Cerita Cinta – Chapter 30. Derita Anak Tiri

Chapter 30. Derita Anak Tiri

 

Ini hari pertamaku berada di rumah, pagi itu pukul setengah tuju sudah beranjak bangun dari tempat tidur nyamanku. Tak seperti di Malang, pagi lebih sering saya lewatkan dengan acara tarik slimut di kasur. Jika di rumah kondisinya, saya memang terseting untuk bangun lebih awal dari biasanya. Pasalnya rumah akan selalu di suguhi kesibukan yang ada saja kerjaannya. Dengan berbangga diri maka turunlah saya ke lantai bawah untuk melihat bunda yang tengah membersihkan halaman depan rumah, maka dengan sedikit mengejek bunda saya pamer bahwa jam sepagi ini sudah bisa bangun sendiri.

“pagi ndaaaaaaaa . . . hahay !!” sapaku kegirangan.

“Rakha sini bantuin bunda angkat potnya, Bila ga kuat soalnya” suruh bunda tanpa menghiraukanku.

“Lah, mang Bila udah bangun ??!! mana dia ??!! tanyaku tak percaya.

“ituh lagi bawa minuman di belakang kamu” lirik bunda ke arah Nabila.

“Pagi Khaaaaaa, minggir kamu, hush, hush, . .” Nada itu sunggu mengejek telinga ini.

BAJINGUUUUUUUUUN !!!! Dia bangun lebih pagi dari pada saya pemirsa !!! terlebih lagi dia malah asyik bersih – bersih dengan bunda. Sungguh saya tidak terima, bagai anak tiri kandungpun tak jadi.

“tumben Kha dah bangun jam segini, hihihi” tawa Nabila dengan nada sindiran.

“ya udah lah, mang gw bangkongan !?” jawabku ketus.

“kemaren ada yang bolos kuliah jam 7 gara – gara ga bisa bangun pagi lho tante” ujar Bila ke bunda sambil cekikikan.

“lho iya tho Kha ??” ujar bunda kebingungan.

“ah enggak, enggak itu bukan aku bun” jawabku gelagapan.

anying ini bocah, sudah satu hari gaya betul dengan bunda, baru satu hari sodara, setatus saya sudah merasa tergeser di rumah ini. Maka di tambah mbak datang dengan menyapa Bila terlebih dahulu membuatku pingin minggat saja ke Jakarta pagi itu.

“Kha, kata bunda kamu mau maen ke Jakarta to sama Bila & temen – temenmu ??” sahut ayah dari arah belakang dengan asap rokoknya.

“oh, iya yah. Kalo ayah ngizinin, aku tinggal berangkat aja besok sore” ujarku.

“ya ayah sih gapapa Kha, toh kamu uda gede masa masih mau emak – emakan sama bundamu, liat tuh Bila aja cewek berani maen ke tulungagung sendiri” ejek ayah padaku.

Sungguh pun pagi itu serasa seperti matahari ada di atas kepala ini, saya muak dengan ini segala diskriminasi adanya. Tidak habis pikir kenapa ini keluarga berubah derastis semenjak kedatangan Bila. Kampret itu benar – benar membawa dampak yang sangat signifikan bagi keluarga saya. Maka pagi itupun dengan segala perasaan gerundel nan berkecamuk saya habiskan di rumah bersama Nabila hingga siang menjelang, kami pun izin keluar berdua untuk membeli tiket kereta dengan dalih mengajak Bila jalan – jalan.

“Nda, kluar sebentar sama Bila ke alun – alun kota” siang itu pukul 02.30 PM

“tante pamit dulu yha, izin kluar sama Rakha” dengan mengecup punggung tangan bunda, Bila berpamitan.

“iya ati2 ya nak, sebelum magrib cpet pulang, di cariin bapak tar” ujar bunda seraya mengusap rambut Nabila.

“Asalamualaikum” maka itulah salam yang di ucapkan Bila sebelum beranjak pergi.

Kami pun segera bergegas pergi dengan menaiki Mio sporty yang kala itu tengah booming di tahunnya. Sebab sodara pasti sudah faham semua bahwasanya Blady sedang saya tinggal di kosan bersama teman – teman motor lainnya.

“kalo di T.A gini lo biasanya nongkrong dimana Kha ??” Tanya Nabila pada saya yang tengah berkendara.

“dimana yah ?? sini gada Mall Bil, ABGnya juga pada labil, jadi males keluar, keseringan gw abisin di rumah cewe gw, kalo ada cewe sih, huff” keluhku.

“owh, lebih suka PDKT ama camer lo gitu ya, hahahahah” tawa Bila mengejakku.

“halah kaya lo enggak aja, pagi2 udah gebet emak gw tadi” jawabku sungguh sinis.

“hwahahahahahaha !!!!! nyatanya mak lo demen gitu ama gw Kha, beliau cerita bnyak tentang lo tadi, hahahahahahaha . . .” tawa itu sungguh pun sangat ceria nan terdengar menyiksa di telinga.

“anyiiiiing, . . . cerita apaan bunda ke lo tadi nyet ?!” jawabku dengan kesal.

“Rahasia camer ama menantunya Kha, week” sungguhpun gadis itu pandai mempermainkan hati saya pemirsa.

Dalam hati, saya hanya berfikir bahwa saat ini adalah Jovanda sebagai calon menantu yang jelas satatusnya, sedangkan bunda belum tau menau perihal hubungan percintaan saya saat ini. Maka di anggap jomblo lah saya di mata bunda dan Nabila. Jika boleh berujar, sangat terasa menyiksa batin ini untuk mengungkapkan kepada Bila atau bunda, sebab saya menyadari, bahwa bunda menaruh hati pada gadis asal Bandung yang mempunyai paras familiar nan jelita.

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 503 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya