Cerita Cinta – Chapter 33. Malam Keakraban

Chapter 33. Malam Keakraban

 

Sore teramat heboh atas kejadian yang menimpaku dan Nabila membuat mata ini menjadi malu – malu kucing garong untuk bertemu pandang, sesekali senyum itu tak bisa di sembunyikannya jika di ingat CD warna pink itu bergoyang jelas di depan mataku. Andai ini video, maka sudah saya pause itu adegan untuk selama – lamanya, betul itu sungguh. Masih dengan hasrat bercampur malu, maka saya coba untuk cairkan suasana agar tidak terjadi canggungisasi diantara diri kami.

“Bil coba lo telfon Steve tar dia naek dari Kediri jam berapa” suruhku pada Nabila yang lagi sandaran di tepi jendela.

“oiya, gw belom ngabarin dy kalo hari ini kita berangkat bareng” tepok jidat itu wanita.

Maka dengan cekatan ia segera telfon Stevy langsung dari hape Nabila punya.

“Halo stev, lo dah siap2 belom ??”

. . . . . . . .

“hah, lo kok ga ngabarin sih, anjrit loh !!” terlihat itu Nabila marah besar.

“padahal gw bareng Rakha dari T. A biar bisa bareng lo juga begoo !!”

. . . . . . . .

“yah kan gw mo buat sureprise, kenapa jadi gw yang kaget, hiiiih !!”

“ywdah lah, met ketemu di Jakarta aja, dah lah, baaaay !!!” tutup Nabila kasar pada handfonenya.

Wajah itu terlihat gondok sekali seusai mentelfon Stevy. Apakah Stevy batal ikut ke Jakarta maka saya pun tak mengerti apa yang tengah terjadi. Maka dengan dasar tidak tau menau, saya tanya itu Nabila kenapa bisa marah – marah ga jelas pada Stevy.

“kenapa Bil Steve ?? gajadi ikut ??” tanyaku keheranan.

“gajadi apanya, dia uda di Jakarta bareng fany kemaren naek pesawat, hiiiiih !!” tuturnya dengan geram.

“nah lo, jadi Cuma kita doing nih yang di kereta. Gajadi berempat ama fany jugak ??” tanyaku bodoh.

“ya iyalah Kha, secara mereka tuh sekarang uda di Jakarta. Itu si Fany juga kga ngabarin gw mo brngkat dluan, sapa yg ga kesel Kha di giniin nih !!!”

“gue ?!! hahahahah” jawabku asal ceplos.

“Rakha lo tu nyebelin bgt seh !! orang lagi marah jugak malah lo becandain, ga lucu Kha !!”

“tapi emang lo demen juga kan kalo bisa berdua doang ama gw di sini tanpa sibuk di ganggu Stevy, hayooo looooo, ngaku nggak !! hahahahaha” tuturku memojokkan Nabila.

“idiiiiih lo apaan sih kepedean tuju turunan tau gak, udah ah jauh jauh sono lo di pojokan kreta !!” dorong Nabila memojokkanku di tepi tempat duduk.

Dengan ini, maka jauhlah saya duduk di seberang kursi karna Nabila adanya. Sedangkan ia bersandarkan jendela menatap langit sore yang kala itu tengah berganti menjadi malam. Udara AC di gerbong kala itu sama sekali tak dapat di bohongi, terlihat dari cara Nabila menyembunyikan tangannya di tengah – tangah pahanya maka sudah jelas bahwa ia sedang kedinginan karenanya.

Sedangkan saya, aman – aman saja karena sudah prepare jaket untuk berada di samping saya sebelum koper di naikkan ke atas bagasi. Melihatnya kedinginan seperti itu sungguhlah iba rasanya, ingin tangan memeluk bulan, tapi apa daya tangan tak sampai. sebab saya takut nanti malah di kira parno olehnya. Maka saya diam saja menunggu ia benar – benar kedinginan hingga suatu waktu ia sudah kehabisan daya untuk bertahan dan mulai melirikku sesering mungkin, pertanda ia memberi tahuku bahwa saat ini ia sangat kedinginan. Padahal sedari tadi saya juga sudah tau hal ini, kejam sungguh diri ini kejam.

“Dingin ????” tanyaku.

“hmmmmm’em . . . . brrr” terlihat ia mulai menggigil kedinginan.

“kenapa ga ambil jaket aja di tas lo ??”

“jaket gw ketumpuk baju ada di bawah sendiri, susah ambilnya, brrrr” semakin bicara. Semakin jelas ia menggigil.

“udah ga pake jaket, make celana pendek, kena AC lagi, lengkap dah, sini lo . .” tangan ini mulai menarik tubuh mungil Nabila di dekatku.

“mo ngapain Kha ??” mata itu berbinar penuh harapan.

“udah diem aja, makin kedinginan tar lo” ujarku tegas sambil melepas jaket tebalku.

“ini lo mo ngapain gue, pliiis Kha lo jangan aneh – aneh” wajah itu menahan tangis karena kawatir.

“otak lo perlu di cuci nih kayanya Bil” rangkulku menidurkan kepala Nabila di atas pangkuanku seraya menutupi tubuhnya dengan jaket milikku.

“loh Kha, trus lo make apa ??” Tanya Nabila keheranan setengah bingung salah tingkah.

“gampang gw, tar kalo ada OB lewat nawarin slimut, gw bisa nyewa tuh slimut” jawabku sambil menyandarkan kepala ini karena kantuk.

“maaf ya Kha klo gw sering kasar sama lo, gw cuma ga terbiasa dengan keadaan kaya gini”

“udah tidur aja gausa curhat, besok pagi gw bangunin loe, key” jawabku tak mau mendengar apa kata Nabila.

“makasih Kha buat ini” ya, itu kata terakir yang saya dengar sebelum saya beranjak ke alam mimpi.

Malam itu saya habiskan untuk tidur di atas kursi dengan posisi duduk berpangku kepala Nabila di atasnya. Terlihat nyenyak itu satu wanita dengan sesekali mencari kehangatan di sela jaket yang saya selimutkan. Kami berdua tidur bersama dalam posisi yang berbeda, dengan ini maka saya harap habislah waktu bersama segala rasa capai yang telah saya rasakan sejak awal perjalanan. Dan Jakarta, aku siap menemuimu esok pagi.

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 547 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya