus nih . . .” sahut Fany sambil mengambil satu minuman di tangan saya tanpa permisi.

“ini kalian kapan datengnya udah maen comot aja minuman gw, kambing nih pada, huuuh !!” keluhku kesal sambil memberikan minuman yang satunya kepada Joavanda.

“hahaha, barusan dateng mereka yank. Udah gapapa yang satu buat mereka. Kamu sama aku aja minumnya, yha” belai tangan Jovanda lembut di pipiku.

“step, biasanya Kediri nyalain kembang api berapa biji ?? durasinya berapa menit ??” celetuk Doni memecah susana.

“ga tauk akuh Don, pokok ya liat ajah sambil mangap mangap gitu kan udah. Pasti seri, heu,. Heu,.” Jawabnya asal tidak berlandaskan hukum.

“Step, lo bawa tambung Elpiji 3 kg gak ??” tanyaku iseng pada banci satu ini.

“ya gak lah, mank buat apa sih bawa gituand, gejeh benged kamuh ini Kha !” jawabnya dengan nada marah ala banci punya gak ada serem – seremnya.

“buat di ledakin di rumah lo biar acara pergantian taon barunya makin seru, wkwkwkwkw !!!!” jawabku ngakak membayangkan rumah ini banci di bombardier dengan sekumpulan tabung Elpiji 3 kg yang di ledakkan secara bersamaan dengan Stevy di sekap di dalam rumah sambil di ikat di atas kursi dan di jepit mulutnya biar tidak bisa ngoceh itu mulut banci. Kemudian dia meronta – ronta kegirangan sambil kencing di celana menunggu sumbu habis dan meledakkan seisi rumah Stevy. Keren kan imajinasi saya, hahahaha . . .

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 409 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya