Cerita Cinta – Chapter 71. Dia Harus Mengalah

Chapter 71. Dia Harus Mengalah

Kulambaikan tangan pada Nabila dan mengundangnya dalam sebuah pembicaraan ini, dia berjalan kecil menyusuri anak tangga berbukit untuk sampai di dekat saya. Dengan tatapnya yang larut dalam sebuah rasa, di kuatkannya untuk menatap diri ini harus bersanding di dekat Jovanda. kami kumpul bertiga di iringi bebukitan yang menjadi saksi bisu atas kejadian bersejarah ini. kejadian yang akan melepaskan saya jauh dari diri Nabila. Merapat diri itu di sampingku dan menyapa dengan mesranya.

“hay Kha, ada apa . . tumben panggil gw pas lagi ada Jovanda” dengan ekspresi ia tersenyum centil pada Jovanda seolah ini keajaiban.

“owh ga papa sih, pengen lo ke sini aja biar rame gitu, hehehe” alasan ini bukanlah yang sebenarnya sodara.

“hay Jo, gimana kabar lo ? baik ?” tanya Nabila sambil memasukkan tangannya kedalam saku jaket tebal miliknya.

“eh iya Bil, baik kok, baik . . !” jawab vanda sedikit gelagapan.

“kalian kalo di pertemuin kok gaguk gini yha ? aneh tau gak. Hahaha” tawaku mengejek mereka berdua.

“tau nih Jovanda canggung banget, udah . . . biasa aja Jo ama gw. Orang ga gigit jugak. Hahahaha” canda Nabila pada Jovanda.

“Bil, gw pengen tanya sesuatu sama lo . . .” mulai dari sini, pembicaraan kami berubah menjadi serius.

“iya Kha nanya apa ???”

“gw pengen balikan sama Jovanda . . .” jawabku sedikit kaku.

“CLBK ?? Jovandanya mau gak ??” tanya Bila sambil memandang Vanda.

“owh, aku Bil ?? ya, . . . akunya sih gapapa, cumaaaaaan . . .” di gantungkan sudah itu kata – kata.

“cuman kenapa ?? gaenak sama gw ?? hm . . .” tanya Bila berbail pada Jovanda.

“ya aku tau kamu juga ada rasa sama Rakha, cuman kalo aku jadi balikan sama dia, itu kan bakal nyakitin perasaan kamu ?” dengan polosnya Jovanda berujar tentang kebenaran ini.

“Jo, aku jelasin satu hal, Ini alasan kenapa aku mau lepasin Rakha buat kamu. Bahagiaku itu adalah Rakha, sedangkan bahagianya Rakha adalah kamu. Jadi apa yang bisa buat Rakha bahagia, ya aku bkal terima itu dan coba buat ngerti. Aku bkal lebih sedih lagi kalo Rakha sampai kehilangan kamu buat kedua kalinya. Sakit itu pasti ada Jo, tapi gw yakin aja kalo pengorbanan ini ga ada yg sia – sia. Suatu saat rasa sakit ini pasti terbayar. Sayangin Rakha seutuhnya, sebab secara ga langsung itu bisa ngebuat gw bahagia juga” dengan tegarnya bibir itu berucap seolah Bila sudah siap di jemput oleh malaikat kematian.

“tapi aku gak tega sama kamu Bil, kenapa kamu justru nglepasin Rakha kaya gini demi aku. Aku bner – bner ga enak hati sama kamu !!” di peluknya tubuh Nabila pertanda hujan yang sedari tadi ia tahan kini telah turun.

“kok malang nangis sih, udah jo, . . . gw gapapa kok. Udah dong jangan nangis kaya gini di depan cowok yang lo sayangin” dengan menatap mata saya Nabila membelai rambut Jovanda.

Suasana haru itu membuat hati ini terasa terenyuh. Bagaimana sebuah pengertian bercerita tentang rasa cinta. Lihat apa yang terjadi ketika dua anak manusia untuk tidak saling mementingkan egonya, mereka terlihat begitu akur bak saudara sendiri. Pengertian itu telah membawa mereka terhadap rasa yang sama atas tujuan yang ingin di capai, yaitu saya. Indah nian pengertian Nabila untuk mengalah besar dalam hal ini, dengan menyerahkan Jovanda kepada saya, sekali lagi Nabila berucap sesuatu sebelum ia pergi meninggalkan kami.

“Kha, ini cewek yang lo dambain, sayangin dia, jaga dia, jangan sampe lepas lagi” tutur Nabila sambil merekatkan tangan ini di genggaman Jovanda.

“buat lo Jo, jangan sakitin Rakha lagi, sebab dengan lo nykitin dia, lo sama aja nyakitin gw, jaga dia baek – baek buat gw”

Derap langkah itu perlahan setapak demi setapak mulai menjauh dariku yang masih berpegangan erat dengan tangan Jovanda. dia mulai pergi meninggalkanku bersama rasa yang sebenarnya teramat rumit untuk saya jabarkan. Bagaimana ia menyatukan kami berdua dan kni dia harus pergi tanpa mendapat apa yang dia inginkan. Kini baying itu mulai hilang di tengah kabut yang mulai turun menyelimuti kami. Hawa dingin itu menambah dingin suasana hati Nabila seolah tak akan pernah mencair sampai kapanpun tentang bagaimana saya menyakitinya. Ini merupakan suatu pengorbanan yang tidak bisa saya sia – siakan. Sebab ia rela harus bersimbah rasa perih untuk melihat orang yang dia sayangi bersanding dengan yang lain. Mampukah kita sebagai manusia melakukan hal seperti ini ?? saya rasa hanya Nabila yang mampu !

“Rakha, Nabilaaa . . . . Nabila Kha . . . !!!” masih menangis itu kekasih di pelukan saya.

“iya Jo, iya . . . . udah jangan di tangisin lagi. Kamu ga boleh kaya gini. Kamu mesti ngehargain pengorbanan dia buat kita. Jangn di sia – siain lagi” tuturku lembut menyadarkan dari tangisnya.

“tapi aku bisa ngrasain itu hati dia pasti sakit banget ngliat kita balikan kaya gini, aku ga tega Kha, aku ga tega !!!” makin kencang saja sesenggukan itu di atas dada ini.

“iya itu udah konsekwensi dari hubungan kita dan kemauan dia. Mau gimana lagi kalo akirnya harus kaya gini ?? coba lah buat ngertiin keputusan dia, jangan kamu terus kaya gini” tangain ini mulai menyadarkan Jovanda di atas pipinya.

“aku ga bakal nglarang kamu buat deket sama dia, karena aku percaya sama kamu. Aku rela berbagi waktuku dengan dia, karena aku tau kamu ngerti batesanku dengan dia apa. Tetep temenin dia di saat dia butuh kamu Kha, dia yang udah nyatuin kita sejauh ini” dengan iklasnya Jovanda berucap seolah saya adalah buah yang bisa di bagi dua.

“iya sayang iya, udah cukup nangisnya, . . sekarang kita turun dan kumpul sama klompok masing – masing ya” ajakku pada Jovanda sambil menarik tanggannya mengikutiku.

Tak lama saya berjalan menyusuri anak tangga setapak demi setapak. Di tengah saya berjalan, tiba – tiba saja saya terjatuh. Maka saya suruh Jovanda untuk mendahului, sebab saya masih sibuk dengan tali sepatu yang ternyata terbelit di sebuah jepitan batu. Masih sibuknya saya melipat tali sepatu, saya perhatikan di atas sebuah batu duduk berwarna abu – abu terang itu ada sebuah bekas tetesan air. Dengan beberapa tetes saja di satu tempat yang sama seolah ini tetesan buatan. Pagi itu tidak ada hujan maupun sumber air di sekitar tempat saya terjatuh, melainkan ini adalah batu yang tadinya sempat Nabila gunakan untuk duduk sejenak sebelum ia pergi meninggalkan saya. Maka dengan perasaan tak tenang saya berharap, semoga, . . .

Ini . . .

Bukan . . .

Air mata Nabila . . .

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 463 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya