Cerita Cinta – Chapter 152. Sarjana Mesum

Chapter 152. Sarjana Mesum

Tiba saat dimana diri ini akan di usung dengan gelar sarjana. Segala bentuk pengabdian selama empat tahun kini harus kami bayar dalam acara hari ini yang biasa di sebut dengan wisuda. Dimana saat ini adalah moment paling berharga sekali seumur hidup, maka tak heran jika ingin saya habiskan bersama orang – orang berharga dalam hidup ini. Dengan surat undangan yang telah di kirim ke rumah masing – masing, tentulah setiap perwakilan akan datang untuk menghadiri moment berharga tersebut. Masih tetap menggandeng tangan Fany, Stevy dan Doni di saat yang bersamaan, kami telah resmi menjadi seorang sarjana. Sedangkan kabar gembira ini juga datang dari salah satu sahabat baru saya yang bernama Dania. Dimana dia lulus lebih cepat dari kami berempat namun ia memilih jadwal wisuda yang sama dengan saya dan yang lainnya. Maka bisa di bayangkan bagaimana moment paling indah dalam hidup akan saya lalui hari ini.

Sekiranya pagi itu telah menjelang menjadi siang. Saya, Fany, Stevy, Doni dan Dania sengaja duduk di deret kursi yang sama guna menunggu nama di panggil satu persatu untuk maju ke atas panggung dan di nobatkan sebagai sarjana mesum. Oh maaf, maksud saya sarjana sosial dengan embel – embel S.Sos. pagi itu bunda datang bersama mbak dari Tulungagung. Untuk Fany ia cukup di wakili oleh ibunya tercinta. Sedangkan Doni dan Stevy lengkap bersama ayah dan ibunya. Namun sedikit miris untuk Dania. Karena ia berasal dari keluarga broken home, maka sang nenek lah yang secara berkesempatan untuk menghadiri acara cucu kesayangannya dengn kemampuan indigo tersebut. Dan untuk Nabila, ia setia duduk di belakang untuk menyaksikan kami di panggil satu persatu sebagai seorang sarjana. Dengan sangat tau saya faham apa yang tengah Nabila rasakan saat itu. Ada perasaan iri, menyesal juga tentunya bahagia semua telah bercampur jadi satu.

Andai saja pertengahan kuliah dulu kami tak terpisah karena cinta yang lain, mungkin saat ini Nabila sudah ada di antara kami untuk menjadi seorang sarjana. Sungguh hal yang amat di sayangkan dan membuat hati ini kian merasa bersalah. Namun di balik rasa menyesal itu, ia telah berpesan pada saya untuk tetep memandang kedepan tanpa harus memandang kebelakang menyesali apa yang telah menjadi pilihannya. Hingga acara usai, kami kini resmi menjadi seorang sarjana. Dan untuk acara selanjutnya, berfoto ria adalah hal paling wajib di rayakan untuk mengenang moment seumur hidup ini. Namun semua acara indah ini mendadak berbunga lara ketika kudapati Nabila tengah tak berada di antara kami. Kulihat isi hanfone saat itu ia hanya berpesan padaku bahwa ia tergesa – geas ke bandara sebab ada perubahan jadwal penerbangan yang harus secepatnya ia urus. Mengingat diri ini akan di tinggal olah Nabila usai acara ini berakir, maka dengan rela hati saya lepas sejenak Nabila pergi ke bandara dengan keadaan terburu – buru.

“Kha, Nabila mana ?? bukannya tadi lagi sama mak lo yee ??” celetuk Fany mencari sosok Nabila.

“barusan gw baca sms dia lagi buru – buru ke bandara mindah jadwal penerbangan katanya”

“yah kok di saat kaya gini sih, ini bentar lagi mau foto – foto kalo dia ga ada bisa nyesel seumur idup gw” sesal Fany merasa tak terima.

“apa lagi gw Fan, ini moment udah gw tunggu dari awal maba dulu, eh giliran tinggal foto doang Nabilanya ga ada malah ngilang” keluhku beradu pada Fany.

“yaudah di tunggu aja Kha, kayanya masih sempet kok. Ulur aja waktunya biar tukang fotonya mau nunggu” usul Dania memecah kepanikan.

“gini aja Kha, kita bagi acara fotonya jadi beberapa sesi dengan satu tukang foto. Logikanya kalo satu tukang foto di kontrak beberapa konsumen, pasti dia mau meski itu lama karena mreka bakal dapet uang lebih kan. Nah jadi lo foto dulu ama kluarga lo, trs Stevy, Fany, Gw, kemudian Dania. Abis itu kita foto berlima. Ga lupa kita foto berlima plus kluarga masing – masing biar tambah rame. Nah yang terakir baru foto ama Nabila. Ini kalo dia bisa dateng tepat pada waktunya. Tapi kalo udah waktunya mepet dia belom nongol juga, mau ga mau lo harus sewa cewek buat di ajakin foto bareng. Hehehehe” usul Doni cemerlang namun redup di akir.

“nah gitu juga bisa mes, bener itu kata Doni. Sesi ama Nabila taroh aja paling akir. Kalo dia tetep ga dateng juga, udah jangan sedih. Kan ada Stevy yang gantiin foto sama kamu. Hahay !!!”

“empat taon gw mati – matian kuliah kalo pada akirnya harus foto wisuda bareng berdua ama lo rasanya gw pilih foto ama tukang cilok depan gerbang suhat Step. Huuuufff”

Satu persatu acara foto pun di mulai. Tanpa terasa waktu telah lama berlalu, hingga akirnya belum kudapati juga sosok Nabila memberi pesan padaku. Hati ini mulai resah, mulai gelisah, mulai memikirkannya dan mulai terasa kecewa. Kenapa ini sangat saya sayangkan jika tak ada Nabila di sampingku, sebab ini adalah acara sekali seumur hidup. Beda halnya dengan ulang tahun yang bisa saya ulang setiap tahunnya. Bahkan saya sempat berfikir jika sampai moment ini gagal tak dapat berfoto bersama Nabila, maka saya akan melanjutkan S2 guna meraih moment yang sama seperti ini teguhku dalam hati. Hingga menjelang dzuhur, Nabila masih belum menunjukkan batang hidungnya di depan kami. Harapan serta angan itu rasanya kini mulai hancur, namun percayalah secerca cahaya yang sebenarnya tak saya inginkan itu kembali bersinar menyinari hati ini kala semuanya di ambang rasa putus asa. Sebab cahaya itu datang untuk memberikan semangat pada saya yang lulus lebih dulu dari pada dia. Cahaya itu tidak lain tidak bukan adalah . . .

“Rakha, liat arah jam dua belas siapa yang datang . .” bisik Dania lirih di telingaku.

“siapa Nii, rame banget masih banyak orang gw ga tau siapa yang lo maksud” bingungku siapa maksud Dania.

“itu yang bawa bunga mawar banyak banget, pake dres warna merah hati, kliatan gak ??” jelas Dania mencoba menunjuk orang yang di maksud.

“mana sih . . mana ?? Nabila ya yang bawa bunga ???”

“duh . . . bukan !! masa ga kliatan sih ??!!! itu loh !!!”

“Nii, jangan samain mata gw yang minus tiga ini sama kaya mata lo yang bisa tembus pandang dong !!! siapa sih !!!”

“mantan lo Kha . . .”

“hah ?? Non . . .”

“iya, Nonik”

Paras yang sudah hampir selama satu bulan ini tak pernah saya lihat, kini bersemi kembali di depan wajahku. Memandangku penuh haru seolah masih saja hati itu tak ingin melepaskanku pergi dari Brawijaya atau bahkan pergi dari jeratan hatinya. Dengan sendu Nonik berucap selamat pada saya. Dan kususnya untuk saya, seikat bunga mawar itu di berikannya pada saya sebagai ucapan selamat.

“Kha, selamat yah udah jadi sarjana” ucap Nonik lirih terpaku di depanku.

“iya Non, makasih ya bunganya. Kamu ama siapa di sini ??”

“sendirian aja kok, tadi datengin acara wisuda temen di jurusan laen. Trus keinget kamu kalo tahun ini wisuda juga jadi aku sempetin mampir aja. Ga ganggu kan ???”

“oh . . ya enggak lah. Ini acara udah kelar kok. Barusan juga foto ama anak – anak”

“ng . . . Nabila mana ?? kok kayanya dia ga ada ??”

“Bila . . . ng . . . anu, dia . . . lagi ada perlu bentar. Ga lama juga balik kok”

Sesaat kami masih terpaku satu sama lain, tiba – tiba saja tukang foto yang telah kehabisan konsumen itu mulai merengek meminta jadwal foto senjutnya yang tadi sempat saya tunda sebentar karena perihal menunggu seseorang.

“mas, mana temennya yang di tunggu ?? udah dateng belom ?? ini saya mau ada pindah ke tempat laen buat motret lagi nih !!”

“anu mas, bentar lagi, . . masih di jalan katanya”

“lah ini siapa di depan mas, ini ya temennya ?? yaudah sini pose depan background saya ambil gambarnya” tangkas tukang foto itu sambil memposisikan saya dan Nonik.

“lah mas, tapi . . . aduh !!” kacauku berucap lirih.

“mbak, bunganya agak di naikin ke atas ya, trus lebih mepet lagi. Satu, . . dua, . . ti . . .”

Sesaat tukang foto itu tak jadi mengambil foto kami berdua karena sesuatu.

“mas, mepetan lagi dong !! masa sama pacar sendiri malu gitu !!”

Sumpah saya masih ingat betul siapa nama tukang foto sotoy satu itu. Namanya Darmaji, gigi ompong sebelah kiri. Rambut jabrik bak orang tersengat listrik. Jika saja tak ada Nonik di samping saya waktu itu, asli sudah saya tampol itu tukang foto sampe goblok jadi kawe lima terus saya buang ke tanah abang.

“cieeeeeeeeeeeeeeeeeh . . .foto ama Nonik euy !!” celetuk Doni menggoda dari jauh.

“ga ada Bila, Nonik pun jadi. Mes, ga usah sungkan, peluk ajah mumpung macannya ga adah !! Hahay !!” imbuh Stevy kompakan.

Hingga acara yang sebenarnya tak pernah saya inginkan ini pun terjadi, tukang foto itu mulai berkemas sebab akan pindah tempat untuk acara foto selanjutnya bersama konsumen yang lain. Dengan ini saya hanya bisa pasrah saat kulihat alat – alat foto itu mulai gulung tikar dari lapaknya. Berbalut kecewa yang termat sangat, saya mulai beranjak pergi meninggalkan acara itu penuh perasaan kecewa. Namun tuhan maha bijak, tuhan masih baik kepada saya. Sebab meski terlambat, Nabila datang dengan terangah memanggil namaku begitu keras hingga terdengar di seluruh penjuru acara. Meski sedikit malu, namun saya tetap senang. Sebab, Nabila di sini tak sendirian.

“aku belom dateng kok udah mau pergi aja sih kamu !!!” kesal Nabila sambil membenahi nafasnya yang terengah.

“udah tiga jam aku tunggin kamu Bil !!! ini tukang foto yang aku sewa sampe udah cabut. Sekarang gimana kita mau foto coba !!!” kesalku beradu pada Nabila.

“jangan marah dulu Kha, Nabila ga bego kok” bisik Dania di belakangku.

“kenapa mang ???”

“ituh dia bawa tukang foto sendiri. Wkwkwkwkwk, sumpah cerdas kali itu Nabila. Ada aja otaknya. Hahaha !!!” tahan tawa Dania sambil menjauh dariku.

“napa bingung sih buat foto doang, nih aku bawain pawangnya tukang foto, mo jepret sampe jelek aku udah siap ini”

“hahahaha . . . kamu makin cantik aja deh Bil kalo gini” manjaku pada Nabila.

“PAK KOK DIEM !!!” bentak Nabila pada tukang fotonya.

“eh iya mbak maap . . keasikan liat mbak sama masnya sih. hehehhee”

Dan dengan ini, semuanya terbayar. Berpuluh jepret telah saya kususkan untuk berdua bersama Nabila. Ada banyak pose yang kami abadikan saat itu. Mulai dari pose formal, romantis bahkan pose women on top juga saya abadikan loh. Nah lo kumat lagi kan . . .

“Bil, selamet yah” celetuk seseorang lirih di punggung Nabila.

“eh iya, . . siapa ya” balik badan Nabila melihat sosok tersebut.

“loh Nonik, kamu di sini juga . .” kaget Nabila berada di sampingku.

“kok ngucapin selamat buat aku, bukannya Rakha yang mestinya dapet ucapan selamat ???”

“udah kok tadi, buat kamu pokok ya selamat aja deh”

“yah jangan gitu Nik, ambigu gitu kalimatnya. Tapi makasih lo ya . . btw udah foto sama anak – anak belom ??”

“udah kok, yaudah aku balik dulu ya”

“ee . . .e . . .eeeh tunggu Nik”

“iya . . . apa Bil ???”

“aku mau bilang sesuatu sama kamu”

“apa . . bilang aja”

“aku mau minta maaf sama kamu Nik. . .”

“maaf . . ?? buat apa ??”

“buat semuanya . . .”

“yah jangan gitu Bil, ambigu gitu kalimatnya”

“maafin kesalahan Rakha kalo selama jalan sama kamu dia punya salah. Maafin aku kalo selama kamu jalan sama Rakha jadi terusik karena aku. Sebenernya ini bukan kemauanku atau kemauan Rakha buat nyakitin kamu. Tapi aku sama dia udah ga bisa boongin perasaan masing – masing lebih jauh lagi”

“oh untuk itu kata maaf kamu, . . .”

“iya, kamu marah ya sama Rakha, atau marah sama aku ??”

“gak kok, aku cuma ga bisa maafin diriku sendiri aja kadang”

“loh, kenapa kamu malah ga bisa maafin dirimu sendiri ??”

“semua itu berawal dari kata seandainya Bil’

“Seandainya ????”

“seandainya saat itu aku gak nantang Rakha buat tarohan, mungkin aku gak bakal sesayang ini sama dia. Seandainya kamu gak balik dari Austria, mungkin saat ini aku masih bisa sejenak berada di samping Rakha lebih lama lagi. Seadainya orang yang Jovan maksud untuk gantiin posisinya adalah aku, mungkin saat ini Rakha akan lebih memilih mempertahanin aku apapun yang terjadi. Dan seandainya, aku datang di kehidupan Rakha sedetik lebih cepet dari kamu, aku yakin saat ini pasti bisa di sisi Rakha selamanya. Tapi sayang . . . semua itu cuma sebatas kata seandainya yang gak pernah bisa di perbaikin keadaannya. Penyesalan itu kadang membuatku ga bisa maafin diri ini yang udah terlanjur jauh masuk dalam kehidupan Rakha. Meski pada akirnya aku ga tau arah kemana untuk jalan, seenggaknya Rakha udah ngajarin dua hal sama aku . . .”

“ dua hal ????”

“Rasa sakit dan Kasih sayang. Cuma itu yang masih tersisa saat ini. sakit karena gak bisa lagi berada di sisi orang yang aku sayangi, dan lewat dia aku tau gimana caranya nyayangin seseorang sepenuh hati meski awalnya gak ada rasa sedikit pun”

“maaf ya Non, maaf banget aku gak ada maksud kaya gitu sebenernya. Aku ga tau harus ngomong gimana lagi sama kamu selaen maaf, smoga kamu gak benci sama Rakha atau aku. Harapanku kamu cepet dapet yang lebih baik dari Rakha ya . . .”

“yang lebih baik dari Rakha itu banyak Bil . . banyak banget malah. Tapi sebaik – baiknya orany yang gantiin posisi Rakha kelak, belum tentu bisa jamin kalo aku bakal ngerasa senyaman waktu bersama Rakha dulu. Hal yang mesti kamu tau di sini, kita pacaran bukan nyari yang lebih baik dari sebelumnya atau naikin standar dari matan yang udah – udah. Tapi bagiku pacaran itu yang di cari cuma satu . . .”

“RASA NYAMAN !!!”

“itu harga mutlak yang ga bisa di bayar dengan apapun. Sekaya apapun, seganteng apapun dan sepefect apa tunangan kamu saat ini, kalo kamu ga ngrasa nyaman sama tunangan kamu, apa yang kamu rasain ???”

“KOSONG kan . . .”

“aku titip Rakha sama kamu, jadi istri yang baek untuk dia kelak. Meski kadang pola fikir dia masih suka kekanak – kanakan, aku yakin kamu bisa melengkapinya dengan sifatmu yang dewasa dan pengertian. Moga bahagia sama Rakha, cuma ucapan selamat ini yang bisa aku kasih ke kamu kalo nanti udah berada di sisi Rakha selamanya . . .”

Nabila tak mampu berkata apa lagi, bibirnya membisu memandang Nonik yang perlahan pergi menjauh dari hadapannya. Seketika kuhampirir Nabila yang terlihat rapuh hatinya karena perkataan Nonik. Mungkin semua yang di ucapkan tak begitu menyakitkan hati, namun saya tau bahwa Nabila saat ini pasti membayangkan bagaimana jika berada di posisi Nonik. Tentu sakit bukan main kala bibir itu harus berpura – pura tegar untuk menyampaiakan kata selamat kepada orang yang kita sayangi di depan seseorang yang mereka cintai. Dengan mendekap bahu itu begitu erat, kuharap Nabila sadar, apa yang telah Nonik lepaskan untuknya, dapat ia syukuri dan ia pertahankan selamanya.

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 397 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya