Cerita Cinta – Chapter 41. Dosa Terindah

Chapter 41. Dosa Terindah

 

Perasaan itu terus mendorongku kuat masuk dalam sebuah alunan jiwa yang tanpa saya sadari, angan ini teringat akan Jovanda yang jauh di sana. Ya, sebejat apapun hal yang saya lakukan ini saya masih ingat itu dengan gadis yang mencintaiku. Masih terukir jelas di benakku tentang sebuah penyesalan yang nantinya akan saya rasakan, penyesalan tentang kasih sayang Vanda yang harus saya nodai. Mungkin dengan tulisan ini, Vanda akan tau bagaimana saya memperlakukan dia lima tahun yang lalu. Maka sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin minta maaf sebesar – besarnya kepada Vanda.

Dorongan itu terus mendorongku hingga tanpa saya sadari bahwa hidung kami sudah saling bersilaturahmi dekatnya, mata kami hanyut dalam alunan rintik hujan. Dinginnya angin berhembus malam itu bagai selimut hati yang bertaburkan bunga cinta. Entah cintaku atau cintanya, untuk sejenak ku menutup mata ,dan sekali lagi dengan perasaan menyesal, maaf, bibir kami sudah saling berpagutan satu sama lain. Bertubi – tubi bibir mungil Nabila mengulum bibir bawah milikku, tangan lembutnya mulai memegang lembut kepalaku dan seraya ia mengusap serta di tekan kepala ini semakin hanyut dalam nikmatnya ciuman milik Nabila.

Terdengar berat desah nafasnya mulai bercumbu tak karuan, aroma tubuhnya yang menghipnotis tubuhku seakan membuatku makin membabi buta ciumannya yang kian dahsyat beradu dengan lidahku. Lama sekali saya tak merasakan hal ini, terakir kali saat saya esema kelas tiga. Dan kini, saya mulai merasakannya kembali seolah perasaan ini kembali berkecamuk teringat akan mantan yang sekarang telah bahagia dengan seseorang di sana.

Saya mulai kehilangan kendali di sini, nafasku kian berat untuk sekedarku menghirup udara. Panas tubuhku naik memicu sampai ke atas otak, dengan tidak sopannya tangan ini mencengkram rambut milik Nabila dan menengadahkan kepalanya menatap rintik hujan yang masih setia menemani. Kini ciumanku sudah jauh meleset bukan lagi pada bibirnya, tidak lain tidak bukan saya tengah menghajar leher jenjang Nabila yang telah terlentang pasrah tak berdaya, dan ia justru menikmati hal ini. dalam sibuknya saya berkatifitas pada malam hari itu, samar – samar suara Nabila terdengar mendesah memanggil namaku dengan beratnya.

“Sssssssh, Kha, . . . . Uhhsssss”

“Raaa . . a . .aak . . .Khah, Uuuuuuuuhg”

“Khaaaaaaa, gue, puuushiiiiing”

Mendengar apa yang tengah Nabila rasakan maka dengan sadar sesadar – sadarnya, saya segera menjauh jaga jarak dari tubuh Nabila seketika. Saya malu atas apa yang telah saya lakukan. Perasaan ini sangat terasa campur aduk seperti cendol yang ada di kaskus saja. terasa manis tapi kadang bata big itu juga menimpa kepalaku pertanda menyadarkan apa yang telah aku lakukan sejauh ini. saya sudah trima bakal di apain dengan itu Nabila, mau di gampar di hina, di maki ato apa maka saya akan terima. Ya, saya akui sebab saya salah.

“Kha, lo cium gw . ..” entah itu kalimat tanya atau berita saya tak faham intonasinya.

“iya Bil, maaf gw ga sadar, tiba2 aja . . .” saya tak mampu untuk berkata lagi sodara.

“jujur gw ngrasa nyaman banget wktu lo cium Kha” tutur bila dengan memegang bibir bekas kecupanku.

“hah . . . ????” hanya itu respon saya.

“duh Bila maaf gw lepas kendali, gw kilaf, maaf bgt. Anggep aja ga terjadi apa – apa malem ini, ya . . . dah yok masuk aja. Di sni makin dingin” seraya aku pergi meninggalkan Bila.

“ga terjadi apa – apa gimana ? ini di leher gw bekas merah – merah Kha . . .” Nabila mencoba mengingatkan atas perbuatanku.

“HAH ??!! kok bisa, padahal gw ga kenceng nyedotnya” saya pun berbalik lari menghampiri Nabila dan melihat kondisi lehernya.

Alamaaaaaaak, setan dah !! padahal saya tadi ga kenceng isep nya. Kenapa bisa merah begini, apa mungkin karena kulit Nabila yang terlihat putih sehingga lebih gampang memunculkan image merah di lehernya. Kalau sudah begini saya harus bagaimana, saya harus tanggung jawab gimana lagi.

“ini nyatanya merah Kha aku liat di pantulan kaca jendela, jelas lah kamu udah ngapa – ngapain aku” sambil bercermin Nabila masih sibuk melihat bekas cupangku.

“iya, iya gw salah, dah lah buru tidur aja Bil, gw ngantuk nih. Kita bicarain ini besok pagi aja, AArrrrrrrgH !!” teriakku stress karenanya sambil meninggalkan bila beranjak ke kamar tidur.

Sesampai saya di kamar, kepala ini dengan sadarnya mereplay kembali apa yang telah saya lakukan. Mencoba mengingat bagaimana awal kejadian itu bisa terjadi, namun tetap saja, banyangan kenikmatan atas bibir mungil Nabila lebih sering terlintas di otakku. Bayangkan saja jika saya tak mendengar apa yang Bila ucapkan, maka Bandung Lautan Asmara bakal jadi video 3Gp terpanas saat itu dengan sebanyak satu juta revew di setiap detiknya jika di unggah ke Youtube.

Kejadian itu justru tidak bisa membawa saya untuk lekas beranjak tidur, bayangan yang iya – iya akan fantasi Nabila membuat kantuk saya hilang seketika. Di tambah dengan kilat dan halilintar yang semakin menambah horror suasana malam itu membuat acara tidur ini menjadi susah. Sedangkan Fany, stevy, si Mbok dan adek – adek Nabila sudah sedari tadi terlelap dalam mimpi. Di tengah kilat dan gluduk yang menyambar malam itu, tiba – tiba saja pintu di gedor beberapa kali dari luar kamar seakan suasana berubah menjadi mencekam.

“DOK , . . DOk , . .DOK, . . .” suara ketuk pintu dari luar kamar.

“iya siapa ?!!” jawabku sedikit ketakutan.

“Rakha, gw ga bisa bobo . . . . . .” dengan nada takut Nabila berucap sambil menenteng bantal dan selimutnya.

“itu bantal ama slimut di bawa kemari mo ngapain coba, eh jangan Bilang lo mau . . .” belum selesai saya menebak.

“gw numpang tidur Kha, Pliiiis gw takut di kamar” memelas ia padaku.

“duh tar bisa bikin heboh gimana Bil, lo ada – ada aja kerjaannya” jawabku kesal sambil garuk – garuk kepala.

“lah ywdah lah lo tidur sebelah sini aja, tapi inget jangan macem – macem ama gw !!” ancamku pada Nabila.

“hah ?? bukannya kebalik Kha ??” sambil ia menempati kasur di sebelah saya.

“ya pokok jangan sampe keg tadi dah” ujarku masih sewot sambil memunggungngi Nabila.

“Rakha jangan balik badan, sama aja gw takut kaya ga ngliat lo !” tarik bila dari belakang punggungku.

“kampret lo banyak ye mintanya, apa lo ga lebih takut ama muka gw yg abstrak ini tanpa kaca mata, haaa”

“lo malah mirip seseorang kalo ga make kaca mata, hwahahahahaha . .”

Dengan tidak lupa mengunci pintu kamar dari dalam terlebih dahulu, maka malam yang bersejarah itu saya habiskan di bawah rintik hujan bertemankan tidur dengan Nabila. Banyak canda yang mengantarkan kami sampi ke gerbang tidur. Dengan perlahan menatap wajah Nabila yang terasa sendu dan kalem, maka perlahan mata ini mulai tertutup pertanda kantuk sudah mulai hinggap di mataku. Dan jika ini di sebut dosa terindah, maka saya rela sungguh rela adanya.

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 500 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya