Cerita Cinta – Chapter 69. Harapan itu masih ada !!

Chapter 69. Harapan itu masih ada !!

Satu bulan lamanya saya menunggu Fany dan Nabila akirnya baru datang ke Malang. Ternyata Fany tengah terkena bakteri Salmonella Enterica yang berujung pada sakit Tipus atau demam tipes. Al hasil rekan satu tim saya ini harus di rawat di rumah sakit dan lagi – lagi dia tidak mengabari saya beserta Nabila. Jengkel itu tentu ada, bukan lantaran misi ini menjadi tertunda, tapi karena saya lebih mengkawatirkan kondisi rekan saya tersebut. Sesampai di Malang mereka langsung mengabari saya sebab telah mendapat kosan baru beserta mobil yang mereka rencanakan ternyata benar di bawa adanya. Maka malam itu saya segera bergegas untuk melihat kondisi Fany dan memberi sedikit kabar tentang misi Jovanda.

“Fan, lo sakit kok gak kabar – kabar sih !!” tanyaku dengan kesal sesampai di kosan Fany dan Nabila yang kini menjadi satu rumah namun beda kamar.

“kalo gw ngabarin emang lo mau jenguk gw sampe Jakarta sono ?? hahahaha” sambil meminum multi vitamin itu gaya bercandanya sungguh teramat garing untuk saya.

“ya ga sampe jenguk kale DORAEMOOOOON !!! tapi kan gw bisa kirimin doa atao seenggaknya apa lah” jawabku bingung karena masih kesal dengan Fany.

“iye – iye mkasih niatannya Abang Rakha, tapi gw ngerti sikon lo yang lagi banyak masalah itu, jadi ga pingin nambahain beban di pikiran lo gitu. Gw yakin kok klo gw bilang lagi sakit di Jakarta pasti jadi beban lo kan secara ga langsung. Hayoooo” sambil bermain telunjuk ia tujukan itu untuk saya.

“iya juga sih, tapi seenggaknya ngabarin Fan laen kali ya, oiya kmren gw udah dapet kenalan kiai daerah Sawo Jajar sono noh. Dan gw udah janjian ama beliaunya. Cuman masalahnya satu . .”

“apa masalahnya Kha ??” dengan penasaran Nabila langsung merespon pembicaraan saya dan merapat mendekekat menjadi hangat.

“kata beliau Jovan emang kenapa pelet, cuman ini dia kena peletnya ga nanggung – naggung lamanya Bil, bner apa yang di katain Nonik, jadi selama 3 tahun sama Deri, si Vanda ini di bawah pengeruh pelet. Berhubung tu dedemit udah betah banget di tubuh Jovanda, kiainya minta kita buat mempertemuin langsung. Sebenernya bisa sih di bantu dari jarak jauh kalo masih belum telat, cuman masalahnya ya ntuh, demitnya uda krasan di sana dan mesti di usir secara langsung di depan kiainya gitu. Gimana coba, lo ada ide kaga ??” tanyaku pada Nabila yang sering mempunyai ide cemerlang.

“E . . E . . e . . . buset itu demit betah amat di tubuh Jovan. Tapi ga heran juga sih, demit mana kaga doyan ama toge segede buah semangka gitu. Ehm !!” sambil melihat buah dadanya sendiri Fany bertutur tidak ada usul.

“gini aja Kha, masalah Jovan k tempat kiai itu biar gw yg urus sama fany. Lo persiapin aja waktunya biar cpet n lancar. Jadi siang abis kita kuliah sos Pariwisata lo langsung cabut k Sawo jajar aja. Dah gitu aja dulu. Gw mau kluar sekarang ke apotik !” dengan mengusir saya pulang tiba – tiba saja Nabila ingin pergi ke apotik malam itu juga.

“lah mo ngapain lo ke apotik malem – malem gini, mana gw musti pulang lagi, ah !!” keluhku pada Bila yang lagi – lagi tak ingin terbuka dengan saya.

Baiklah malam itu saya pulang dengan sedikit perasaan dongkol dan gondok tentunya. Sebab tanpa alasan yang pasti Nabila menyuruh saya pergi dan ia ingin pergi ke apotik. Entah apa yang tengah di rencanakannya maka saya menurut saja. esoknya tiba hari dimana yang sudah saya janjikan dengan Pak Nur melalui via telfon. Maka segera sehabis dzuhur sepulang kuliah saya langsung cabut ke rumah Pak Nur. Sedangkan Nabila dan Fany terakir saya lihat tengah asyik di kantin dekat parkiran ngobrol bersama. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya Nabila mencoba mendekati Jovanda melalui Fany.

Sesampai di rumah Pak Nur saya tunggu dengan setia itu para sahabat yang terlebih dulu saya berangkat bersama Stevy. Dengan menunggu lamanya satu jam akirnya Fany dan Bila datang tepat di depan rumah Pak Nur. Kala itu mereka membawa mobil, mungkin ini salah satu alasan mereka untuk memanjakan pantat Jovanda. Mungkin saja pikirku, namun lihat apa yang terjadi, Fany dan Bila dengan gugupnya memanggil saya dan Stevy seraya pertanda meminta bantuan tanpa menghiraukan Pak Nur yang saat itu sudah berada di teras depan rumah.

“Rakha bantuin ini Jovan ada di dalem mobil berat banget anjiiiir !!!!” keluh Fany dengan kesalnya kepada saya sambil menghela nafas panjang seolah dia kecapaian.

“Lah napa dia ga kluar sendiri sih Fan ??” tanyaku sambil melihat kondisi Jovanda di dalam mobil.

“udah Kha sini bantuin gotong Jovanda dulu !!” seru Bila menarik saya untuk menggotong Joavanda.

“kok dia tepar ?? gak bangun lagi ?? ini lo apain Bil ??” dengan herannya saya gotong itu Jovanda sendiri tanpa di bantu Nabila.

“gw kasih obat tidur, mana lama banget responnya tu obat makanya lama. Duh gila capek, ini cewe keberatan toge apa dosa sih” dengan kesalnya juga Nabila berucap sama seperti Fany.

“jadi ke apotik semalem beli obat tidur, wah parah lo ini anak dekan Bil, bisa panjang urusannya kalo gini” keluhku sambil menyandarkan Jovanda di kursi ruang tamu di bantu Pak Nur.

“Bil, ini kapand Jopan bangunnya, tar jangand – jangand salah kasih dosis kamuh ke dia, kalo salah malah bisa ga bangund – bangund loh” Stevy pun bertanya perihal kapan Jovanda akan bangun dari lelap buatan Nabila.

“gw kasihnya dikit banget biar tar dia cepet bangun, perkiraan gw ya sekitar satu jam dari waktu gw kasih obatnya. Berati ga lama lagi dia bakal bangun Step” masih melepas penat Nabila mencoba menjelaskan.

Kami berempat telah berkumpul di ruang tamu tengah, ada saya, Stevy, Fany, Nabila serta Jovanda dengan di damping oleh Pak Nur. Sekitar sepuluh menit dari perkiraan Nabila akirnya Jovanda bangun membuka mata untuk pertama kalinya. Dengan sedikit pusing ia mencoba mengenali kondisi sekitarnya di mana dia berada. Maka dengan sedikit gugup saya mencoba menjelaskan kepada Jovanda agar tidak jauh lebih panik ketakutan.

“Jo tenang Jo, kamu di tempat yang aman kok, ini rumah pak ustad kenalan ku. Kamu ga bakal di apa – apain kok” tuturku mencoba menenangkan Jovanda yang terlihat gelisah.

“ini terus pada kumpul semua mau ngapain ?? kok tiba – tiba aku ada di sini sih ??” masih dengan bingungnya Jovanda clingak clinguk memperhatikan rumah Pak Nur.

“gausah takut dek, bapak di sini mau nyembuhin kamu. Jadi tenang aja gausah panik. Bapak minta kamu untuk nurut aja, yah. insyaAllah abis ini semua bakal balik kembali seperti semula kok” dengan ramahnya pak Nur menjelaskan maksud dari saya dan rekan – rekan.

Tidak banyak cincong lagi di sini Pak Nur langsung menyiapkan segelas air putih yang dia doakan beberapa saat dan kemudian Jovanda di pinta untuk berkenan meminumnya. Meskipun ada penolakan dari Jovan awalnya, namun dengan sedikit paksaan dari Fany dan Bila akirnya di minum juga itu air. Dan taukan sodara apa yang terjadi sesudah Jovanda meminum air tersebut, saya sudah membayangkan bakal berpelukan dan kemudian langsung balikan saat itu juga. Tapi nyatanya tidak, Jovanda,

Masih tetap saja . . .

Tidak ada perubahan . . .

Sedikitpun . . .

Ya . .

Tidak ada yang berubah dengan keadaan ini.

Sore itu saya pulang dengan perasaan semakin berkecamuk, ini kenapa Jovanda tak kunjung sembuh dari pelet Deri. Sesaat sebelum saya pulang, Pak Nur berpesan dan memberikan sebotol air untuk saya. Saat itu semua rekan – rekan sudah pulang termasuk Stevy nebeng bersama Fany dan Bila untuk mengantar Jovanda pulang.

“dek Rakha, tunggu sebentar. Ini ada air sebotol bapak minta untuk adek siramin di sekitar rumah dek Jovanda sekarang juga. Terus ini ada lafadz yang bisa adek bawa kapan aja berupa gulungan kertas kecil. Ini bukan jimat, ini untuk menetralisir niatan jahat yang mau menimpa adek Rakha atau orang yang adek Rakha sayangin. Masalah perasaan dek Jovanda ke adek biar waktu yang menjawab. Sebab masalah itu gak ada yang selesai secara instan. Jadi dek Rakha tetep berdoa dan percaya aja kalo semua akan kembali seperti biasa” maka itu adalah pesan dan amanat terakir yang beliau beri kepada saya sebelum berpisah.

Malam itu saya masih berkeliaran di jalan raya kebut kebutan membelah ramainya kota Malang yang dinginnya membuat hati kian dingin atas keadaan yang tak kunjung membaik ini. sedangkan amanat Pak Nur untuk menyiram air di sekitar rumah Jovanda juga sudah saya lakukan secara diam – diam, dan apa yang terjadi, tetap !! semua sama saja tak berubah hingga akirnya saya putus asa untuk pulang ke kosan menenggelamkan dari ini di ranjang yang mungin bisa menemani galaunya perasaan saya saat itu.

Sesaat saya larut dalam kalut tiba – tiba saja sekitar pukul 11.00 PM malam hape di atas meja itu berbunyi pertanda ada sebuah pesan masuk. Maka dengan malasnya saya beranjak dari ranjang untuk sekedar membuka pesan tersebut dan membacanya dengan isi sebagai berikut :

“Rakha udah tidur belom ??
aku pingin telfon sebentar . . .”
Sender : Jovanda Salsabila Putri

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 405 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya