Cerita Cinta – Chapter 57. Ini Tidak Seperti Biasanya

Chapter 57. Ini Tidak Seperti Biasanya

Tragedi di rumah Amelia beberapa hari yang lalu tentu masih membekas di kepala ini. Bagaimana seorang wanita bisa begitu marahnya ketika orang yang di sayanginya berdua dengan wanita lain dan itu di saksikan secara tidak langsung oleh matanya sendiri melalui foto. Pastilah ada perasaan takut jika hal seperti itu menimpa saya dan Jovanda. Tentunya para reader sekalian pasti juga tak setuju jika saya harus berpisah dengan kekasih tercinta. Namun sebelum kita saling menebak, biarkan lah Chapter saja yang bercerita di mana hubungan ini akan berlabuh nantinya.

Sore itu hujan, ya, hujan lagi dan hujan lagi. Nampaknya bulan April ini hujan akan terasa sangat lama. Entah hati ini terasa damai jika melihat rintik hujan yang berguguran ramai gemercik memecah sunyi. Kuliah sudah usai, tugas sudah di kerjakan, apa yang bisa saya lakukan di kosan ? nampaknya tidak ada, maka saya putuskan di tengah hujan itu untuk mengajak Jovanda sekedar keluar menikmati suasa hujan di dalam caffe bertemankan kopi susu atau wedang jahe, tentu mantap bukan suasana klasik yang di tawarkan. Maka saya sms itu Jovanda untuk, sebelumnya maaf jika saya berlebihan. Untuk menjemput saya sebab saat itu dia yang tengah mampu untuk membawa roda empat.

“yank, kluar yuk” dengan emotikon senyum saya sms terlebih dahulu.

“sekarang yank ??” Nampak ia memastikan sms saya tadi.

“iya sekarang, sambil ngliat ujan di caffe lesehan gitu” ajakku dengan menjelaskan maksud.

“duh aku rada males yank” dengan emotikon cemberut ia menolak ajakanku.

“udah ikut aja dlu, aku jamin suasananya seru, tar aku deh yg jokiin mobilnya” tawarku pada Vanda agar ia mau sebab saya tak mau kehilangan moment ini.

“ywdah lah, tungguin yank” smsnya singkat.

Terasa aneh juga seorang Jovanda yang biasanya selalu ikut kemanapun saya pergi dan selalu bersemangat bila saya ajak itu untuk menghabiskan waktu bersama kini dengan jelasnya saya baca itu sms yang isinya ia tengah malas untuk saya ajak keluar. Namun saya tetap berfikiran positif, mungkin saja ia tengah tak ingin berbasah basahan atau ribet untuk mengeluarkan mobil. Terasa cukup lama saya menunggu, nampaknya ia benar – benar malas untuk saya ajak keluar kali ini. akirnya dengan menunggu selama satu jam ia baru datang menemui saya berada di bawah kosan tepat dengan Honda Jazz merah miliknya.

“ini kita mo kmn sih yank, ujan ujan gini jugak” nada itu terdengar sangat malas untuk di dengarkan.

“ya maen aj yank k caffe lesehan ambil nikmatin ujan” ujarku masih dengan semangat.

“gmna mau nikmatin jugak orang ujan – ujan gini berangkatnya” masih dengan malasnya ia bersikeras untuk tetap pada pendirian.

“udah sini aku yg jokiin” sambil saya masuk ke dalam mobil maka betrangkatlah saya di tengah hujan bersama Jovanda.

Aneh memang terasa aneh, ada apa gerangan ini satu kekasih tumben sekali mood jelaknya ia tunjukkan di depan sang pacar. Padahal sebelumnya saya atau lebih tepatnya kami tidak pernah mengalami hal seperti ini. entah gerangan apa yang tengah hinggap dalam fikiran Vanda yang jelas sejauh ini saya tetap berfikiran positif tentunya. Saya yakin seyakin yakinnya ini bukan perihal Nabila atau hal yang pernah saya lakukan di Jakarta saat malam hujan itu. Sesampai di sebuah caffe lesehan yang bisa di bilang cukup berkelas tapi sederhana. Sebab harga sangat bersahabat namun tempat bak golongan pejabat. Maka duduklah kami berdua usai memesan menu dan perbincangan ini pun saya mulai lebih dulu sebab saya ingin tau hal apa yang membuat moodnya hari ini sedikit buruk di depan saya.

“yank, kok kayanya masih males gitu ??” tanyaku penuh harap.

“ya emang lagi males sih yank . . .hff” sambil menghela nafas ia membuang muka.

“iya malesnya kenapa kok tumben banget ga kayak biasanya ??” masih saja perasaan ini di rundung kebingungan.

“ya males sama kondisinya aja . .” dengan asyik bermain hape dia sama sekali tak menghiraukan saya.

“yank kalo ada hal yang salah tlong kamu ngomong !” sedikit bentakku agar saya tau hal apa yang tengah terjadi.

“ga ada yang salah ! kamu tuh kalo ngmong gausah bentak juga ngapa sih !” ia pun mulai ikutan naik darah rupanya.

“ya kamu ga biasanya gini makanya aku bingung ini kamu kenapa !” masih dengan nada yang keras saya berusaha menahan amarah saya yang entah bingung mau saya buang kemana.

“kamu itu yang kenapa !! gausah pke bentak napa sama cewek !!” ia tak mau kalah maka naiklah pitam itu setinggi leher.

“aku ga ngerti sama kamu hari ini, jujur aja, rasanya aku kaya lagi ga jalan sama pacarku. Kamu itu rasanya asing di mataku. Ga tau apa yg buat kmu hari ini bisa jadi aneh yg jelas aku ga suka !!”

“klo aku bukan pacar kamu trs aku apa !! aku selingkuhan kamu gitu !! maksud kamu bilang kaya gitu tuh apa ha !!!!”

Sudah lah jangan di lanjutkan lagi, pembicaraan saat itu teramat tak sopan untuk saya ekspose di sini. Saya tak ingin orang yang saya sayangi terlihat buruk di mata para reader. Sebagai laki – laki saya masih sanggup bersabar sampai sejauh ini dan saha tahan itu semua beban di hati yang rasanya sungguh lebih berat dari tugas akir skripsi. Maaf jika saya di sini terkesan membela Jovanda, memang sebab saya tak ingin image tentang dia berubah sedikit pun menjadi buruk meski ini hanya sebuah cerita masa lalu.

Singkat cerita kami justru bertengkar hebat di caffe yang awalnya sebagai tempat untuk memadu kasih berubah menjadi memadu amarah. Pitam miliknya juga enggan turun, amarah ini pun juga tak henti – hentinya untuk terus bergejolak dan memaksa saya beranjak dari caffe tersebut dan meninggalkannya, sebab saya sudah tidak tahan dengan semua keanehan yang terjadi pada Jovanda. Dengan bertumpu tanah dimana saya berpijak dan hujan sebagai atapnya, saya berjalan menyusuri rinai hujan yang kala itu mulai reda namun dengan setianya masih membasahi tubuh ini hingga kedinginan.

“Yank kamu jangan kaya anak kecil gini !!” turun Jovanda dari dalam mobil dengan membawa payung.

“oke kamu bilang aku kaya anak kecil, ini emang caraku untuk nylsein masalahku sendiri !” dingin itu rupanya masih belum mampu menembus dinding hati yang masih terbakar amarah.

“maaf aku ga tau kenapa tiba – tiba aja tadi aku rasanya males banget ketemu kamu, aku ga tau kenapa. Makanya aku Cuma bisa marah dan aku bingung mau ngmong apa” hanya dengan penjelasan itu rasanya telinga ini mulai menangkap suara Joavanda. Ya, ini Jovandaku ia telah kembali.

“terus kapan kamu mulai ngrasa kaya gini, aku jauh lebih bingung yank kalo kamu tiba2 aja berubah ga jelas kaya tadi. Aku bner2 kaya ga ngenal kamu yang tadi. Aku bisa ngrasain perubahan sekecil apapun itu dari kamu. Sebab aku bner – bner udah sayang kamu. Meskipun kita jadian baru enam bulan, tapi rasa sayangku ga akan pernah habis buat kamu seumur hidup !” dengan menggenggam erat tangan Jovanda, saya mencoba menyakinkannya bahwa jangan sampai hal ini terulang kembali sebab saya terlanjur menyayanginya.

“iya yank, maafin aku . . . “

“maaf . . .”

“maafin aku . . . .”

Pelukan itu terasa hangat menembus relung hati seketika amarah itu hilang entah kemana. Dinginnya hujan tak lagi kurasa, sebab tubuh ini masih bersatu dengan Jovanda. Rasa kasih sayangnya dapat saya rasakan mengalir deras di setiap laju darahnya. Ya, ini cari kami merasakan satu sama lain. Hanyut lah kami dalam rinai hujan yang masih setia membuat kami setengah basah dengan payung yang kini menjadi atap di atas pegangan tangan Jovanda. Dengan perasaan haru kami beranjak pergi, saling memaafkan dan berharap semua ini akan baik – baik saja. ya, semoga akan tetap baik – baik saja sampai kapanpun.

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 400 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya