Cerita Cinta – Chapter 12. Belajar ala Jovanda

Chapter 12. Belajar ala Jovanda

 

Ujian UAS sudah ada di depan mata, seperti halnya mahasiswa lainnya, tentunya saya belajar segiat mungkin cari refrensi buku sana sini agar dapat nilai yang memuaskan. Sepeninggal dari caffe tempat bermalam minggu dengan sodara –sodara saya, maka kami pun berpisah tanpa melakukan kontak apapun sampai bertemu di bangku UAS sebagai pertemuan pertama kami.

Maka waktu 3 hari sebelum ujian, seringlah saya habiskan di perpus kota untuk sekedar membaca dan mencari referensi tentang teori yang sering bermunculan di matakuliah Sosiologi. Namun di sini saya tak sendirian sodara, perlu di ketahui bahwa putri orang no 1 di jurusan, tengah ikut belajar bersama saya.

“kha, btw punya buku pengantar Sosio gak ??” sms Vanda bertanya.

“gada jo, ni aku mw otw puskot (perpustakaan kota) buat nyari bahan bacaan” jelasku.

“eh, nebeng dong. Aku jg mw nyari refrensi nih” pintanya.

“oke, 15 menit lagi aku otw” balasku.

“eh, gausah kesini Kha, aku aja jemput kamu. Tnggu dpn kosan aj y. aku uda d jlan ko” ternyata dia sudah meluncur sodara.

Jujur saya katakan, tawaran Jovanda sedikit membuat saya gugup. Dia satu – satunya wanita yang dengan suksesnya berhasil membuat saya salah tingkah ketika di dekatnya. Bagaimana tidak ?? buah si malakama belum hilang dari otak saya. Belum lagi jika diri ini tanpa sadar berfantasi tentang Jovanda.

Bisa basah ini celana.

“Din, Din,” klanson mobil Jovanda menyadarkanku.

“ko bawa mobil Jo, apa ga sempit masuk gang begini ??” saya sedikit heran.

“lha aku ga punya motor Kha” WATDAFAAAAAAK jawaban itu menusuk telinga.

“yuadah langsung k puskot aj Jo, tau kan” jawabku to the point.

“ga tau sih, tp kan ada Google Maps” astaga tepok jidat !!

Sesampai di puskot, maka langsunglah saya mencari bangku kosong guna membaca buku. Terlihat Jovanda langsung asik masuk ke dalam lorong kumpulan buku – buku sosial di susun. Satu dua buku dia ambil, sedangkan saya masih mengurus administrasi. Ya, ini memang kewajiban seorang laki – laki.

“uda dapet bukunya ??” sambil duduk tanyaku padanya.

“udah kha, nih” sembari tumpukan buku itu di letakkan di atas meja.

“wih, bnyak bnget Jo, mang kamu faham n mau baca sebanyak ini ??” saya memastikan Jovanda.

“ni bukan buku teori smua kok Kha, ada buku fashionnya jugak nih. Hehehe” dari 7 buku yang dia usung, 2 diantaranya adalah buku teori, selebihnya sodara tebak sendiri.

“kapan pinternya Jo kalo sambil baca ginian, hadeeh” saya menghela nafas.

“sini aku baca buku teorinya, kamu baca yang menurut kamu seneng aja”
saya mulai mencari beberapa pendapat tentang teori Sosiologi.

Satu dua jam tanpa terasa saya habiskan untuk membaca, punggung ini letih rasanya ingin di istirahatkan. Sambil duduk santai, saya coba rebahkan punggung ini di sandaran kursi. Saya lirik ke arah Jovanda sesaat.

“udah Kha bacanya, transferin ilmunya dong, hehehe” Jovanda menyadari tatapan saya.

“kamu dapet apa coba, katanya belajar, malah baca fashion” saya geleng – helng kepala di buatnya.

“sbnernya aku kurang tuh suka bljar dg cara membaca, aku lbih cpet ngerti di jelasin langsung gitu kha” jelasnya.

“lah trus tadi mo ngkut ke sini ngapain coba ??” tanyaku penasaran.

“ya ttep bljar, cuman di jelasin sama kamu gitu, tapi jangan di sni ya kha, pindah tempat sambil nyari udara yuk” sembari ia memelas.

“emg di sini gada udara apa, nih aku bisa napas, aneh kamu ni Jo” sambil kubaca lagi buku teori.

“klo itu aku jg tau Rakhaaaaa, mksdnya nyari suasana laen gitu, kamu ni yang aneh, ayok ah” manja pintanya padaku.

Karna ini satu wanita banyak requestnya, maka saya hanya iya – iya saja di bawanya, Asal tak di bawa mati saja sodara. saya sebagai penumpang yang baik, tentunya akan ikut kemanapun ia pergi, maka di tawarkan beberapa tempat yang ingin ia kunjungi.

“Kha, ini kita ke McD aj ya ??” usulnya seketika.

“ng, tempat laen aj Jo”

Di akir bulan seperti ini, datang ke McD hanya untuk mencari udara, adalah suatu yang sangat mematikan. Bagaimana tidak, udara di sana paling murah di bandrol dengan paket hemat seharga 25 ribu perorang. Lebih baik saya menghirup baygon saja sodara.

“yauda KfC aj y Kha” usulnya tak jauh beda.

“itu mah sama aja Jo, tempat yang banyak pohonnya gitu keg, ini kita mo kuliner apa belajar sih” saya mulai heran ini dengan ide – ide jovanda.

“iya jg sih ya, oke aku ada tempat yang enak” dasar polos benar ini wanita. Idenya kali ini cukup aman bagi saya sodara, pasalnya tak saya dapati penjual kaki lima, pedagang cilok atau apapun hal sejenisnya yang bersifat menyedot saldo dompet saya. Oke lah saya turun dari itu mobil bekas di parkirnya. Sebentar saya amati, ini adalah daerah Dieng. Dimana tempat ini menyajikan panorama alam yang indah di tengah kota malang. Maka bergegaslah saya mengikuti gerak Jovanda.

“Kita mo nyari tempat dimana ini jo ??” saya mencoba bertanya.

“itu Kha, kita masuk portal itu dulu” terlihat Jovanda masih sibuk menata rambut.

Kenapa harus portal ?? setau saya, dimana ada portal, maka tak jauh disitu berdirilah seorang petugas penarik karcis. Kampret ini jebakan jovanda !! alamak anak mu ini miskin punya kalo harus pergi bersama jovanda.

Tentunya sodara tau siapa saya, orang yang tak pernah tega melihat wanita mengeluarkan kocek untuk pergi keluar bersama seorang laki – laki. Maka dengan amat sangat berat hati, mencretlah dompet saya di buatnya. Serasa diaere 3 hari tiga malam, tak mau henti – henti dompet ini terasa panas dingin ketika melihat wajah petugas portal dengan bulu kumis selebat hutan Amazon.

“ini dek tiket masuknya” dengan senyumnya yang lakik banget, petugas itu menyodorkan tiket masuk kepada saya.

“ini Kha, pake uang aku aja” sahut Jovanda.

yang benar saja sodara, di depan petugas portal masa saya harus terima itu uang dari dompet Jovanda. Mau di taruh dimana muka saya.

Maka, langkah pertama cabut itu dompet dari saku pantat saya. Sungguh susah sodara, seperti bayi tak mau keluar dari kandung ibunya. Kedua, kubuka itu mulut dompet yang sudah terlentang pasrah seperti hewan qurban tak berdaya. Dan yang terakir, dengan mengucap bismilahhiraoqmaniroqim saya cabut beberapa lembar uang kertas.

Inalilahiwainailaihirojiun, telah kembali dengan tenang sebuah dompet tak bernyawa. Semoga amal ibadah di trima di sisiNYA. Dengn lirih hati ini mengucap, AMIN.

Seusai penyembelihan dompet saya barusan, masuklah saya bersama Jovanda mencari tempat yang enak untuk sharing mengenai persiapan UAS minggu depan. Setelah saya amati dengan seksama, hanya ada saya dan Jovanda yang menjadikan tempat itu untuk tempat berdua. Maklum, dompet adalah taruhannya. Rindang nan sejuk tampat itu adanya, dengan rumput yang terawatt sehat saya tiduran di atasnya, dan Jovanda duduk bersantai di samping saya.

“gimana Kha viewnya ?? tenang, adem, sejuk, rindang, ada suara burung jugak. Sip kan” terlihat itu wajah sumringah Jovanda.

“iya Jo, mahal” wadaw saya keceplosan pemirsa.

“apa Kha, maap gadenger. Barusan baca sms” seraya saya mengucap syukur.

“btw kamu kalo kemana – mana sering sama Fany, Steve n Nabila ya Kha” dengan santainya ia mengunyah snack bawaannya.

“he’em. Kenapa mang ?? saya menatap langit biru.

“kalian tuh kaya ikan sarden aj y Kha, kemana – mana bareng gitu. Emang Cuma 4 orang tapi kompak. Enak ya”

“nah kamu kan biasanya sama komplotan kamu jg Jo, ama Nadia, Ersita, Risla, Nonik trus sapa lagi aku lupa ada 8 ekor ya biasanya”

“tapi mereka itu, rese Kha, ada senengnya doang ngumpul. Lagi susah, mereka gada. Taik banget lah temen kaya gitu. Jadinya aku sering sndri skrang, makanya kan aku ngajak kmu kluar buat bljar bareng”

“owh, jadi gitu alasannya, kamu ini pernah susah jg to Jo jadi orang ??” dengan logat Jawa saya bertanya.

“ya pernah lah Kha” di pukulnya saya dengan jajan snack bawaannya.

“hahaha, lah kapan emang ?? kok wajah kamu tetep cakep gitu kalo susah” saya coba goda dia.

“udah, gausa gombal. Ya misalnya kmren Kha, wktu aku ada masalah sama pacarku. Aku mau curhat, mereka gada. Hiiiih” geram ia mengingat kejadian.

“mank cowo kamu kenapa, ni kita keluar berdua begini kalo cowo kamu tau bisa di bantai tar ??” saya mulai merasa kawatir.

“halah, berani aja mo bantai, orang skrang dia ga punya status apa – apa kok” Jovanda berucap enteng.

“maksudnya ??” saya belom faham sodara.

“ya kita uda putus, dia itu kerjaannya ngekang, cemburuan, posesif, pokok yg jelek – jelek gitu lah” lampu hijau sodara.

“lah kamu kan biasanya juga deket ya ama Nabila, kalian jadian ya. Denger dari anak – anak gitu ??” Jovanda meminta kepastian.

“aku emang deket ama Nabila, tp aku biasa aja Jo ama dia. Jadi dia itu udah aku anggep kaya ade aku sendri gitu”

“owh, jdi yg di bilang anak – anak tu salah dong” sambil ia mangguk – mangguk.

“trus kalo cm temenan ama Nabila knpa Jo, kok kamu seneng gitu ??” saya goda itu Jovanda.

“iiih, inggak lah Kha. Biasa aja kali. Kamu ni mikirnya kejauhan. Masa aku suka ama kamu siih” jawabnya salah tingkah.

“aku ga bilang lo Jo kalo km suka sama aku. Hayo looo” saya pojokkan dia sodara.

“iiiiih Rakha apaan seh, jangan sotoy napa !!” sambari tangnnya mengocok tubuh saya.

Jadilah sore itu kami berbincang satu sama lain. Tak terasa saya bisa dekat dengan jovanda. Putri orang no 1 di fakultas, sedangkan teori yang saya dapat kala itu adalah, teori bagaimana melihat feedback seseorang yang sudah merasa dekat dengan kita. Sedangkan teori sosiologi, nanti dulu sajalah.

 

Created BY : rakhaprilio KASKUS

(Dikunjungi 537 kali, 1 kunjungan hari ini)

Leave a Reply

  • Poker Online Terpercaya